Jumat, 28 Juni 2013

Dag Dig Dug Razia

12.00 8 Comments
Haduh razia lagi… Bapak selalu mewanti-wantiku tentang hal ini kalau pergi ke kota. Maklumlah di kampung tak pernah ada razia. Di kampung juga tak perlu pakai helm. Dan di kampung tidak ada lampu lalu lintas.

Bapak memang sering menyuruhku untuk membuat SIM, supaya beliau tidak was-was lagi jika aku ke kota. Namun aku malas, kebanyakan orang membuat SIM dengan cara membayar. Sayang uang dibuang hanya demi sebuah SIM. Akhirnya memang hari itu tiba, hari dimana polisi melakukan razia dan aku sedang pergi ke kota.

Dulu temanku pernah mengajariku tak tik agar tidak tertangkap saat razia, yaitu memberikan STNK dan KTP sebagai pengganti SIM serta uang dua puluh ribu rupiah yang diselipkan diantara keduanya. Yah cara ini nampaknya masuk akal untuk mengelabui Pak Polisi. Temanku juga berpesan aku harus percaya diri dan tidak boleh nampak gugup saat menyerahkan surat-surat yang diminta polisi. Cara ini sudah sering dilakukan oleh temanku dan biasanya dia berhasil.

Hatiku makin dag-dig-dug manakala motorku makin dekat dengan tempat razia polisi. Semakin dekat aku semakin melambatkan motorku. Polisi di depanku mengisyaratkan agar aku berhenti.

Aku berhenti di depannya, seperti biasa polisi memberikan hormat dan meminta STNK dan SIM. Agak deg-degan tapi aku mencoba tampil percaya diri dan kuserahkan semua yang diminta Pak Polisi. Tak lama polisi itupun menyuruhku pergi.


Yeay…..!!!! Aku memacu motorku sambil tertawa senang karena cara ini berhasil. Polisi itu bahkan tak menyadari bahwa foto di SIM dan mukaku sebenarnya berbeda. Ya tadi pagi aku meminjam SIM kakakku.