Rabu, 10 April 2013

Prompt#9: Parfum

13.19 29 Comments
*ditulis untuk Monday Flash Fiction



Credit

Aku tersentak mencium aroma parfum yang sudah tak asing bagiku. Aroma ini bukanlah berasal dari parfum murahan atau parfum pasaran. Hanya dibuat 999 buah saja di dunia dan harganya tentu saja selangit, aku tahu karena aku yang membelinya.

Suasana diskotik yang remang-remang membuatku sulit menemukan orang yang aku cari. Tak lama kudapatkan sesosok pria yang kucari. Pria yang parfumnya telah menyentakku. Dan akulah yang memberinya parfum itu.

Aku menghampirinya, gadis yang tadinya berbicara dengannya beringsut pergi.

“Kemana saja kau Dan? Hampir dua minggu tak muncul?” sapaku sambil menyodorkan rokok untuknya.

Agak ragu dia menerimanya, “Lagi sibuk skripsi Tante.” Jawabnya agak tergetar sambil menyalakan rokoknya.

Kusodorkan segepok uang untuknya, “Temani Tante malam ini.”

“Dimana?” 

“Kau ikut saja.”

Dani mengikutiku dari belakang, kami meluncur menggunakan mobil Ferrari F12 Berlinetta.

“Mobil baru.” Kataku.

Dani hanya diam 

Beberapa menit kemudian kami tiba di rumah. Biasanya aku akan menghadiahi Dani dengan sebuah ciuman atau pelukan tapi hari ini aku menghadiahinya dengan pukulan. Ya pukulan oleh para bodyguardku.

“Ke…ke..napa Tante?” kulihat mulutnya mulai berdarah.

“Mau tahu jawabannya?” kemudian kupanggil sebuah nama “Lina..”

Gadis itu keluar, nampak perutnya yang buncit. Wajahnya diam menunduk menangis. Aku yakin Dani tahu siapa Lina karena kemarin kutemukan foto mesra mereka di buku harian Lina, bahkan beberapa pakaian Dani yang beraroma parfum itu terserak di atas tempat tidur anakku, Lina.

“Malam ini kuhabisi kau!”

Selasa, 02 April 2013

Prompt#8: Kendi Ajaib

23.28 21 Comments

umber: koleksi pribadi Lianny Hendrawati
Kendi ajaib ini tidak akan pernah kulepaskan. Kendi inilah yang telah menyelamatkanku. Beberapa waktu yang lalu aku hampir dibunuh oleh mantan kekasihku, dia cemburu karena aku dekat dengan lelaki lain. Tapi kendi ini telah menyelamatkanku, bukan aku yang mati melainkan mantan kekasihku yang mati dengan pisau yang akan digunakan untuk membunuhku.

Kendi ini juga menyelamatkanku lagi ketika aku digiring ke kantor polisi dengan tuduhan pembunuhan. Padahal aku yang hampir terbunuh, tapi tak berapa lama aku bebas tanpa syarat apapun. Kendi ini memang ajaib.

Kini kendi ini telah mengubah hidupku. Dulu hidupku keras, kini menjadi lunak dan mudah. Dulu aku hidup sendiri, kini banyak orang yang menemani. Dulu aku jarang bertemu Ibu, kini Ibu tiap hari menjengukku. Anehnya Ibu selalu menangis tiap menjengukku, kadang aku marah melihat Ibu berlaku demikian, tapi aku lebih banyak tertawa melihatnya menangis seperti anak kecil sebab kalau aku marah, orang-orang berseragam putih itu akan menangkapku dan menyuntikku.