Senin, 26 Desember 2016

Problematika Ibu Bekerja - Waktu Bekerja yang Begitu Menyita

Berapa banyak sih waktu yang kita punya? 24 jam? Iya dikurangi jam tidur ideal 8 jam tinggal 16 jam masih dikurangi ngantor 8 jam tinggal 8 jam juga. Sisanya ini belum dihitung waktu untuk perjalanan dari rumah ke kantor lho. Kalau yang tinggal di tempat anti macet kayak saya waktu perjalanan tersebut bisa diabaikan, nah kalau yang tinggal di Jakarta? Ufffhhh bisa-bisa sudah kehabisan waktu.

Itu baru hitungan secara umum, belum hitungan untuk ibu-ibu. Yah hitungan untuk ibu bekerja jelas berbeda. Ibu bekerja harus bangun lebih awal menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga. Ini belum yang punya balita dan anak sekolah pasti lebih rempong.

Pagi hari bagi seorang ibu memang waktu yang krusial. Ini juga saya alami sendiri, memasak harus serba cepat walaupun saat itu saya punya ART alias asisten rumah tangga. Saya memang tidak mempercayakan urusan masak memasak pada ART. Urusan yang satu ini harus saya handle sendiri. Yang paling ribet adalah menyiapkan MPASI untuk si adek.

Siang hari istirahat kantor hanya satu jam. Satu jam bisa apa? Hanya bisa masak saja tanpa bisa memakannya. Apalagi yang rumahnya jauh dari kantor, kalau nggak bawa bekal yang makan di kantin. Kalau saya karena kantor dekat dengan rumah, masih menyempatkan waktu untuk menengok anak-anak walaupun sebentar.

Tapi ada juga yang memilih untuk tetap tinggal di kantor. Karena kalau dia pulang malahan anaknya jadi nangis saat ibunya kembali ke kantor. Hehehe iya juga sih, tapi kalau saya tidak pulang rasanya ada yang kurang apalagi si adek masih menyusu.

Sore hari adalah waktu yang dinanti. Menjelang pukul empat sore, ibu-ibu sudah bersiap-siap untuk pulang. Salah satu teman sekantor saya ada yang paling disiplin soal ini. Jam empat teng dia selalu sudah absen. Maklumlah rumahnya paling jauh 1 jam perjalanan.

Jam kerja normal saja sudah begitu menyita waktu. Bagaimana dengan satu kata sakral yang paling dihindari oleh para ibu pekerja?

Apaan sih?

Lembur

Ya lembur menjadi salah satu momok tersendiri bagi ibu-ibu yang bekerja. Bagaimana tidak? Waktu-waktu lembur biasanya sudah dialokasikan untuk anak-anak dan keluarga. Misalnya di hari sabtu dan minggu. Gara-gara lembur ini jadwal bisa mendadak jadi berantakan.

Kadang-kadang terdapat kantor yang memberikan toleransi untuk ibu-ibu, khusus bagi mereka boleh untuk tidak lembur. Bagus sih karena urusan seorang ibu memang segudang. Tapi hal ini justru menjadi kecemburuan sosial bagi karyawan lain terutama wanita single.

Akhirnya bagi ibu pekerja akan terdapat 2 pilihan. Menjadi wanita karir yang biasa saja atau menjadi wanita karir yang berprestasi.

Menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja tentu bukanlah mimpi bagi para ibu bekerja. Tapi dengan alasan keadaanlah yang memaksa mereka menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja.

Kekurangan menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja yaitu:
1. Tidak ada prestasi di kantor.
2. Melakukan pekerjaan yang diperintahkan atasan tanpa melakukan inovasi (boro-boro inovasi ngurus anak saja sudah menyita waktu)
3. Karir yang stagnan

Sedangkan kelebihannya menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja antara lain:
1. Pekerjaan kantor bukanlah fokus utama karena yang utama adalah keluarga. Sehingga keluarga lebih terurus.
2. Capek ngurus keluarga tidak secapek menghabiskan waktu untuk bekerja.
3. Biasanya lebih mementingkan karir suami.

Memiliki pilihan menjadi ibu pekerja yang berprestasi juga tidak ada salahnya. Asal tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu dan istri. Namun pilihan ini juga memiliki kekurangan dan kelebihan.

Kekurangan tersebut antara lain:
1. Fokus utama pada pekerjaan sehingga keluarga kurang terurus.
2. Perhatian untuk anak-anak kurang.
3. Jika tidak pandai mengatur waktu dengan pasangan bisa-bisa hubungan menjadi renggang dan tidak harmonis.

Sedangkan kelebihan menjadi ibu pekerja yang berprestasi antara lain:
1. Kenaikan karir yang lebih cepat.
2. Kepercayaan dari atasan lebih tinggi.
3. Berani berinovasi sehingga menghasilkan sesuatu yang membanggakan.

Memang pilihan yang sulit antara karir dan keluarga. Bagai buah simalakama, pilih karir keluarga terlantar, pilih keluarga karir mandeg. Tapi bisakah kita mendapatkan keduanya?

Problematika ibu bekerja bukan hanya itu saja masih ada beberapa hal yang menjadi problem bagi ibu bekerja antara lain masalah pengasuhan anak dan waktu untuk me time.

3 komentar:

  1. Memang bagaikan buah simalakama ya mbak, karena kalau udah terbiasa kerja mau move on sulit. Sedangkan kalau bekerja kadang juga keluarga terbengkalai, ya semoga bisa mengatur waktu lah... tnx mbak

    BalasHapus
  2. Aku sekarang tim Wanita Karir Yang Biasa2 Saja. Udah rempong sama urusan rumah tangga juga, jadi udah gak mikir karir2an blas. Hehe...

    BalasHapus