Rabu, 03 Juli 2013

# Cerita # Monday Flash Fiction

Prompt #19: Ibu Dimana?


Gilang menangis di depan kelas. Hari ini dia dipanggil ke depan kelas dan mendapatkan ucapan dari Guru Wali Kelasnya karena mendapatkan rangking satu. Sayang Ibunya yang seharusnya hadir saat itu tidak ada. Padahal kemarin Ibu sudah berjanji akan hadir. Hatinya makin sedih tatkala melihat temannya yang rangking dua dan tiga mendapat pelukan hangat dari Ibu mereka.

Sampai pembagian rapor selesai Ibunya tak kunjung datang. Gilang menunggu di depan kelas namun bukan Ibunya yang datang melainkan Nenek.

Setelah mengambil rapor Gilang dan sedikit berbasa-basi dengan Guru Wali Kelas Nenek kemudian menghampiri Gilang. Nenek tahu apa yang dirasakan cucu satu-satunya itu.

“Jangan sedih, walaupun Ibumu tak datang. Nenek bangga Gilang juara, sebagai hadiah Nenek akan mengajakmu membeli mainan.”
Credit

Senyum Gilang mengembang. Bocah tujuh tahun itu berjalan dengan semangat, seolah-olah lupa dia baru saja bersedih. Hari itu Nenek memang sangat memanjakannya. Mereka membeli banyak sekali mainan hingga hari menjelang sore Nenek baru ingat sesuatu.

Nenek membawa Gilang ke sebuah tempat. Terdapat jembatan yang harus dilalui disitu. Tiba-tiba Gilang menangis lagi, dia teringat akan ibunya lagi.

“Sewaktu kenaikan kelas kemarin Ibu mengajakku melewati jembatan ini. Tapi kali ini tidak.  Ibu dimana Nek?” Tangis Gilang pecah.
“Ayo Gilang, jangan menangis lagi tapi kamu ingin segera bertemu dengan Ibumu?”

Gilang hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin yang menuntunnya adalah Ibunya, walaupun Nenek juga sangat menyayanginya tapi lain rasanya jika Ibu bersamanya.

“Ibumu berpesan supaya kamu berdoa dulu di makam Kakek, makanya Nenek membawamu kesini, Nenek juga ingin mendoakan Kakek.” Nenek menjelaskan.

Gilang menurut, dia berdoa seperti yang pernah diajarkan Ibunya. Setelah selesai mereka kembali melewati jembatan yang membuat Gilang bertanya-tanya tentang keberadaan Ibunya. Apakah ibunya baik-baik saja? Ataukah Ibu sedang marah padanya? Namun Gilang tak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang dibuatnya sendiri.

Sepulang dari makam Kakek, Nenek tidak langsung membawa Gilang pulang. Nenek membawanya ke sebuah rumah. Rumah tempat merawat orang sakit, ya rumah sakit. Ada apa dengan Ibu? Tiba-tiba jantung Gilang berdetak kencang.

“Ibuuuu….” Gilang menangis di dekat Ibunya. Dia berada di sebuah kamar. Mata Ibu terpejam dan dia tidak bergerak.

“Gilang…selamat ya…maaf Ibu tidak bisa datang.” bisik Ibu.

“Jadi…Ibu tidak mati?” Ibu hanya tertawa mendengar pertanyaan Gilang.

“Selamat ya Gilang sudah jadi juara, dan selamat juga Gilang sudah jadi seorang Kakak.” Kata Ibu ketika perawat membawa masuk bayi mungil.


Gilang terkejut, ah ya perut Ibunya sudah tidak besar lagi dan adik yang diceritakan Ibu kini sudah ada di hadapannya. Gilang memeluk ibunya lagi, menciumnya kemudian mencium Adiknya. Nenek tersenyum, begitu juga Ayah yang baru pulang membeli makanan untuk mereka.


Tulisan ini untuk Prompt #19 Monday Flash Fiction

20 komentar:

  1. aih, Wida pinter nih memainkan perasaan. Bagus deh, jalan ceritanya...

    beneran happy ending yang ini... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh Nurin bikin aku Ge-eR deh jadi senyum-senyum sendiri nih :)

      Hapus
  2. Wah... selamat Mas Gilaaang :')

    BalasHapus
  3. Pertamanya aku kira bakal sad ending. Ternyata salah... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengen bikin yang hepi ending mbak...

      Hapus
  4. Aihhh... endingnya manis. Tapi rasanya janggal, karena mustinya Gilang liat kalo perut ibunya mlendung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya perlu diedit di bagian endingnya ya....

      Hapus
  5. gilang jangan nangis kamu punya adek lho hehe

    BalasHapus
  6. Aduh senangnya kalo haepi ending... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbak saya juga senag :D

      Hapus
  7. Slmt y, Gilang atas klahiran adiknya. He2.

    BalasHapus
  8. yeayyy...Gilang punya adek^^

    BalasHapus
  9. EEh.. dikira ibunya udah meninggal, ngga taunya ngga hadir karena habis melahirkan

    BalasHapus
  10. kenapa musti muter2 ke kuburan dulu sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. biar ada adegan nyebrang jembatan mbak, tapi malah nggak ada esensinya ya....hiks

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus