Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2018

Ini Dia Lima Fakta Tentang Diriku

21.17 0 Comments

Rasanya aneh ya mengungkap Lima fakta tentang diri sendiri. Jujur saya sebenarnya ingin dianggap misterius, namun demi tantangan kali ini saya akan beberkan fakta tentang diri saya.

Plis sebelum baca ini siapkan kantong kresek. Mana tahu kan muntah pas baca di tengah paragraf.

1. Gadis Desa

Tidak banyak yang tahu kalau saya berasal dari Desa. Tahunya saya ini berasal dari kota seperti tempat tinggal tinggal mereka. Padahal ya saya masih merasakan sewaktu tidak ada listrik. Ke sekolah naik sepeda karena tidak ada angkot, dan lainnya.

Namun meskipun tinggal di desa tapi tetap rasa kota lho ya. Soalnya desa saya itu strategis. Dekat ke Solo maupun ke Jogja. Ngemall juga nggak payah asal nggak pulang malam-malam.

2. Kembang Desa

Hahaha narsis habis kalau ini ya.... Tapi ini fakta. Yah namanya juga gadis, ibarat bunga pasti banyak kumbang yang datang. Tapi akhirnya ya cuma satu yang bisa memenangkan si bunga.

3. Usil

Tidak banyak yang tahu kalau saya sebenarnya usil. Pernah suatu hari sengaja membuat keributan supaya diperhatikan ustadz. Pernah juga ngerjain bapak yang lagi asyik potong jenggot.

Pokoknya kalau ide-ide usil selalu aja lancar bermunculan di kepala. Rasanya ini adalah gen yang diwariskan. Karena bapak termasuk agak usil juga dan kini saya punya bocah yang super usil hahaha.

4. Punya Mimpi ke Luar Negeri

Ini mimpi terpendam sebenarnya. Pengen merasakan jalan-jalan ke luar negeri. Nggak muluk-muluk sih ke Singapura juga OK.

Waktu gadis dulu pernah merencanakan perjalanan ke luar negeri bersama ortu. Tapi gagal soalnya udah keburu nikah. Sekarang mau ambil kuliah S2 keluar negeri mikirnya seratus kali. Apalagi buntut udah tiga, gimana nasib mereka nanti?

5. Tidak Suka Sayur

Kalau kata para ahli sayur sehat dan baik dikonsumsi anak-anak. Maka saya adalah salah satu yang menolak. Nah ini akhirnya juga berdampak kepada bocah. Lha gimana mau doyan sayur kalau emaknya aja nggak doyan sayur?

Ini juga kayaknya ada turunan genetis. Soalnya si Mbah juga nggak doyan sayur. Padahal Bapak dan Ibu saya suka sayur lho...



Nah itulah lima fakta tentang diri yang tidak banyak diketahui orang. Kalau sudah tahu diam aja ya biar tetap menjadi misteri hihihihi.

Selasa, 17 Oktober 2017

Dunia (Tak) Selebar Daun Kelor

21.36 8 Comments
Credit
Saat itu adalah masa kanak-kanak saya. Yang bagi saya, dunia adalah sekeliling saya. Mulai dari Mbah Karto tetangga sebelah kiri, Mbah Asmo tetangga sebelah kanan, Pakde Har tetangga depan rumah dan lainnya orang-orang yang saya kenal. Padahal zaman itu saya sering ikutan Bapak menonton Dunia Dalam Berita yang isinya perang antara Israel dan Palestina. Tapi bagi saya sesuatu yang tidak betul-betul ada di hadapan saya adalah film.
Sebagai guru sekolah dasar, (alm) Ibu saya dituntut untuk serba bisa. Bisa mengajar Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan bahkan menyanyi. Maka di rumah tersedia buku lagu-lagu nasional lengkap dengan not dan penciptanya.

Lagu yang sering dinyanyikan di rumah adalah lagu Indonesia Raya, penciptanya WR Supratman. Jangan diketawain ya, saya kira beliau ini salah satu murid Ibu saya yang tinggal di kampung sebelah. Kemudian ada lagi Ismail Marzuki, yang saya pikir adalah anak Budhe saya yang sering dipanggil Mas Marzuki. Satu lagi konyolnya adalah Ir. Djuanda pahlawan yang saya pikir adalah anak Pak Haji Yoto.

Habislah saya di bully oleh mas dan Mbak saya. Hahaha saya sendiri aja ketawa kalau ingat itu. Konyol minta ampun sampai-sampai saya tulis disini. Hingga suatu ketika saya telah menginjak SD dan Mas saya SMP, dia berbalik hati membawakan saya ensiklopedia yang berisi gambar pahlawan.
Dari situ saya baru tahu bahwa nama-nama yang saya sebut di atas sebenarnya adalah nama pahlawan. Dari situ pulalah saya juga membaca masa penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Ada banyak darah tertumpah untuk menuju kemerdekaan. Dan hal tersebut kemudian membuat saya bertanya Dunia Dalam Berita itu film atau bukan sih?

Tentu saja tidak akan ada yang sudi menjawab pertanyaan saya tersebut. Tapi Bapak menjelaskan bahwa itu memang terjadi.

"Wah bahaya dong Pak, nanti kalau sampai kesini, mau sembunyi di mana kita?" Bapak cuma ketawa, tapi tidak menjawab.

Ya banyak perang memang ngeri menurut saya. Dari ensiklopedia tadi saya membaca ada banyak perang yang dilakukan bangsa Indonesia untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ada juga perang di masa Rasulullah. Dan kemudian saya melihat perang dari film Mahabarata. Ya ampun tontonan saya....

Hingga akhirnya saya terus menyadari bahwa dunia ini sangat besar. Tidak selebar daun kelor seperti yang saya pikirkan. Makin banyak bertemu orang-orang baru. Makin saya tahu dunia ini sangat luas dan makin saya sadari tak semua sudut dunia bisa saya tempuh. Tapi satu hal yang tidak akan saya lewati, yaitu berkunjung ke sudut-sudut cantik negeri ini.

Rabu, 06 Februari 2013

Tebusan Hadiah

11.26 2 Comments
Sebelum bercerita lebih lanjut, cerita ini adalah kisah masa remaja saya tanpa bermaksud mendiskreditkan profesi tertentu
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Hari Sabtu adalah hari yang kutunggu-tunggu. Ya hari itu adalah hari untuk pulang setelah seminggu bersemedi di kos dan sekolah hehehe. Kebetulan aku yang tinggal di kampung ini disekolahkan oleh bapak ibuku di kota yang kalau tiap hari pulang pergi akan memakan waktu dan energi. Jadilah aku di masukkan tempat kos sama ibu bapakku, yah itung-itung belajar mandiri lah. Kosanku ini kebetulan tidak begitu jauh dari lokasi sekolah, paling jalan kaki sekitar 10 menit. Selain itu ibu kosku yang biasa kami panggil 'Eyang' adalah ibu kos yang disiplin dan super ketat, tapi itu bukanlah masalah bagiku soalnya aku kan anak baik-baik hehehe.

Terminal klaten , pinjam foto dari sini
Dan hari sabtu pun aku pulang naik oplet yang ditempatku disebut 'kol' sampai ke terminal klaten. Dari terminal Klaten aku naik lagi bus jurusan ke solo yang di kaca depannya tertulis 'Jogja-Solo' sampai di Delanggu aku turun di tempat yang namanya perempatan 'Gotong Royong'. Nah dari perempatan situ baru aku naik angkot yang lewat gang depan rumahku, turun dari angkot jalan kira-kira 100 meter sampailah aku di rumah. Kebayang kan ribetnya kalo aku harus tiap hari berutinitas seperti itu.

Sampai di rumah rasanya pengen banting tasku yang berat ini. Gimana nggak? udah capek-capek pulang di rumah nggak ada orang. Kunci juga nggak dititipin, akhirnya aku duduk lemas di samping rumah yang kebetulan ada kursinya. Jaman itu aku belum dikasih HP sama ortuku, jadi ya daripada duduk bengong akhirnya aku ngerjain LKS (Lembar Kerja Siswa) hingga ada seorang tamu datang.

" Permisi mbak" kata seorang lelaki di teras rumah. Bajunya rapi dengan atasan berwarna putih dan celana hitam menenteng sebuah tas dan beberapa produk di tangannya. Aku tahu dia adalah seorang s*les. Dengan agak malas aku menghampirinya.

" Waduh Mas Bapak Ibu saya nggak ada" Jawabku, berharap orang itu segera pergi, tapi...

"Oh nggak pa pa, sama Mbak aja deh." katanya, jujur saat itu aku bingung gimana lagi ngelesnya karena di rumah nggak ada orang lain selain aku.

"Saya mau kasih kuis nih mbak kalo mbak bisa jawab dengan benar nanti dapat hadiah lho." katanya saat melihatku bengong.

"Ya udah deh." jawabku senang karena akan mendapat hadiah.

"Oke ini pertanyannya, negara mana yang menjadi kiblat parfum dunia." tanyanya. hadeuh pertanyaan ko susah begini sih kalo kiblat fashion aku tahu lah kalo parfum, baru denger.

"Amerika." jawabku ngasal.

"Yeay mbak bener dan berhak mendapatkan parfum dan compact powder ini seharga dua ratus enam belas ribu rupiah bisa ditebus dengan lima puluh ribu rupiah saja."

Pertamanya aku terkejut saat ni mas mas heboh gitu, terakhirnya agak kecewa dapet hadiah kok bayar, tapi entah kenapa ya waktu itu aku mau aja bayar lima puluh ribu rupiah itu yang di saat itu adalah uang yang sangat besar bagiku (tahun 2002). Lima puluh ribu adalah sebagian uang saku bulananku dan tiba-tiba menjadi sebuah parfum dan compact powder.

Begitu si mas mas ini pergi tiba-tiba aku baru sadar. Buat apa coba hadiahnya tadi kutebus toh kalo nggak ditebus juga gak bakalan kenapa-kenapa. Lagian pertanyaan kuis yang nggak banget masak ya kujawab juga sih. Duh bodoh amat aku ni ya. Lagi merenungi nasib sialku Bapak tiba-tiba mengejutkanku.

"Udah lama nduk."

"Iya udah dari tadi, lagian pada pergi nggak ninggalin kunci sih." jawabku jutek.

"Owh kirain pulang sore." jawab Bapak enteng.

Tak lama kemudian ibu pulang.

"Kenapa cemeberut gitu?" tanyanya.

"Abis kena tipu." jawabku ngasal. Bapak dan Ibuku sontak kaget mendengar jawabanku.

"Kena tipu apa?" tanya Ibu terheran-heran.

Kemudian aku ceritakan kronologinya seperti apa, sebenarnya aku takut kena marah tapi karena rasa sebel dan marahku lebih besar maka rasa takut dimarahipun luntur. Namun di luar dugaanku Bapak dan Ibuku tertawa.

"Ya udah anggap aja itu pengalaman. Pengalaman mahal harganya lho." kata Ibuku.

Iya sih pengalaman nggak akan ternilai dengan uang lima puluh ribu rupiah. Dan akhirnya Ibu mengganti uang lima puluh ribu rupiahku itu, compact powdernya beliau yang make sementara parfum dipakai oleh Bapak. Tapi kejadian itu sungguh membuatku penasaran dengan harga kedua barang tersebut, walhasil tiap ke mall pasti kucari harga compact powder dan parfum itu. Harga compact powdernya gak ketemu sih cuma harga parfumnay waktu itu kisaran 50-60 ribuan.

Tiba-tiba tadi malam ingat aja gitu kejadian ini dan kesimpulannya adalah : " maklumlah gue ketipu waktu itu kan gue belum lulus SMA, kalo dia kan udah lulus SMA."

Selasa, 08 Januari 2013

Dua Puluh Lima Ribu

11.36 2 Comments

Kejadian ini membuat saya sangat terharu

Siang itu, sekitar tahun 2010, seperti biasa saya sedang asyik tanya-tanya mbah google karena dikasih kerjaan dari pak kepala bidang. Waktu asyik-asyiknya berjibaku dengan kompi tiba-tiba atasan langsung saya menghampiri dan berkata beliau kemarin mendapat honor dari menghadiri pers release dan kini membaginya untukku, fifty fifty gitu.

Aku terkejut, uang pers release itu kan nggak seberapa. Hanya lima puluh ribu rupiah dan beliau membaginya denganku sehingga kami masing-masing mendapat dua puluh lima ribu rupiah.


Kamis, 13 September 2012

Bagasi yang Tertinggal

12.12 1 Comments
Mudik lebaran tahun ini terasa sangat berbeda bagiku. Bagaimana tidak, di tahun-tahun sebelumnya aku mudik lebaran sendirian sedangkan kali ini aku mudik bersama suami dan anak tercintaku plus kakak beserta keluarga kecilnya dan adik iparku. Selain itu kali ini merupakan kali pertama kami menginjak bandara yang baru saja dibangun di Riau yaitu Bandara Sultan Syarif Kasim II.


Perjalanan mudik relatif lancar dan aman, karena kami 'pulang kampung' sebelum puncak arus mudik. Yang apes adalah perjalanan balik. Bukan karena macet, bukan karena mobil mogok, bukan pula karena pesawat delay apalagi tertukar kereta seperti yang dialami millati. Tetapi bagasi kami yang berjumlah 14 item (banyak banget yach...) tertinggal di Bandara Soekarno-Hatta. Lha kok bisa?

Perjalanan udara dari Jogjakarta ke Pekanbaru melewati tiga bandara yaitu Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta; Bandara Soekarno Hatta, Jakarta dan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Saat itu transit di Jakarta berlangsung begitu cepat. Kami baru masuk ruang tunggu rupanya lansung disuruh antri naik pesawat. Alhamdulillah pesawat mendarat di Bumi Lancang Kuning dengan selamat walaupun pilot menggunakan istilah yang tidak lazim "Bandara antar bangsa" (sumpah loh kirain nama bandara ganti, ternyata itu artinya bandara internasional hehe).

Antrilah suami dan kakak iparku menunggu bagasi. Sedangkan aku bersama istri kakak iparku dan anak-anak lansung meluncur keluar untuk cipika cipiki dengan ibu. Setelah lama menunggu, hingga akhirnya penumpang yang mengambil bagasi habis suami dan kakak iparku tidak muncul juga. Tiba-tiba perasaan saya tidak enak terlebih melihat mereka keluar tanpa membawa barang.

"Lho mana barangnya?" tanyaku.

"Nggak ada tinggal semua." kata suamiku lemas. Katanya barang kami akan dibawa dengan pesawat berikutnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, sedangkan pesawat berikutnya akan tiba pukul 17.26 WIB. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu karena di dalam bawaan kami ada beberapa barang yang busuk kalau menunggu besok untuk diambil.

Menit-menit terasa lama, hingga akhirnya pukul lima disaat penantian kami sudah dekat diumumkanlah kalau pesawat yang kami tunggu mengalami delay dan akan mendarat pada pukul 18.10 WIB. Kesel banget rasanya, dan sempat kepikiran masih bagus ya kalau kami kena delay pesawat daripada ketinggalan bagasi kayak gini. Kalau delay setidaknya kami masih mendapatkan dispensasi, tapi kalau ketinggalan bagasi? Yang dapat cuma nunggu.

Waktu memang terus berjalan hingga akhirnya pesawat yang kami tunggu tiba. Tapi lagi-lagi ada masalah. Jumlah bagasi kami yang seharusnya 14 item cuma ketemu 13 item. Duh bikin cemas aja tuh. Sampai akhirnya bagasi habis satu barang itu tidak ditemukan juga. Laporlah suami saya sama petugas bandara, eh rupanya sudah disimpanin sama dia. Syukurlah ketemu semua yah walaupun perjuangannya cukup panjang.

Lega akhirnya kami bisa pulang, eits tidak semudah itu....

Barang kami yang super banyak dan orang yang banyak pula tidak memungkinkan untuk dimasukkan mobil semua. Akhirnya ya sebagian berang ditaruh diatas mobil jadi penumpangnya muat masuk ke mobil. Dan dren dren.... kamipun pulang. Perkiraan sebelum maghrib sampai rumah ini malah sampai jam 22.00 WIB baru sampai rumah.

Benar-benar terkesan saya. Tidak pernah mudik dengan rombongan 8 orang dan bagasi sebanyak itu (saya biasa mudik sendiri dan seringnya tanpa bagasi), ditambah pula bagasi yang tertinggal. Semoga gak ada kawan pembaca yang bernasib sama seperti saya, karena menunggu itu melelahkan.

Rabu, 01 Agustus 2012

Obat Nyamuk, Bukti Kasih Sayang Bapakku

11.31 3 Comments
Sore itu aku marah. Entah kenapa pokokknya lagi sensi banget sama si masku, kakakku yang nomor dua. Karena anak laki-laki satu-satunya masku itu rasanya paling disayang, paling dimanja dan kami anak perempuan selalu dinomorduakan. Seperti hari ini, ibu bikin mie rebus tapi yang disuruh ambil duluan si mas padahal aku kan juga lapar.

