Minggu, 29 September 2013

Rainbow, Ujian Kesetiaan Seorang Istri

Credit


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Judul Buku: Rainbow- Selalu Ada Kesempatan Kedua
Penulis : Eni Martini
Penerbit: Elex Media Komputindo
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Sinopsis sampul belakangnya begitu menggoda hati. Sosok laki-laki sempurna yang tiba-tiba menjadi cacat dan kehilangan kepercayaan diri. Membuat saya begitu penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana laki-laki tersebut menjalani hari-harinya sebagai seorang penyandang cacat, dan juga bagaimana sang istri, yang hidupnya sudah tidak semanja dulu lagi, menghadapi hal tersebut.

Buku Rainbow karya Eni Martini membuat saya hujan air mata. Bagaimana seorang istri yang bernama Keisha bertahan ketika suami, Akna mengalami kecelakaan fatal dan membuatnya kehilangan berbagai hal, mulai dari kaki, pekerjaan hingga kepercayaan diri. Keisha dengan setia menemani, tak terpikirkan untuk meninggalkan lelaki yang sudah tidak sesempurna dulu lagi. Keisha juga dengan ikhlas mengambil alih tugas suaminya untuk mencari nafkah. Namun hidup memang tidak mudah. Cobaan yang dilalui membutuhkan kesabaran dan ketabahan. Sikap Akna yang terus terpuruk membuatnya menjelma menjadi manusia yang memiliki kepribadian mengerikan hingga istrinya ketakutan. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Mampukah Keisha terus bertahan? Dan bagaimana Akna kembali menjadi pribadinya yang dulu dan bisa menerima takdir hidupnya?

Buku ini tak melulu membahas soal problema rumah tangga, beberapa masakan  khas Medan disebut dan dijelaskan dengan detail seperti naniura. Selain itu dalam novel ini juga ada juga resep Ratatouille au Micro-Ondes yang konon dalam novel ini disebut sebagai masakan tradisional Perancis, kapan-kapan boleh dicoba ya resepnya.

Satu hal lagi yang saya sukai dari novel ini adalah ketika terjadi dialog antara orangtua kandung dengan anaknya, misalnya si istri, Keisha dengan orangtuanya selalu menggunakan Bahasa Sunda, begitupun ketika sang suami, Akna berbicara kepada orangtuanya selalu menggunakan Bahasa Batak, menambah pengetahuan kita tentang budaya Bangsa Indonesia. Hal tersebut juga mengingatkan saya kepada orangtua saya, kalau saya berbicara dengan mereka selalu menggunakan bahasa daerah.

Namun tiada gading yang tak retak ada beberapa hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini. Pertama ada dua halaman yang typo pertama halaman 84 paragraf 2, dimana Keisha bertemu dengan Romi di Kedai Roti Hijau, tapi tiba-tiba tertulis Akna yang berbicara disitu. Hal yang sama juga terjadi di halaman 109 paragraf kedua. Jelas harusnya kalimat tersebut Keisha ingin menangis bila mengingat semua itu namun kata bila tertulis bila.

Kedua,  hal yang membuat saya sangat penasaran hingga saat ini, yaitu detail kecelakaan yang menimpa Akna. Bagaimana kronologis tabrakan yang mengakibatkan kaki Akna harus diamputasi tidak dituturkan dalam novel ini. Kenapa vonis dokter hingga jalan terbaik adalah amputasi juga tidak dijelaskan dalam novel ini padahal tahapan untuk mendapatkan kaki palsunya dijabarkan dengan detail.

membaca novel Rainbow
Ketiga, dalam novel ini dibagian akhir Akna mengenakan sepatu yang akan diberikan pada Keisha ketika ulang tahun pertama pernikahan rasanya agak mubazir disebut karena ketika bertemu dengan Keisha tidak ada rasa terkejut suaminya mengenakan sepatu yang belum diberikannya. Kalau menurut saya sih jadi lebih klop kalau “Keisha mellihat suaminya tegap lagi dengan dua kaki dan mengenakan sepatu Bally, kado ulang tahun pernikahan, yang tidak jadi diberikannya.” Itu sih menurut saya, tapi ending kan hak perogratif penulis ya hehehe.

Secara keseluruhan saya sangat suka dengan novel ini, ceritanya ringan dan tidak menambah kerutan di dahi saya. Saya juga sangat menyukai karakter Keisha. Dia setia dan juga pejuang tangguh. Ketangguhannya ini yang bikin novel ini mengaduk-aduk hati pembacanya. Kesetiannya dalam menghadapi suaminya yang berubah perangai juga menjadi hal yang mengharu-biru. Pokoknya siapin tisu aja deh kalau baca novel ini.

 

2 komentar: