Rabu, 07 Maret 2018

# Cerita # piknik

Berakhir Pekan di Kasang Kulim Zoo

loket Kasang Kulim Zoo
Saking katroknya saya nggak tahu kalau di kabupaten yang saat ini saya tinggali terdapat sebuah kebun binatang. Mungkin memang cuma satu-satunya di Provinsi Riau. Seringnya kami malah pergi ke kebun binatang di provinsi sebelah yang jaraknya beratus-ratus kilometer.

Sebuah perjalanan yang melelahkan jika hanya mengunjungi satu objek saja. Tapi beberapa pekan sebelumnya kami juga ke provinsi sebelah demi memenuhi janji ke pantai pada si Sulung, ini saya ceritain nanti saja ya.

Kebetulan akhir pekan kemarin kami ada undangan walimah di kota Pekanbaru. Maka sekalian kami jadwalkan untuk ke Kebun Binatang Kasang Kulim yang berada di Kabupaten Kampar yang jaraknya masih cukup dekat dengan Kota Pekanbaru.

Sebenarnya kebun binatang ini cukup mudah diakses. Bagi yang tinggal di Kota Pekanbaru atau Kabupaten Kampar. Masuk dari Simpang Panam menuju Jalan Raya Kubang, ikuti terus jalan ini hingga menemukan gapura Kasang Kulim Zoo di sebelah kiri. Dari sini kita ikuti jalan beraspal dan sampailah ke tujuan.

mejeng dulu ya
Mungkin karena banyak isu negatif yang menerpa kebun binatang ini sehingga kebun binatang ini belum begitu ramai. Saya pernah dengan dari kawan kabarnya kandang-kandang di kebun binatang ini kurus-kurus. Kerangkeng kecil-kecil. Katanya Pemda gak mau bantu untuk makan hewan yang ada di kebun binatang ini. Makanya sekalian ngebuktiin bener nggak sih isu tersebut.

Kedatangan kami disambut hangat oleh tukang parkir yang merangkap sebagai penjaga gerbang dan juga merangkap sebagai guide. Parkir di KKZ (Kasang Kulim Zoo) sebesar Rp 5.000. Sedangkan tiket masuknya untuk dewasa Rp 25.000 dan anak-anak Rp 20.000. Kami membawa 3 anak namun yang dihitung hanya Si Sulung. Jadi kami kena Rp 70.000 untuk tiket masuk.

Saat memasuki kebun binatang, mas tukang parkir yang merangkap penjaga gerbang menyuruh kami untuk belok ke kanan terlebih dahulu meskipun seharusnya belok ke kanan searah jarum jam. Namun kami menurut saja. Disitu ada sepeda air, yang saya nggak tahu masih berfungsi atau enggak karena kami datang sudah sore dan suasana cukup sepi. 

gajahnya dimandiin, tapi ini pas
 Piknik Sekolah Si Sulung
Hewan pertama yang kami jumpai adalah merak hijau. Kemudian ada juga kolam pemandian. Masuk kolam ini diwajibkan bayar juga lho sebesar Rp 15.000 tapi karena sudah sore wahana ini sudah tutup (fiuh selamat uang di dompet hihihi).

Setelah itu kami melewati kandang buaya yang sangat bersemak. Konon kandang itu berisi buaya muara. Buaya ini terkenal keganasannya dan sering ada kabar bahwa spesies buaya ini memakan manusia. Mungkin itulah yang menyebabkan kandang buaya ini seperti tak terawat. Sebelah kandang buaya terdapat kandang singa. Singanya cuma satu singa betina saja. Ah kasihan melihatnya, gimana bisa dilestarikan kalau tidak ada pasangannya. Kalau kandang singanya cukup bersih sayangnya singanya malas-malasan.

Perjalanan kami lanjutkan. Terdapat kandang aneka primata mulai dari orang utan, siamang, monyet dll. Yang menarik ada tracking gajah disini. Ini yang menarik perhatian Si Sulung dan pengen naik. Berhubung antri saya ajak dia melihat kuda yang tidak dikandang yang merumput di dekat kandang beruang madu.

Beruang madunya cukup banyak. Ada empat kandang yang menampungnya. Saat kami datang mereka sedang kelaparan dan kehausan. Ada tukang pemberi makan yang sedang menyiapkan makanannya namun beruang-beruang tersebut sudah tak sabar. Ah tak sempat menyaksikan para beruang makan si sulung sudah meminta naik gajah.

Gajahnya ada dua dan tidak di dalam kandang. Dekat gajah dan para primata ada satu kandang harimau dahan. Harimau dahan ini juga sendirian lho. Ah kasihan. Lanjut ke gajah ya, biaya naik gajah ini Rp 20.000 untuk dewasa dan Rp 10.000 untuk anak-anak. Si Tengah ketakutan dan menangis tapi akhirnya dia berani duduk diatas pelana gajah.

Di kebun binatang ini juga ada area outbound namun tidak begitu besar. Koleksi ularnya juga cuma satu. Tapi unggas cukup banyak seperti burung elang, burung hantu, burung kasuari, bangau tongtong, burung kakaktua dll. Oya kuda nil.juga ada disini tapi sayangnya juga cuma satu. Kuda Nil ini merupakan hibah dari Taman Safari indonesia lho. Landak Jawa dan musang juga menjadi koleksi kebun binatang ini.

Terakhir kami menikmati area bermain anak-anak yang sebenarnya adalah titik awal kebun binatang ini. Ada ayunan, jungkat-jungkit yang tidak ada pegangannya, tangga pelangi, prosotan dll. Para bocah cukup betah di area ini. Oya di area ini ada air mancur yang di dalamnya berisi kura-kura. Jadi nggak rugi juga ya walaupun rute kami dibalik, kalau searah jarum jam mungkin para bocah nggak mau move on dari area bermain ini

kijang cukup banyak namun hanya dia yang
difoto heheh
Jadi gimana soal isu yang disebutkan tadi? Saya coba jawab dari hasil pengamatan saya ya. Untuk binatangnya sih saya rasa cukup terawat, tidak seperti yang dibilang kalau binatang disini kurus-kurus. Tapi mungkin juga karena sudah tua maka ukurannya besar. Kandang termasuk kecil ya, padahal masih ada space yang lebar harusnya bisa dibuatkan kandang yang lebih besar agar para hewan lebih leluasa.

Koleksi binatang disini termasuk lengkap, eh iya saya lupa ada kijang dan tapir juga yang belum disebut. Banyak jenisnya namun sedikit bahkan ada yang sendiri. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jika hewan-hewan yang sendiri itu mati tanpa ada regenerasi? Wah berkurang dong ya koleksi kebun binatangnya.

Tentang kekurangan bahan pangan bagi para binatang bisa jadi ya. Mungkin karena pengunjung nya sedikit sehingga pendapatan kebun binatang kurang mencukupi. Ah saya jadi merasa bersalah tidak ikut melestarikan keberadaan KKZ ini.

Overall tempatnya nyaman dan bersih. Terakhir yang menjadi perhatian khusus dari si Sulung adalah lukisan yang ada di pintu keluar.

"Itu seperti jerapah tapi kok kulitnya zebra ya?".

Dan pas saya perhatikan ternyata benar. Entah mau melukis apa kok bentuknya jerapah tapi kulitnya zebra hahaha.

Penasaran? Makanya main ke Kasang Kulim Zoo ya...

2 komentar:

  1. Mbak..seringnya kita prihatin kalau ada kebun binatang yang enggak maksimal merawat binatangnya begini ya...
    Sebenarnya jika ada kerja sama dengan pihak swasta bisa lebih terurus lagi. Atau mungkin pengajuan pendanaan ke Dept Lingkungan dan Kehutanan atau dinas terkait.

    Ah...tapi paling tidak masyarakat bisa membantu dengan mengunjunginya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak, ini pengelolaannya swasta mbak tapi kayaknya kurang ramai, ramainya kalau anak TK piknik.
      Terakhir kesana sedang perbaikan taman semoga semakin maju

      Hapus