Akhirnya aku marah, ngambek sampe mogok makan.

Aku lari masuk kamar, NANGIS!. Ya nangis sejadi-jadinya. Melupakan semua rasa lapar yang mendera karena kecewa. Aku marah benci di nomorduakan padahal kan aku anak bungsu (kejadian ini terjadi di usiaku yang menginjak 6 tahun sebelum adikku lahir). Setahuku dimana-mana anak bungsu itu paling disayang dan dimanja. Tapi aku tidak.

Aku kembali menangis. Tak berapa lama suara ibu terdengar memanggil, menyuruhku makan.

Aku diam dalam pelukan guling. Eh salah aku diam sambil memeluk guling memunggungi ibuku yang mencoba merayuku. Percuma bu, kataku dalam hati, aku tidak akan luluh.

Aku diam tidak merespon rayuan ibuku. Beliau bilang beliau mau suapin aku, mau ambilkan makanku. Tapi aku tetap diam tak bergerak hingga akhirnya kesabaran ibuku habis. Beliau marah padaku. Akupun marah padamu bu, kataku dalam hati. Saat itu betapa puasnya aku bisa membikin ibuku marah dengan berlaku seperti itu. (nakal banget yak). Biar saja biar ibu tahu bahwa aku benar-benar marah.

Mungkin karena capek merenung dan menangis akupun tertidur. Rasa lapar yang mendera terlupakan sudah. Akupun tidak tahu jam berapa aku tertidur. Tapi yang jelas malam saat orang-orang masih terjaga (Bapak, Ibu, Mbakku yang nomor satu dan Masku) aku terbangun karena mengendus bau obat nyamuk bakar.

Pasti ni kerjaan Bapak, kataku dalam hati. Bapak memang rajin kalau menyalakan obat nyamuk, semua kamar diberi obat nyamuk, padahal aku paling anti yang namanya obat nyamuk apalagi obat nyamuk bakar. Baunya nggak tahan.

Kemudian aku turun dari tempat tidue dan mematikannya. Setelah itu aku tidur lagi.

Entah berapa lama aku tertidur. Kali ini si Mbak dan Masku sudah tidur, aku kembali mengendus asap obat nyamuk. Duh bapak ko dinyalain lagi sih, kataku dalam hati. Maka kembali aku turun dari ranjang dan mematikan obat nyamuk tersebut. Setelah itu aku kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurku. Tapi belum terlelap Bapak masuk kamar. Beliau mengecek obat nyamuk yang kumatikan tadi. Rupanya obat nyamuk tersebut beliau nyalakan lagi, kemudian beliau keluar kamar dan menonton TV. Dan kali ini obat nyamuk tersebut tidak kumatikan karena itu adalah bukti kasih sayang Bapakku yang tidak rela nyamuk menggigit anaknya.

Kini setelah menjadi seorang Ibu aku baru tahu betapa risaunya aku kala melihat bagian tubuh anakku bentol-bentol digigit nyamuk. Rasanya tidak rela melihat anakku sampai terjamah olah nyamuk. Berarti orang tuaku dulu juga kayak aku sekarang ya, makanya biar obat nyamuk sudah kumatikan dua kali tetap dinyalakan Bapak lagi karena beliau tidak rela tubuh anaknya bentol-bentol digigit nyamuk.

Terima kasih Pak, terima kasih Bu.


Kamis, 12 Juli 2012

Kalimat Terlarang

10.52 3 Comments
Suatu ketika ada jargon sebuah iklan obat sakit kepala berupa kalimat "Udah lupa tuh". Dan itu merupakan iklan yang cukup sering ditayangkan di televisi.

Aku yang saat itu masih ABG dan ingin menjadi trend center menirukan jargon tadi. Ajaib semua orang rumah suka dan aku telah dianggap membuat lelucon yang menarik. Tentu saja aku senang apalagi orang-orang sering menyuruhku mengucapkan kalimat itu persis seperti model iklannya. Semua memujiku mirip, persi kata mereka.

Hingga suatu hari, kalimat lelucon itu kugunakan disaat yang tidak tepat sehingga aku tidak dapat lagi mengucapkan kalimat tersebut.

