Kamis, 04 Juli 2013

Prompt #19: Ibu Dimana?

10.09 20 Comments

Gilang menangis di depan kelas. Hari ini dia dipanggil ke depan kelas dan mendapatkan ucapan dari Guru Wali Kelasnya karena mendapatkan rangking satu. Sayang Ibunya yang seharusnya hadir saat itu tidak ada. Padahal kemarin Ibu sudah berjanji akan hadir. Hatinya makin sedih tatkala melihat temannya yang rangking dua dan tiga mendapat pelukan hangat dari Ibu mereka.

Sampai pembagian rapor selesai Ibunya tak kunjung datang. Gilang menunggu di depan kelas namun bukan Ibunya yang datang melainkan Nenek.

Setelah mengambil rapor Gilang dan sedikit berbasa-basi dengan Guru Wali Kelas Nenek kemudian menghampiri Gilang. Nenek tahu apa yang dirasakan cucu satu-satunya itu.

“Jangan sedih, walaupun Ibumu tak datang. Nenek bangga Gilang juara, sebagai hadiah Nenek akan mengajakmu membeli mainan.”
Credit

Senyum Gilang mengembang. Bocah tujuh tahun itu berjalan dengan semangat, seolah-olah lupa dia baru saja bersedih. Hari itu Nenek memang sangat memanjakannya. Mereka membeli banyak sekali mainan hingga hari menjelang sore Nenek baru ingat sesuatu.

Nenek membawa Gilang ke sebuah tempat. Terdapat jembatan yang harus dilalui disitu. Tiba-tiba Gilang menangis lagi, dia teringat akan ibunya lagi.

“Sewaktu kenaikan kelas kemarin Ibu mengajakku melewati jembatan ini. Tapi kali ini tidak.  Ibu dimana Nek?” Tangis Gilang pecah.
“Ayo Gilang, jangan menangis lagi tapi kamu ingin segera bertemu dengan Ibumu?”

Gilang hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin yang menuntunnya adalah Ibunya, walaupun Nenek juga sangat menyayanginya tapi lain rasanya jika Ibu bersamanya.

“Ibumu berpesan supaya kamu berdoa dulu di makam Kakek, makanya Nenek membawamu kesini, Nenek juga ingin mendoakan Kakek.” Nenek menjelaskan.

Gilang menurut, dia berdoa seperti yang pernah diajarkan Ibunya. Setelah selesai mereka kembali melewati jembatan yang membuat Gilang bertanya-tanya tentang keberadaan Ibunya. Apakah ibunya baik-baik saja? Ataukah Ibu sedang marah padanya? Namun Gilang tak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang dibuatnya sendiri.

Sepulang dari makam Kakek, Nenek tidak langsung membawa Gilang pulang. Nenek membawanya ke sebuah rumah. Rumah tempat merawat orang sakit, ya rumah sakit. Ada apa dengan Ibu? Tiba-tiba jantung Gilang berdetak kencang.

“Ibuuuu….” Gilang menangis di dekat Ibunya. Dia berada di sebuah kamar. Mata Ibu terpejam dan dia tidak bergerak.

“Gilang…selamat ya…maaf Ibu tidak bisa datang.” bisik Ibu.

“Jadi…Ibu tidak mati?” Ibu hanya tertawa mendengar pertanyaan Gilang.

“Selamat ya Gilang sudah jadi juara, dan selamat juga Gilang sudah jadi seorang Kakak.” Kata Ibu ketika perawat membawa masuk bayi mungil.


Gilang terkejut, ah ya perut Ibunya sudah tidak besar lagi dan adik yang diceritakan Ibu kini sudah ada di hadapannya. Gilang memeluk ibunya lagi, menciumnya kemudian mencium Adiknya. Nenek tersenyum, begitu juga Ayah yang baru pulang membeli makanan untuk mereka.


Tulisan ini untuk Prompt #19 Monday Flash Fiction

Rabu, 03 Juli 2013

Bodrex Selamatkan Ujianku

16.38 5 Comments
Sebelum saya kuliah setiap sakit saya selalu dibawa ke dokter. Walaupun kadang saya merasa hanya sakit ringan tapi tetap saja dibawa ke dokter. Hingga akhirnya suatu hari saya harus merantau, karena harus kuliah dan tidak tanggung-tanggung saya yang dari kampung pergi ke Ibu Kota Jakarta.

Di Jakarta tentu saya harus mengurus keperluan saya sendiri, meskipun ada famili disana tapi saya tidak mau merepotkan dan sudah memutuskan untuk menghuni tempat kos. Disinilah dilema saya mulai muncul tatkala sakit menyerang. Sebelum kos masih ada Budhe yang merawat saya ketika sakit dan mengantar ke dokter. Di kos tentu semua sibuk dengan urusan masing-masing dan pergi ke dokter? Jujur saya sangat malas. Kalau beli obat yang dijual bebas? Jujur saya bingung mau beli obat merek apa, karena selama ini saya tidak pernah minum obat yang dijual bebas, semua obat dari dokter.

Senin, 01 Juli 2013

Lamaran

13.57 35 Comments
Hampir saja aku tak mengenalinya. Muka gantengnya kini penuh keriput. Rambut hitamnya kini juga dipenuhi uban. Mas Baskara, desisku.

“Manda…!” Sapanya mengagetkanku. Tak kusangka dia masih ingat padaku. Padahal mukaku telah dipenuhi keriput dan kulitkupun juga telah lisut

“Sebelum hilang kesempatan, menikahlah denganku.” Pernyataan yang dulu kutunggu, kini baru diucapkannya. Tapi sebelum kubalas badanku telah rubuh, dadaku sakit, sepertinya aku terkena serangan jantung.

Kontes Unggulan Enam Puluh Tiga