Sabtu, 19 Agustus 2017

Duluan Mana Hak atau Kewajiban?







Ketika saya tanya begitu ternyata ada saja yang memberikan jawaban hak ada juga yang memberikan jawaban kewajiban. Tadinya saya akan menjawab kewajiban tapi ternyata tidak juga, setelah saya renungi kewajiban ada yang duluan ada yang belakangan. Ada juga hak yang diberikan di depan ada juga yang diberikan di belakang.

Apa contohnya?

Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara, gaji merupakan hak yang diberikan terlebih dahulu sebelum kita melaksanakan kewajiba. Jadi gaji bulan Januari ya untuk pekerjaan yang kita laksanakan selama bulan Januari. Berbeda dengan tunjangan kinerja yang diberikan belakangan. Setelah kinerja kita dinilai barulah tunjangan itu diberikan. Jadi tunjangan kinerja yang diterima bulan Februari misalnya itu adalah prestasi kita selama bulan Januari.

Nah masalahnya sekarang ada beberapa oknum yang kadang meminta hak yang harusnya diterima di belakang ini dimintanya sebelum kewajibannya selesai. Sebaiknya sih jangan menjadi orang seperti ini ya, soalnya kasihan sama orang yang diamanahi memegang hak kita. Di satu sisi dia ingin membantu kita sementara di sisi lain dia tidak bisa karena kewajiban belum kita selesaikan.

Parahnya kadang oknum seperti itu kalau tidak dituruti terus marah. Si pemegang hak jadi sasaran. Yang nggak ditegurlah, yang kemudian jadi omongan sana-sini kalau doi pelit. Sementara Si Pemegang Hak Kita tadi juga serba salah. Dikasih dia salah karena tidak sesuai Standard Operational Procedure walaupun hal ini akan menyelamatkannya dari dimusuhi orang. Sedangkan tidak dikasih bakalan makan hati.



Ada yang pernah seperti ini? Baik sebagai si oknum maupun sebagai Si Pemegang Hak Oknum tersebut. Hehehe mudah-mudahan tidak ya, karena urusannya dengan hati dan ini bakalan rumit ke depannya.

Kalau jadi Si Oknum jangan sampai lah ya. Selalu tempatkan diri diporsi kita masing-masing. Kalau Si Oknum dan Si Pemegang Hak memang telah saling percaya bahwa haknya diambil sebelum tunai kewajiban tentu ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun jika track record Si Oknum sudah tidak ‘bersih’ ya jangan salahkan kalau permintaanya ditolak.

Sebaliknya untu si Pemegang Hak sebaiknya jangan baper. Tindakan anda menolak Si Oknum sudah benar, karena hal tersebut tidak sesuai dengan SOP. Abaikan saja sikap Si Oknum ini, karena ini merupakan filter kita untuk mendapatkan sahabat terbaik. Jika Si Oknum sahabat kita tentu tidak akan menyusahkan kita.

Mudah-mudahan kita semua diberi kemudahan dalam melaksanakan pekerjaan kita sesuai dengan yang diamanahkan. Kewajiban yang diberikan bisa diselesaikan dengan baik dan hak yang kita peroleh sesuai dengan apa yang kita kerjakan. Jikalaupun hak kita tidak sesuai dengan kewajiban yang kita kerjakan,jangan berkecil hati. Rezeki itu pasti tidak akan salah tempat.


Semoga bermanfaat dan bisa menjadi obat baper J

6 komentar:

  1. Ada gitu mba yg minta tunkin sebelum waktunya? Harap bersabar aja mba mungkin ujian hihi. Thanks for sharing. Salam kenal mba saya enny di grup KEB.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata saya nggak sendiri ya.....makasih mbak salam kenal juga

      Hapus
  2. Sepertinya tergantung situasi dan kondisi ya, Mbak. Mungkin jalan tengahnya kalau itu sebuah pesanan barang/jasa bisa diberikan uang muka dulu saja. Jadinya hak diberikan, tapi tidak sepenuhnya. Gimana kesepakatan kedua belah pihak saja baiknya seperti apa:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak hak dan kewajiban itu memang tidak mutlak harus kewajiban dulu baru hak, ternyata bisa juga jalan beriringan.

      Hapus
  3. Kaya buah simalakama ya mbak. Kasih kena ga dikasih juga kena

    BalasHapus
  4. Kaya buah simalakama ya mbak. Kasih kena ga dikasih juga kena

    BalasHapus