Semua berawal dari bapakku. Orang yang pertama kali tertawa mendengarkan aku mengatakan "Sudah lupa tuh" persis seperti model iklannya. Pulang dari kantor rupanya bapakku sedang mencari sesuatu. Kemudian beliau bertanya padaku dimana barang yang beliau cari. Dengan maksud bercanda dan daripada berkata "Nggak tahu" , yang kata ibu adalah jawaban yang membosankan, maka kujawab "Sudah lupa tuh".

Memang  sih rada aneh dan nggak nyambung jawabanku itu. Tapi itulah terakhir kali aku mengucapkan kalimat tersebut. Karena bapak sedang serius mencari barangnya, marah besarlah beliau padaku.

" Ditanya orang tua malah dijawab kayak gitu. Mulai sekarang jangan gunakan lagi kalimat itu! Gak sopan!"

Aku hanya diam membisu. Mundur teratur menjauhi bapakku dan tidak lagi menggunakan kalimat terlarang itu baik di rumah dan dimanapun juga.

Rabu, 27 Juni 2012

Galeri: Seserahan Penganten

16.11 3 Comments
Nemu foto-foto lama, seserahan yang kususun sendiri berhubung waktunya mepet jadinya ya kayak gini. Tapi kalo ada yang terinspirasi duuuh seneng banget deh.

Ini sebenarnya mahar nih bukan seserahan, mukena sama sajadah wangi hihihi

kakak perempuan pertamaku yang nyusunin nih peralatan mandinya kayak parcel lebaran yach

entah sesuai dengan etika dan estetika atau gak nih sendal ditaro model begini

Kalo yang ini aku sendiri yang nyusun, padahal sebenarnya gak ada di list seserahan masalah buku, cuma emang dasarnya hantu buku akhirnya aku minta seserahan berupa buku Tafsir

Finalisasi sama si abangku yang no dua jadi kayak hiu terdampar di kasur nih

Ceritanya menghemat tempat jadi satu tempat untuk dua sepatu

supaya tidak terlalu nampak kalo ini isinya pakaian dalam maka bunganya disebar di mana-mana

kosmetik-kosmetik ini sampai sekarang masih lho

yang jadi bunga putih itu adalah bungkus tas ini, si mbak ada-ada saja idenya

kain buat nenek, di jawa namanya pesing

entah bebek entah burung, pokoknya yang penting handuk ini jadi milikku

kain kebaya plus bawahan plus selendangnya n plus kain untukku

Rabu, 30 Mei 2012

Gara-gara Sandal Jepit

10.35 8 Comments
Pengalaman ini sebenarnya cukup memalukan andai saja saat itu aku sudah menginjak remaja, tapi berhubung kejadian ini terjadi pada masa kanak-kanak aku hanya berharap mereka sudah lupa pada kejadian ini.

Lho disuruh lupa ko malah mau diceritain?

Eh iya ya...hehehe. Gimana ya...kejadian ini walaupun memalukan tapi kadang buat aku tertawa-tawa sendiri jadi siapa tahu ada yang senyum-senyum sendiri waktu baca cerita ini.

Langsung ke TKP ya....

Begini ceritanya, waktu aku masih belajar di Taman Kanak-Kanak atau yang lebih sering disebut TK aku termasuk anak yang berangkatnya siang. Siang disini maksudnya berangkat standar, bukan berangkat pagi-pagi yang belum ada bu gurunya. Maklumlah guruku di TK kan tanteku sendiri, jadi tiap pagi bapak mengantarku ke rumah tanteku itu barulah aku dibawa tanteku ke TK. Berhubung tanteku guru disitu jadi beliau berangkatnya ya pas murid-murid sudah pada datang. Zaman dulu gitu loh anak-anak sudah berani kemana-mana sendiri hihihi.

Tapi entah kenapa pagi itu bapak tidak membawaku ke rumah tante tapi malah langsung mengantarku ke TK. Aku termasuk tipe anak yang tak banyak tanya dan tak banyak cerita sehingga di motor aku diam saja. Begitu sampai di TK aku terkejut bukan main, sepi sekali. Baru ada dua anak yang bisa dibilang juniorku. Waktu itu aku sudah TK Nol Besar, sedang mereka masik TK Nol Kecil. Pintu gerbang pun masih terkunci, sehingga dua anak itu hanya menunggu di luar pagar.

Dengan penuh percaya diri aku turun dari motor. Ikut berdiri di depan pagar bersama dua juniorku itu. Mereka menatapku dengan aneh, kupikir mereka kagum padaku. Maka untuk menghilangkan rasa ge-er ku itu aku memegang tas gendongku sambil menatap ke tanah dan......

"Astaga!" jeritku, aku belum memakai SEPATU!

Rupanya aku hanya mengenakan sandal jepit merah kecilku. Kulihat bapakku sudah sampai di tikungan ujung. Sudah tak ada jaim lagi aku mengejar bapakku yang naik motor sambil berteriak

"Paaaaakkkkkk tuuuunnnggguuuuuu!!!!!"

Orang-orang sekitar melihatku. Mungkin dipikirnya ada apa-apa tapi aku cuek saja dan terus berlari. syukurlah bapak mendengarku beliau berhenti dan putar balik.

"Kenapa?"

"Lihat aku masih pakai sandal"

Anehnya muka bapak datar saja dan segera menyuruhku naik ke motor. Aku pulang lagi, gagal lagi berangkat pagi hari ini gara-gara sandal jepit.

Ibu dirumah tertawa-tawa mendengar ceritaku. Bapakpun ikut tertawa. Hanya aku yang sebal.

"Makanya kalau mau berangkat sabar dulu, Ibu belum pasang sepatu kamu sudah pergi" kata Ibu, memang sih waktu aku berangkat ibu sedang mandi jadi tidak tahu kalau aku belum bersepatu.

Akhirnya aku kembali ke sekolah. Suasana tidak lengang lagi. Pintu gerbang sudah dibuka. Dan yang jelas kali ini aku tidak memakai sandal jepit lagi!

Kamis, 29 Maret 2012

Buku Tabungan

10.35 6 Comments
Waktu masih duduk di bangku TK tiap pulang sekolah aku selalu ke rumah nenek maklumlah ibu dan bapak masih kerja jadi sambil menunggu kedua orang tuaku pulang aku dititip di rumah nenek. Kebetulan rumah nenek tidak begitu jauh dari rumah. Bahkan tak jarang aku di rumah nenek sampai sore karena tante-tanteku pun menemaniku bermain. Dan kebetulannya lagi salah satu tanteku mengajar di TK tempat aku sekolah jadi enaklah bapak ibuku tak perlu risau menjemputku.

Di sekolah kami dilatih untuk menabung. Kami diberi sebuah buku tabungan untuk mencatat jumlah tabungan kami. Setelah searching di Google akhirnya kutemukan gambar buku tabungannya  dan kira-kira seperti ini wujudnya

Kira-kira ada yang pernah dikasih buku ini? hehe. Nah ceritanya hari itu entah apa sebab musababnya buku tabunganku itu rusak. Isinya lepas dari sampulnya. Mungkin kalau saat itu aku sudah ABG mungkin sudah kenal istilah yang namanya "BETE" kali ya... Tapi berhubung masih TK dan belum gaul maka aku cuma merengek-rengek ke nenek mengeluh bahwa buku tabunganku itu rusak. Nenek tampaknya cukup serius menanggapi rengekanku, buktinya nenek berkata padaku bahwa beliau bisa memperbaiki.

Senang! Tentu saja aku akan segera mellihat buku tabunganku kembali seperti sedia kala. Tapi ternyata tidak sesuai harapanku bukuku tidak akan kembali seperti sedia kala karena nenek akan membetulkannya dengan menjahit. Oh Tidaaaakkk!! " Aku tidak mau Nek" rengekku ketika tahu nenek akan menjahit buku tabunganku.

" Tidak apa-apa nanti buku tabunganmu akan bagus lagi" rayu nenek.

"Tidak mau nanti bukuku jadi beda sama punya teman-teman" rengekku

Akhirnya nenek mengalah, beliau mengurungkan niatnya menjahit bukuku. Lega hatiku nanti saja di rumah biar diperbaiki sama bapak atau ibu kataku dalam hati.

Beberapa tahun kemudian tepatnya kelas 3 SD aku mempunyai hobi baru. Buku tulis kepunyaan kakak-kakakku yang sudah tidak terpakai kubongkar. Kuambil isi buku yang masih kosong kemudian kujadikan sebuah buku. Tapi ternyata men-stapler buku kecil pun aku tidak bisa dan tiba-tiba ingat kejadian di atas. Maka buku buatanku itu kujahit, sayang buku itu sudah hilang hihihi jadi tidak sempat pamer disini. Tapi satu hal yang terus teringat nenek ternyata telah menginspirasiku.