Selasa, 24 Mei 2016

# curhat

Ketika Pak De Pergi

Pagi ini dapat kabar duka dari pulau seberang sana. Pak De saya yang tinggal di Semarang meninggal dunia. Sedih sekali rasanya, apalagi banyak kenangan yang sangat berkesan.

Dulu sewaktu kami kecil pergi ke Semarang adalah kesenangan dan kebanggaan tersendiri. Senang karena kami akan menempuh perjalanan yang panjang, bangga karena tidak semua tetangga kami waktu itu yang bisa mencapai ibukota Jawa Tengah tersebut. Yah walaupun sering terjadi insiden di jalan dengan mabuknya kami di dalam bus.

Kemudian sewaktu saya lulus SMA, saya mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik melalui Badan Pusat Statistik Jawa Tengah yang ada di semarang. Selain itu saya juga mendaftar jalur SPMB atau SNMPTN untuk ITB dan UNDIP. Waktu itu sambil menunggu pengumuman hasil ujian tahap kedua di STIS dan juga masuk perkuliahan di UNDIP saya menumpang di rumah Pak De.

Waktu mulai ngekos sepupu saya dan menantu Pak De yang mengantar saya. Begitupun waktu saya lebih memilih STIS dibanding UNDIP keluarga beliau juga kembali saya repotkan. Bahkan saat saya mau pulang karena akan kuliah di jakarta saya diantar juga oleh sepupu pulang sampai ke rumah.

Saya masih ingat pesan Pak De malam sebelum saya tes kesehatan. Kata beliau malam itu habis isya saya harus puasa dan agar paru-paru bersih saya harus minum air soda. Dan alhamdulillah saya diterima hingga saya bisa lulus dan bekerja di BPS itu juga berkat Pak De.

Kini Pak De sudah tiada, saya yang jauh ini tak bisa melihatnya untuk yang terakhir kali. Namun doa saya semoga amal ibadah Pak De diterima oleh Allah SWT. Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar