Jumat, 17 Mei 2019

# blogger perempuan # fiksi

Tunik Baru Untuk Ibu

“Wah tuniknya bagus ya …”
                “Iya Bu ini keluaran terbaru, Ibu mau coba?”
                “Eh…e… anu enggak  Mbak, Cuma mau lihat-lihat aja, makasih ya…”
                Obrolan itu sering Tania dengar manakala menemani Ibunya ke pasar. Awalnya Tania menyangka memang Ibunya hanya ingin melihat-lihat saja. Namun melihat Ibu sering melakukan itu Tania jadi berfikir bahwa Ibu memang benar-benar menginginkan tunik baru.
                “Bu, Ibu memang mau beli baju tunik ya?” tanya Tania ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang.
                “Enggak kok Tan, Ibu hanya suka melihat-lihat Tunik yang cantik-cantik itu, tapi kalau beli enggak kepikiran Tan, tunik Ibu kan sudah banyak.”
                Tania terdiam. Kehidupan mereka memang berubah drastis semenjak Ayah pergi. Kehidupan yang awalnya serba berkecukupan menjadi serba kekurangan. Ibu harus banyak berhemat agar mereka tetap bisa makan dan anak-anak bisa tetap sekolah, salah satunya adalah tidak membeli baju baru lagi.
                Mama Tania yang awalnya adalah ibu rumah tangga, semenjak suaminya meninggal terpaksa harus bekerja untuk menghidupi kedua anaknya yang sudah beranjak remaja karena pensiunan suaminya tidak mencukupi.
                Tania adalah anak pertama yang kini sudah duduk di bangku SMA kelas tiga, sedangkan adkinya Renata kini sudah kelas 1 SMP. Tania sudah mengerti betapa ibunya kesusahan semenjak ayah pergi, dan entah kenapa baju tunik begitu mengusiknya.
                “Bu Tania ke sekolah dulu ya … “
                “Kok pagi-pagi betul nak?” Ibu heran, biasanya Tania berangkat setengah tujuh kini baru jam enam Tania sudah berpamitan.
                “Iya Bu, mau piket.”
                Dan itu berlangsung hampir selama dua bulan hingga akhirnya bulan suci ramadhan tiba                . Tania tak lagi berangkat pagi-pagi, dia malah berangkat jam tujuh karena sekolah masuk jam delapan. Dan hari itu seminggu sebelum lebaran seperti biasa Tania mengantar Ibu ke pasar.
                “Wah tunik yang ini cantik … “
                “Iya Bu, cocok untuk lebaran, mau dicoba?”       
                “Iya Mbak,” Tania langsung menjawab sebelum ibunya menolak.
                “Apa-apaan sih Tania …”
                “Udah Ibu coba aja, kalau pas ukurannya kita beli.”
                Meskipun banyak pertanyaan, Ibu menurut saja. Dia akan meminta penjelasan Tania di rumah nanti.
                “Jadi darimana kamu dapat uang Tania? Kamu nggak mencuri kan?” Ibu langsung menginterogasi Tania begitu sampai rumah, kerana sepanjang mereka belanja di pasar Tania yang membayar dan membeli macam-macam.
                “Astaghfirullah Bu, Tania tahu mana yang baik dan yang buruk. Sebenarnya dua bulan ini Tania jualan roti Bu Ira di sekolah. Makanya Tania berangkat pagi-pagi untuk mengambil roti dan menjualnya ke kelas-kelas. Lumayan bu sehari Tania bisa menjual sekitar dua ratusan roti. Satu roti Tania mendapat komisi serratus rupiah, dan alhamdulillah sebelum puasa kemarin terkumpul sekitar satu juta. Lagian dari awal Tania memang ingin membelikan Tuni baru untuk Ibu.”
                Ibu melelehkan air mata dan memeluk Tania.
                “Maafkan Ibu ya Nak, Ibu membuatmu susah.”
                “Enggak kok Bu, Tania yang justru banyak menyusahkan Ibu.”

                Mereka berdua berpelukan dalam tangis. Lebaran sebentar lagi, dan Tania telah mewujudkan mimpinya membelikan tunik baru untuk ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar