Kamis, 27 September 2018

# curhat

Stop Jadi Deadliner

Sebenarnya postingan ini sebagai reminder untuk diri sendiri. Setelah berulang kali pengalaman menohok terjadi namun tetap saja terulang. Mudah-mudahan setelah postingan ini kebiasaan deadliner saya berkurang, syukur-syukur menghilang hehehe.

Seperti kemarin, ketika ada pengumuman dari kantor bahwa akan diadakan lomba menulis, infografis dan foto. Semangatlah saya bakalan ikutan yang lomba menulis dan infografis. Kenapa lomba foto nggak ikutan? Karena saya nggak punya koleksi foto yang sesuai tema. Jadi ya ikut yang dua itu aja, lagian kemaruk banget semua lomba diikutin hihihi.

Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Jam demi jam berlalu. Hari demi hari berlalu. Dan hari itu saya melihat tanggal 16 September.

What?!

Deadline lomba itu dua-duanya tanggal 17. Dan di tanggal 16 saya belum punya apa-apa. Sebenarnya saya sudah membuat outline untuk tulisan, namun ternyata temanya terlalu umum jadi pembahasan melebar kemana-mana. Dan di menit-menit terakhir itulah saya mulai merubah tulisan. 

Menyempitkan tema lebih tepatnya.

Keringat dingin mulai membasahi. Bagaimana tidak? Membuat tulisan yang semacam opini itu perlu kerja keras. Perlu banyak referensi dan literatur. Dan saya saat itu, yang walaupun hari Minggu, sedang tidak libur. Saya sedang ada undangan evaluasi data Survei Antar Sensus Pertanian 2018 (SUTAS 2018).

Memang benar, the power of kepepet itu muncul. Tapi jujur saja kalau boleh memilih saya nggak mau jadi deadliner lagi, maunya jadi pelopor seperti yang sedang diterapkan eselon II di provinsi. Soalnya menjadi deadliner itu tanpa kita sadari banyak ruginya. Apa saja tu?

1. Tidak sempat selfediting ataupun meninjau ulang hasil yang telah dikerjakan.

Karena sudah mepet waktu akhirnya saya kirim itu tulisan tanpa sempat selfediting. Padahal mentor-mentor menulis saya selalu mewanti-wanti untuk melakukan selfediting. Paling tidak untuk kata-kata yang typo.

Infografis yang saya kerjakan pun tidak sempat saya tinjau ulang ataupun sekedar meminta saran perbaikan dari kolega. Pas sudah dikirim dan dilihat lagi baru deh merasa warnanya kurang hidup. Ada informasi yang kurang lengkap dan sebagainya.

2. Hasil yang terbaik sulit didapat.

Bagaimana mau mendapatkan yang terbaik kalau nulis atau bikin infografis nya saja sudah mepet waktu. Bisa jadi hasil yang terbaik itu sulit didapat karena mendesaknya waktu.

Coba ya saya bikinnya 2 atau 3 hari sebelum deadline. Mungkin bisa dievaluasi dulu baik oleh saya sendiri ataupun oleh teman-teman yang lain.

3. Jauh dari predikat juara

Ini sudah delapan puluh persen bisa dipastikan iya. gimana enggak ya? Orang point 1 dan point 2 aja sudah jelas. Gak di edit dan tidak bisa mendapatkan hasil terbaik. Dan benar saja saya tidak dapat juara hehehe.

Pelajaran berharga buat saya, ke depannya jangan jadi deadliner lagi. Harus pinter-pinter memanajemen waktu. Menjadikan menulis sebagai rutinitas dan tidak dilakukan dengan kejar tayang.
Semoga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar