Rabu, 02 Maret 2016

# curhat

Ketika ART Minta Berhenti

Harusnya hari ini gak mau posting masalah curhatan. Pengennya mau posting tentang film hihihi tapi gimana ya, saya lagi galau tingkat tinggi. Gara-gara asisten rumah tangga saya minta berhenti.

Rasanya gak bisa bernapas waktu dia bilang mau berhenti. Emang sih saya melihat gelagat yang nggak biasa di dua minggu terakhir. Si embak jarang makan malam, waktu saya tanya katanya lagi males makan. Yah postif thingking aja sayanya mungkin dia lagi diet. Tanda yang lain saya lihat dia juga lebih banyak cemberut dan melamun padahal biasanya mau main-main sama ikhsan anak saya yang besar.

Terus kemarin sehari setelah gajian dia minta berhenti. Hiks rasanya dunia berhenti berputar. Saya sampai nggak bisa tidur semalaman. Lihat anak-anak jadi sedih, Ikhsan 3 bulan lagi mungkin masuk TK sedangkan Kiya mungkin sebulan dua bulan ini sudah bisa jalan, tapi Kiya nggak memungkinkan untuk saya titipkan karena dia susah diajak orang sangat berbeda dengan ikhsan yang memang pandai bergaul sejak kecil.

Saya coba bertanya apa masalahnya, mungkin masih bisa dicari jalan keluar yang bisa dicarikan agar si embak tidak berhenti. Apakah kami terlalu galak? Katanya enggak. Apakah nggak boleh kerja sama ayahnya? Katanya enggak juga. Apakah karena dapat kerjaan baru? Katanya belum tapi memang mau cari kerjaan baru yang dekat rumah. Jawaban yang bagi saya belum memuaskan.

Pagi tadi dia masih beraktivitas seperti biasa. Saya galau luar biasa tapi mencoba untuk biasa-biasa aja. Mencoba untuk tetap bisa ketawa di depan anak-anak. Tapi muka si Embak gak ada semangat nya sama sekali. Waktu ke kantor saya bertanya kepada suami gimana baiknya. Katanya mending dilepas aja. Haduh saya ikhlas gak ya ngelepas setelan 7 bulan bersama hehehe.

Huffthh mencoba tarik napas dalam-dalam dan pikir ulang. Jika saya coba pertahankan suruh dia betah-betahin kerja di saya, jadinya saya malah kepikiran sama anak-anak. Apa iya si embak akan menjaga anak-anak dengan baik? Tapi kalau saya lepas bagaimana nanti dengan saya? Pekerjaan tidak dapat ditinggal pun anak-anak. Tapi entah kenapa hati ini rasanya lebih plong kalau melepas dia, mana tahu saya dan si embak mendapat kehidupan baru yang lebih baik.

Sampai sekarang saya masih galau. Masih nyesek rasanya. Tapi tetap berhuznudzon kepada Allah SWT. Mungkin di balik cobaan ini ada sesuatu yang bisa kami ambil pelajaran. Mungkin juga Allah sudah memiliki rencana lain yang lebih baik untuk keluarga kecil kami. 

Agar hati bisa lebih tenang saya mencoba amalkan doa ini di setiap usai sholat fardhu. Alhamdulillah lebih tenang.

credit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar