Rabu, 01 April 2020

# fiksi # Flash Fiction

Sepatu

sumber gambar: pixabay

Setiap pagi aku selalu terburu-buru mengejar absen kantor. Yah begitulah kehidupanku, sebagai seorang karyawati yang juga ibu rumah tangga aku memiliki kewajiban segunung yang tidak bisa ditinggalkan. Pagi-pagi aku sudah memasak air, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak sulungku dan juga menyiapkan MP-ASI untuk bayi mungilku.

Sebenarnya aku memiliki seorang asisten rumah tangga, Tapi aku tak pernah mau dibantu untuk memasak. Bagiku itu pamali. Aku takut nanti suamiku malah terjerat sama dia hahaha. Kadang tidak masuk logika tapi bisa saja kan?

Sebenarnya waktu yang kumiliki cukup untuk sekedar masak dan merias diri. Tapi selalu ada drama yang membuatku menjadi tergopoh-gopoh mengejar absen.

“Hik hik hik Oooeeee…. “ suara itu selalu kudengar setiap kali aku selesai mandi dan baru akan merias wajah. Baru akan merias wajah lho ya, belum milih baju, belum milih jilbab. Dan biasanya aku mengalah, meninggalkan semua itu dan menenangkan bayiku yang cantik ini.

Namun hari ini berbeda. Aku terlambat bangun, menyiapkan semuanya saja aku sudah nyaris terlambat. Jadi aku hanya sempat mandi dan….  Ah gadis kecilku merengek lagi di saat genting begini.

“Mbak tolong tangani si kecil dulu ya, Ibu sudah terlambat,” ujarku pada sisten rumah tangga yang masih asyik mengepel.

Sengaja aku tidak memakai riasan wajah, hanya memakai baju rapi dan jilbab langsung pakai. Karena sudah tidak ada waktu untuk melakukannya. Rencananya habis absen aku akan pulang lagi dan memakai semua perlengkapan tersebut.

Kantorku sebenarnya tidaklah jauh. Dan tinggal di wilayah yang belum terlalu padat penduduk sungguh menyenangkan. Apalagi kalau bukan bebas macet. Ya paling aku hanya memerlukan waktu lima menit ke kantor.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit, itu artinya sepuluh menit lagi aku akan terlambat. Kalau terlambat jelas sekali akan mengurangi pendapatanku. Soalnya ada aturan yang mengharuskan pemotongan tunjangan bagi mereka yang terlambat, tingkat pemotongannyapun berjenjang mulai dari nol koma lima persen hingga dua setengah persen. Tergantung dari berapa lamanya dia terlambat.

Tentu saja aku tidak mengikhlaskan pemotongan itu walau hanya setengah persen saja. Mending untuk nambahin bayar zakat biar tambah pahala. Ya nggak sih, daripada kena potong.

Aku melajukan mobilku secepat mungkin. Jangan sampai potongan itu menjadi nyata. Dan yes, aku sampai di kantor tepat puku tujuh lewat dua puluh tujuh menit. Tapi aku juga tidak boleh lengah. Tiga menit itu sebentar saudara-saudara.

Aku langsung keluar dari mobil dan berlari menuju mesin absensi. Meski ada yang tidak enak di kakiku aku tidak peduli, yang penting absen dulu.

Selesai absen aku langsung kembali ke mobil, diiringi pandangan heran dari pegawai lain. Aku tidak peduli, aku mesti pulang dulu untuk merapikan diri. Tiba-tiba aku merutuk dalam hati kenapa tadi tidak kubawa saja perlengkapanku dalam mobil. Tapi tidak sempat juga sih menyiapkan semuanya.

Aku terus berjalan percaya diri meski beberapa dari mereka melihat dan menertawaiku. Tapi aku tidak lagi fokus pada mereka aku hanya fokus pada kakiku yang sekarang rasanya tidak nyaman. Mungkin sepatu yang kupakai sudah rusak.

Kualihkan pandanganku ke bawah. Mataku membelalak melihat pemandangan di bawah sana. Aku segera berlari ke mobil takut ada yang melihat keadaaanku saat ini. Kaki kananku mengenakan flat shoes hitam dan kaki sebelah kiriku mengenakan sandal!

-end-


Baca Juga Kisah Yang Lain:
- Hilang
- Miskol
- Bukan Sepatu Cinderella

Tidak ada komentar:

Posting Komentar