Minggu, 26 Januari 2020

# fiksi # Flash Fiction

Hilang

pixabay.com

"Duh Ririn dihubungi kok nggak bisa ya?" gumam Lina pada dirinya sendiri. Ya hari ini dia janjian dengan Ririn untuk pergi wawancara ke sebuah perusahaan yang sudah mereka incar.

Akhirnya setelah berkali-kali Lina tidak bisa menghubungi Ririn akhirnya dia pergi duluan. Awalnya memang mereka berjanji untuk pergi bersama tapi apa daya, kalau Lina terus menunggu Ririn yang entah dimana dia bisa terlambat.

Tak lama ketika dalam perjalanan ada sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.

"Halo."

"Hali Lin, ini aku Ririn, minjem hape orang ini...," suara di seberang telepon ternyata Ririn, Lina menghembus nafas lega akhirnya sahabatnya menghubunginya.

"Kok hapemu nggak bisa dihubungi Rin?"

"Iya tadi pas aku lagi jalan ke rumahmu kayaknya hapeku tetinggal di angkot deh?"

"Hah?! Kok bisa, ini kamu dimana?"

"Aku sudah nyampe ni Lin, maaf ya gak jadi bareng kita," jawab Ririn.

Akhirnya Lina segera memacu laju kendaraannya agar segera sampai ke kantor ingin segera menginterogasi Ririn.

Selesai wawancara Ririn dan Lina minum di kantin bersama satu orang yang meminjamkan hape pada Ririn tadi, namanya Jenni.

"Sudah menghubungi ibumu di rumah?" tanya Lina setelah menyesap Cappucino dinginya sampai habis.

"Belum, belum ada menghubungi satu orangpun di rumah," jawab Ririn

"Coba hubungi dulu mbak, hafalkan nomornya? Nih pakai hapeku banyak kok paketnya," sodor Jenni. Meski sebenarnya nggak enak namun akhirnya Ririn menerimanya juga supaya orang tuanya tidak khawatir menunggunya tanpa kabar.

"Halo, Ma, ini Ririn Ma," Ririn menghubungi ibunya.

"Ya Rin gimana wawancaranya?"

"Belum diumumkan Ma, nanti siang katanya. Maaf ya Ma, ini Ririn pinjam hape teman hape Ririn hilang di angkot tadi Ma...."

"Hilang? Enggak kok. Hape kamu ada tu di meja ruang tamu habis baterai."

Sejenak Ririn tertegun. Mukanya bersemu merah meski sekarang dia bahagia walau malu luar biasa. Dia baru ingat semalam googling masalah wawancara hingga larut malam bahkan hingga habis baterai dan lupa memasukkannya ke dalam tas.


2 komentar:

  1. hahahahaha, ya ampuuunnn ngakak!
    Etapi kadang saya iri loh ama orang-orang yang pelupa gitu, biasanya karena ortunya terlalu perhatian, jadinya kurang fokus terhadap barangnya sendiri.

    Saya sejak kecil malah dimarahin kalau sampai barang saya hilang, jadi semua barang saya jaga baik-baik, nggak pernah lupa naruhnya, bukan karena nggak pikun, tapi disiplin naruhnya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantap itu mbak gak susah nyari. Emang gitu ya kalau orang pelupa ortunya perhatian ya?, suami saya tuh kayak begitu pelupanya minta ampun kalau naruh barang hahaha.

      Hapus