Setiap momen lebaran merupakan momen special. Terutama ketika momen
sungkeman. Betapa kita sebagai anak telah banyak menyusahkan dan berbuat salah
kepada kedua orang tua. Hal itulah yang membuat kita, sebagai anak tidak akan
pernah bisa membalas jasa kedua orang tua.
Momen itu ketika kami semua bisa berkumpul bersama di tahun 2015.
Tahun itu saya baru punya anak satu kakak dan adik saya masing-masing sudah
dua. Ibu masih sehat, nenek yang mengasuh adik saya juga masih sehat dan bisa
berkumpul bersama kami. Dan ini merupakan lebaran terakhir kami bersama dengan
formasi lengkap.
Ketika bisa berkumpul dengan formasi lengkap begitu kami bisa
bernostalgia. Bisa kembali mengenang masa lalu yang kadang indah, menyebalkan
atau bahkan sedih. Kami berasa remaja lagi dan seru. Sedangkan bapak dan ibu
meski kadang menganggap kami sudah besar tapi sering juga menganggap kami anak
kecil, kadang kena marah.
Tahun 2016 kami berkumpul lagi tapi tanpa ibu. Karena pada bulan
Ramadan Allah telah memanggilnya. Memang cara yang indah beliau mengumpulkan
kami kembali, namun dengan cara yang sangat menyedihkan. Padahal saya sangat
berharap ibu bisa hadir ketika saya melahirkan anak ketiga nanti, tapi ternyata
tak bisa.
Hal yang sangat menyedihan karena lebaran hanya tinggal beberapa hari.
Bapak bahkan sempat tidak mau lebaran. Ketika lebaran tiba Bapak selalu
menangis menceritakan kepergian ibu yang mendadak. Apalagi kami anak-anak yang
tidak bisa selalu bersama ibu, lebih sedih dan kaget dengan kepergian beliau
yang sangat mendadak.
Ibu memang sudah tidak ada, namun beliau selalu hidup dengan
nasehat-nasehatnya. Setelah ibu pergi kami berencana untuk selang seling pulang
lebaran. Tahun 2018 adalah kepulangan terakhir kami saat lebaran, karena tahun
2020 dan tahun 2021 pemerintah melarang warganya untuk mudik karena pandemi.
Besar harapan kami pandemi segera berlalu dan kami bisa berkumpul
kembali saat lebaran. Meski tanpa ibu saya juga masih memilik Bapak yang selalu
saya rindukan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar