Selasa, 27 Desember 2016

Problematika Ibu Bekerja - Waktu Bekerja yang Begitu Menyita

07.54 3 Comments

Berapa banyak sih waktu yang kita punya? 24 jam? Iya dikurangi jam tidur ideal 8 jam tinggal 16 jam masih dikurangi ngantor 8 jam tinggal 8 jam juga. Sisanya ini belum dihitung waktu untuk perjalanan dari rumah ke kantor lho. Kalau yang tinggal di tempat anti macet kayak saya waktu perjalanan tersebut bisa diabaikan, nah kalau yang tinggal di Jakarta? Ufffhhh bisa-bisa sudah kehabisan waktu.

Itu baru hitungan secara umum, belum hitungan untuk ibu-ibu. Yah hitungan untuk ibu bekerja jelas berbeda. Ibu bekerja harus bangun lebih awal menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga. Ini belum yang punya balita dan anak sekolah pasti lebih rempong.

Pagi hari bagi seorang ibu memang waktu yang krusial. Ini juga saya alami sendiri, memasak harus serba cepat walaupun saat itu saya punya ART alias asisten rumah tangga. Saya memang tidak mempercayakan urusan masak memasak pada ART. Urusan yang satu ini harus saya handle sendiri. Yang paling ribet adalah menyiapkan MPASI untuk si adek.

Siang hari istirahat kantor hanya satu jam. Satu jam bisa apa? Hanya bisa masak saja tanpa bisa memakannya. Apalagi yang rumahnya jauh dari kantor, kalau nggak bawa bekal yang makan di kantin. Kalau saya karena kantor dekat dengan rumah, masih menyempatkan waktu untuk menengok anak-anak walaupun sebentar.

Tapi ada juga yang memilih untuk tetap tinggal di kantor. Karena kalau dia pulang malahan anaknya jadi nangis saat ibunya kembali ke kantor. Hehehe iya juga sih, tapi kalau saya tidak pulang rasanya ada yang kurang apalagi si adek masih menyusu.

Sore hari adalah waktu yang dinanti. Menjelang pukul empat sore, ibu-ibu sudah bersiap-siap untuk pulang. Salah satu teman sekantor saya ada yang paling disiplin soal ini. Jam empat teng dia selalu sudah absen. Maklumlah rumahnya paling jauh 1 jam perjalanan.

Jam kerja normal saja sudah begitu menyita waktu. Bagaimana dengan satu kata sakral yang paling dihindari oleh para ibu pekerja?

Apaan sih?

Lembur

Ya lembur menjadi salah satu momok tersendiri bagi ibu-ibu yang bekerja. Bagaimana tidak? Waktu-waktu lembur biasanya sudah dialokasikan untuk anak-anak dan keluarga. Misalnya di hari sabtu dan minggu. Gara-gara lembur ini jadwal bisa mendadak jadi berantakan.

Kadang-kadang terdapat kantor yang memberikan toleransi untuk ibu-ibu, khusus bagi mereka boleh untuk tidak lembur. Bagus sih karena urusan seorang ibu memang segudang. Tapi hal ini justru menjadi kecemburuan sosial bagi karyawan lain terutama wanita single.

Akhirnya bagi ibu pekerja akan terdapat 2 pilihan. Menjadi wanita karir yang biasa saja atau menjadi wanita karir yang berprestasi.

Menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja tentu bukanlah mimpi bagi para ibu bekerja. Tapi dengan alasan keadaanlah yang memaksa mereka menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja.

Kekurangan menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja yaitu:
1. Tidak ada prestasi di kantor.
2. Melakukan pekerjaan yang diperintahkan atasan tanpa melakukan inovasi (boro-boro inovasi ngurus anak saja sudah menyita waktu)
3. Karir yang stagnan

Sedangkan kelebihannya menjadi wanita karir yang biasa-biasa saja antara lain:
1. Pekerjaan kantor bukanlah fokus utama karena yang utama adalah keluarga. Sehingga keluarga lebih terurus.
2. Capek ngurus keluarga tidak secapek menghabiskan waktu untuk bekerja.
3. Biasanya lebih mementingkan karir suami.

Memiliki pilihan menjadi ibu pekerja yang berprestasi juga tidak ada salahnya. Asal tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu dan istri. Namun pilihan ini juga memiliki kekurangan dan kelebihan.

Kekurangan tersebut antara lain:
1. Fokus utama pada pekerjaan sehingga keluarga kurang terurus.
2. Perhatian untuk anak-anak kurang.
3. Jika tidak pandai mengatur waktu dengan pasangan bisa-bisa hubungan menjadi renggang dan tidak harmonis.

Sedangkan kelebihan menjadi ibu pekerja yang berprestasi antara lain:
1. Kenaikan karir yang lebih cepat.
2. Kepercayaan dari atasan lebih tinggi.
3. Berani berinovasi sehingga menghasilkan sesuatu yang membanggakan.

Memang pilihan yang sulit antara karir dan keluarga. Bagai buah simalakama, pilih karir keluarga terlantar, pilih keluarga karir mandeg. Tapi bisakah kita mendapatkan keduanya?

Problematika ibu bekerja bukan hanya itu saja masih ada beberapa hal yang menjadi problem bagi ibu bekerja antara lain masalah pengasuhan anak dan waktu untuk me time.

Jumat, 23 Desember 2016

Jumat, 16 Desember 2016

Menulislah dan Rasakan Manfaatnya

12.01 0 Comments
Menulis merupakan suatu kegiatan yang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Menulis juga telah kita lakukan sejak kita mulai sekolah. Sehingga menulis sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi kita. Namun kenapa masih banyak orang yang enggan untuk menulis? Salah satu jawabannya mungkin karena mereka tidak tahu manfaat dari menulis itu sendiri.


Memangnya apa saja manfaat dari menulis?

      1.      Menulis sebagai Terapi Jiwa

Pernah merasa sedih karena sesuatu hal? Pernah menuliskan kesedihan tersebut dalam buku diary? Apa yang anda rasakan setelah menuliskannya di buku diary? Ada semacam perasaan plong dan lega bukan? Nah disinilah menulis bisa menjadi salah satu terapi jiwa. Yang tadinya sedih berlarut-larut bisa mengurangi kesedihannnya dengan menulis. Atau ketika marah dan kesal bisa melampiaskannya lewat tulisan, sehingga amarah dan kekesalan tersebut bisa redam. Bahkan terkadang dengan menuliskannya bisa menimbulkan ide untuk pemecahan masalah yang kita hadapi.

      2.      Menulis dapat menambah wawasan dan pengetahuan

Menulis tidak hanya sekedar menulis pasti ada sesuatu pesan yang disampaikan baik secara tersurat maupun tersirat. Bahkan terkadang sebelum menulis seseorang perlu membaca topik atau tema yang hendak diangkatnya dalam tulisan. Jadi mau tak mau seorang penulis itu juga gemar membaca, sehingga wawasan dan pengetahuannya terus bertambah seiring dengan bertambahnya tulisan. Masih ada yang berat untuk membaca?

      3.      Menulis sebagai sarana berbagi dengan orang lain

Menulis bisa menjadi sarana berbagi dengan orang lain. Tidak perlu menjadi penulis best seller untuk melakukannya, tapi kita bisa memulai dari sharing tulisan di media sosial maupun blog. Bahkan pengalaman pribadi pun mungkin bisa kita bagi dan bermanfaat bagi orang lain. Dengan berbagai yang bermanfaat bagi orang lain Insya Allah bisa juga menambah pahala dan ladang amal kita.

      4.      Menulis sebagai sumber penghasilan

Sudah banyak para penulis yang mendapatkan penghasilan dari hasil tulisannya. Tentu saja ini bukan sesuatu hal yang instan. Butuh proses panjang untuk menjadi penulis yang menghasilkan. Salah satunya adalah menjadi penulis yang produktif. Bukan hanya menulis buku saja lho agar bisa mendapatkan penghasilan dari menulis. Ada yang menjadi content writer, ghost writer, menulis review, lomba dan masih banyak lagi termasuk mengirimkan artikel dan karya fiksi ke media.

Ternyata menulis memberikan manfaat yang cukup besar baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Yuk mulai sekarang menulis setiap hari. Bingung dengan apa yang mau ditulis? Tuliskan apa saja yang dirasakan dan apa saja yang dialami. Kemudian bagi dengan orang lain agar manfaatnya terasa bagi orang lain yang mungkin pernah mengalami hal yang sama dengan kita. 

Si Emak Mencari Gretongan

11.27 0 Comments
Pamer belanjaan dan gretongannya
Siapa sih yang tak mau dikasih barang gratisan? Kalau saya sih dari zaman masih remaja dulu memang senang yang namanya barang gratisan. Jangankan gratis yang diskonan pun masih dikejar juga hehehehe.

Sampai sekarang pun, setelah jadi emak-emak, mencari promo barang gratisan atau diskonan tidak berkurang, malah makin menjadi-jadi hehehehe. Habis gimana, jadi emak kudu kreatif agar dapur tetap ngepul, ya kan mak?

Nah berhubung saya ini pencari gretongan, maka seneng banget kalau bisa dapatin katalog promo para swalayan atau mini market. Sayangnya saya tinggal di kampung dan minimarket yang ada itu ya bisa dihitung dengan jari. Hingga akhirnya saya memiliki 3 minimarker langganan. Sebut saja A, B dan C.

Minimarket A ini sudah ada di hampir di semua provinsi. Nah yang ini punya katalog Mak, lumayan kalau ada promo-promo. Seperti bulan Oktober lalu selain dapat harga diapers yang selisihnya hampir 10 ribu dari Minimarket B dan C saya juga dapat cashbak 50 ribu. Bulan ini juga banyak gratisannya, seperti beli susu 2 kotak dapat minyak 1 Liter. Harga susunya juga lebih murah memang dan dapat minyak goreng kan lumayan hehehe. Banyak juga promo beli 2 gratis 1, nah kalau yang promo begini saya harus bandingin harga dulu sama si B dan C, jangan sampai kena promo abal-abal.

Kalau minimarket B secara umum selain harganya memang lebih murah barangnya juga lebih lengkap. Sayangnya saya pernah kecewa berat sama kasirnya. Waktu itu dari 3 kasir cuma 1 kasir yang buka dan antrian cukup lumayan dan tidak beraturan. Eh pas tiba giliran saya si embak kasirnya malah duluin yang di belakang saya dengan alasan barangnya cuma sedikit. Emosi lah saya, saya marah-marahin tu kasir, kedengaran sama managernya dan si embak kasir ini akhirnya kena tegur.

Tapi yang namanya pernah dikecewain, ibarat kaca yang sudah pecah, walaupun disambung lagi tetap tidak akan sama. Makanya kadang kalau nggak kepepet banget saya malas kesini. Yang paling saya suka sih ada minimarket ini jualan buku juga untuk pelajaran anak-anak. Harganya terjangkau banget dari 3 ribu hingga 10 ribu. Lumayanlah buat belajar mas dan adek walau mereka belum sekolah.

Lanjut ke minimarket C, kalau disini dulu saya belanja karena ada kartu membernya. Tiap belanja 1500 dapat 1 poin. Nanti kalau sudah terkumpul bisa ditukarin macam-macam hadiah. Sayangnya saya sering gak dapat susu untuk mas dan adek jadinya ya poin nya gak ngumpul-ngumpul deh. Nah kalau minimarket A lagi g ada promo diapers, saya belinya kesini soalnya harganya paling murah.

Yah beginilah kehidupan emak-emak ala saya, selain cari gretongan saya juga tetep mencari harga yang lebih murah hehehe.

Selasa, 29 November 2016

Menyetrika Dengan Efektif

15.52 18 Comments
Credit

Beginilah kalau nggak punya ART. Harus serba bisa dan multitasking hehehe. Ya sekalian urus anak sambil belajar, mandi sekalian mandiin anak-anak, nidurin adek sambil ngawasin mas main. Tapi ada satu pekerjaan yang menurut saya susah untuk disambil ini itu, yaitu nyetrika.

Nyetrika memang salah satu momok buat saya. Masih mending nyuci bisa sambil main air, bocah-bocah mau bantuin juga hayuk aja paling habis itu tinggal mandi hihihi. Lha kalau nyetrika, bisa-bisa kulitnya pada melepuh kena setrika. Makanya saya alokasikan waktu khusus untuk nyetrika ini.

Awalnya sih saya keteteran, karena senin-jumat kerja dari pagi hingga sore maka nyetrikanya sabtu-minggu. Itupun masing-masing sampai setengah hari. Teler maaaakkk....

Kemudian saya nyoba nyicil, nyetrikanya subuh. Iya sih lumayan sabtu-minggu gak gitu berat. Tapi oh tapi tagihan listrik membengkak, hiks. Sampai kepikiran buat laundry aja. Tapi saya gak kuat bau wanginya laundry yang tajam. Membuat saya sakit kepala bahkan hingga muntah.

Nah pada minggu kemarin saya coba cara baru. Hal ini saya lakukan karena hari Sabtu ada acara jadi nggak nyetrika deh. Mulanya saya pilah mana baju anak, mana baju saya. Baju anak-anak saya setrika terlebih dahulu karena lebih mudah, yap tumpukan baju anak-anak yang segunung pun berubah menjadi tumpukan rapi hanya dalam waktu 2 jam. Selesai baju anak-anak baru baju dewasa saya eksekusi. Karena tak terlalu banyak sekitar 1 jam selesai deh itu semua setrikaan. Dan saya bisa bebas bermain dengan anak-anak. Yeay....

Nah ini sedikit tips dari saya agar menyetrika lebih efektif:
  1. Pisahkan baju anak dan baju dewasa.
  2. Kerjakan baju anak-anak terlebih dahulu.
  3. Jika menggunakan semprotan pengharum untuk baju anak, semprotkan dulu untuk 10 baju baru disetrika.
  4. Selesai menyetrika baju anak, langsung masukkan ke lemari anak dulu, ini sekalian relaksasi otot supaya tidak kaku, tegang dan pegal-pegal.
  5. Sekarang kerjakan untuk baju dewasa, satu-satu kerjakan.
  6. Dalaman tidak usah disetrika.
  7. Sudah selesai


Tips yang gak terlalu penting tapi mudah-mudahan bermanfaat.

Selasa, 22 November 2016

3 Kehamilan 3 Rasa

15.44 8 Comments
credit
Setiap ibu hamil pasti memiliki pengalaman dam cerita uniknya sendiri. Bukan hanya antar ibu tapi satu ibu antara kehamilan yang satu dengan yang lainnya pasti juga memiliki cerita yang berbeda. Seperti yang saya alami ini, tiga kali hamil tiga kali pula saya mengalami hal-hal yang berbeda.

Hamil anak pertama boleh dibilang cukup lancar. Memang di trimester awal kehamilan sempat mual-mual tapi tidak parah. Makan juga masih doyan. Naik turun tangga dari lantai 1 ke lantai 3 hampir 6 kali sehari juga masih aman.

Waktu hamil ini saya paling suka makan ayam bumbu khas rumah makan padang. Hampir tiap makan siang saya beli itu. Kalau sarapan masih agak bervariasi antara nasi kuning, bubur ayam atau nasi pecel. Makan malam paling seneng yang berbau daging, entah steak, sup iga atau sate kambing. Sayuran saya kurang suka pasti kalau beli tidak pernah dimakan. Sampai-sampai ibu saya bilang saya adalah bumil yang sangat sehat hehehe ini entah meledek entah memuji ya...

Pas puasa usia kandungan sudah menginjak 4-5 bulan. Alhamdulillah bisa puasa full. Pokoknya hamil nggak berasa hamil waktu itu. Lucunya setelah anak pertama ini mulai bisa makan nasi dan lauk pauk, menu yang jadi andalannya adalah ayam. Ya ayam gulai, ayam bakar, ayam goreng maupun ayam ala ala KFC.

Kehamilan yang kedua saya pikir akan lebih ringan, ternyata saya salah. Di kehamilan kedua ini tiap hari tiap pagi selama 9 bulan setiap bangun tidur saya pasti muntah. Padahal perut tanpa isi, rasanya seperti mengeluarkan obat, sakitnya luar biasa. Berat badan turun drastis, tapi alhamdulillah bb dekbay nya standar.

Uniknya kehamilan ini adalah setiap pagi setiap hari selama 9 bulan saya pasti minum kopi. Yah walaupun kadang seseruput doang. Kopi ini yang membantu saya mengurangi perih dan pahit setelah muntah. Selain itu kopi juga mengurangi mual sehingga saya bisa sarapan dengan agak nikmat.

Pas hamil kedua ini saya juga lebih doyan sayur ketimbang ayam atau daging. Paling seneng bikin sup. Dan entah ini kebetulan atau memang bayi yang dikandungan sudah memiliki selera, setelah bisa makan nasi dan lauk si adek memang favoritnya sup dan suka minum kopi hihihi.

Kehamilan ketiga jauh lebih parah dari kehamilan kedua di trimester pertama. Saya dibuat lemes lunglai tak berdaya. Nggak makan mual makan juga mual. Tapi selalu saya usahakan makan walau sedikit dan akhirnya harus keluar lagi. Bahkan untuk puasa pun saya tak sanggup.

Sama seperti kehamilan pertama, di kehamilan ketiga ini saya kurang suka makan sayur. Sukanya masakan jawa, ya bacem, sambel korek, sayur nangka dll. Paling mual kalai sudah mencium aroma khas masakan padang.

Kalau makanan paling favorit sepertinya sih tidak ada. Di bulan ke 4 sudah menjadi pemakan segala soalnya, gak pilih pilih lagi walaupun kadang masih suka balik lagi makanannya.

Sekarang usia kehamilan ketiga ini sudah 8 bulan, insya Allah HPL awal tahun depan. Mohon doanya semoga persalinan lancar.

Selasa, 13 September 2016

Simulasi Tabungan Qurban 2017

10.31 2 Comments
Saya tergelitik ketika membaca sebuah baliho di Islamic Center Bangkinang yang isinya kira-kira begini:
"Merokok Sehari Rp 12.000 / bungkus
 Sebulan Rp 360.000
 Setahun Rp 4.320.000
 Masa Qurban gak bisa?"

Mungkin kalimatnya tidak sama persis tapi kira-kira intinya begitulah. Saya pun jadi kepikiran, walaupun saya tidak merokok, tapi ada sebuah ide untuk menyisihkan sedikit rezeki yang kita peroleh demi menunaikan ibadah qurban ini. Maka iseng-iseng saya buat simulasi untuk menabung qurban selama setahun ini mengadopsi ide menabung selama setahun yang kemarin sempat populer itu. Tapi simulasi tabungan yang saya bikin ini flat tidak progresif seperti di program menabung tahunan tersebut.

Konsepnya cukup sederhana, tidak ribet ataupun susah yang penting kita mau konsisten. Yah tentu saja kita butuh media tabungan seperti celengan, dompet dan lain sebagainya. Terserah saja lebih nyaman menyimpan uangnya dimana. Kalau saya rencana di celengan ayam yang terbuat dari plastik saja biar bisa dipakai ulang nantinya.

Simulasi ini saya buat 3 versi, karena ada yang bisanya menabung bulanan, ada yang mingguan dan ada yang harian. Jadi saya berharap simulasi ini bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang nantinya hehehe. 

Asumsi untuk biaya qurban tahun depan disini saya anggarkan dua juta rupiah, berhubung di tahun ini sudah mencapai 1,7 juta an. Kalau lebih sisanya bisa ditabung lagi kalau kurang ya mudah-mudahan nggak nambah banyak. Nah tahun depan Idhul Adha jatuh pada tanggal 1 September 2017 jadi untuk yang harian dihitung mulai hari ini, yang mingguan terhitung minggu depan dan yang bulanan terhitung bulan depan.
 
Untuk file excelnya bisa diunduh disini SIMULASI TABUNGAN QURBAN 2017 

Oke deh langsung saja kita cap cus ke teknik menabungnya.

1. Bulanan
Menabung bulanan biasanya cocok untuk para pegawai yang menerima gaji bulanan. Jadi sedikit-sedikit bisa disisihkan. Di tabungan bulanan ini hanya terdiri dari 11 bulan sehingga jika 2 juta dibagi 11 sekitar Rp 181.818,18 jadi kita bulatkan saja ya Rp 185.000. Hasilnya kita akan mendapatkan Rp 2.035.000,00

2. Mingguan
Untuk tabungan mingguan ini saya buat dua versi, versi 50 minggu dan versi 49 minggu. Karena untuk versi 50 minggu, minggu ke 50 hanya di 4 hari terakhir bulan Agustus. Untuk yang 50 minggu per minggunya pas Rp 40.000 sedangkan yang 49 minggu besaran tabungan per minggunya sekitar Rp 40.816,33 dibulatkan sekitar Rp 41.000. Untuk 50 minggu hasilnya pas 2 juta rupiah, sedangkan yang 49 minggu hasilnya dua juta sembilan ribu rupiah.

3. Harian
Untuk harian jika dihitung dari hari ini sampai 31 Agustus 2017 ada sekitar 353 hari, jika uang qurban sudah harus diserahkan seminggu sebelumnya maka hari nya tinggal 346. Untuk yang harian 353 hari diperlukan tabungan sebesar Rp 5.665 sedangkan yang 346 hari sekitar Rp Rp 5.780 jadi dibulatkan menjadi Rp 6.000. Hasilnya untuk yang 353 hari Rp 2.188.000, sedangkan yang 346 hari Rp 2.076.000.

Jangan lupa simulasinya bisa didownload di SIMULASI TABUNGAN QURBAN 2017

Semoga tulisannya bermanfaat.