Selasa, 05 Februari 2013

# kenangan

Tebusan Hadiah

Sebelum bercerita lebih lanjut, cerita ini adalah kisah masa remaja saya tanpa bermaksud mendiskreditkan profesi tertentu
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Hari Sabtu adalah hari yang kutunggu-tunggu. Ya hari itu adalah hari untuk pulang setelah seminggu bersemedi di kos dan sekolah hehehe. Kebetulan aku yang tinggal di kampung ini disekolahkan oleh bapak ibuku di kota yang kalau tiap hari pulang pergi akan memakan waktu dan energi. Jadilah aku di masukkan tempat kos sama ibu bapakku, yah itung-itung belajar mandiri lah. Kosanku ini kebetulan tidak begitu jauh dari lokasi sekolah, paling jalan kaki sekitar 10 menit. Selain itu ibu kosku yang biasa kami panggil 'Eyang' adalah ibu kos yang disiplin dan super ketat, tapi itu bukanlah masalah bagiku soalnya aku kan anak baik-baik hehehe.

Terminal klaten , pinjam foto dari sini
Dan hari sabtu pun aku pulang naik oplet yang ditempatku disebut 'kol' sampai ke terminal klaten. Dari terminal Klaten aku naik lagi bus jurusan ke solo yang di kaca depannya tertulis 'Jogja-Solo' sampai di Delanggu aku turun di tempat yang namanya perempatan 'Gotong Royong'. Nah dari perempatan situ baru aku naik angkot yang lewat gang depan rumahku, turun dari angkot jalan kira-kira 100 meter sampailah aku di rumah. Kebayang kan ribetnya kalo aku harus tiap hari berutinitas seperti itu.

Sampai di rumah rasanya pengen banting tasku yang berat ini. Gimana nggak? udah capek-capek pulang di rumah nggak ada orang. Kunci juga nggak dititipin, akhirnya aku duduk lemas di samping rumah yang kebetulan ada kursinya. Jaman itu aku belum dikasih HP sama ortuku, jadi ya daripada duduk bengong akhirnya aku ngerjain LKS (Lembar Kerja Siswa) hingga ada seorang tamu datang.

" Permisi mbak" kata seorang lelaki di teras rumah. Bajunya rapi dengan atasan berwarna putih dan celana hitam menenteng sebuah tas dan beberapa produk di tangannya. Aku tahu dia adalah seorang s*les. Dengan agak malas aku menghampirinya.

" Waduh Mas Bapak Ibu saya nggak ada" Jawabku, berharap orang itu segera pergi, tapi...

"Oh nggak pa pa, sama Mbak aja deh." katanya, jujur saat itu aku bingung gimana lagi ngelesnya karena di rumah nggak ada orang lain selain aku.

"Saya mau kasih kuis nih mbak kalo mbak bisa jawab dengan benar nanti dapat hadiah lho." katanya saat melihatku bengong.

"Ya udah deh." jawabku senang karena akan mendapat hadiah.

"Oke ini pertanyannya, negara mana yang menjadi kiblat parfum dunia." tanyanya. hadeuh pertanyaan ko susah begini sih kalo kiblat fashion aku tahu lah kalo parfum, baru denger.

"Amerika." jawabku ngasal.

"Yeay mbak bener dan berhak mendapatkan parfum dan compact powder ini seharga dua ratus enam belas ribu rupiah bisa ditebus dengan lima puluh ribu rupiah saja."

Pertamanya aku terkejut saat ni mas mas heboh gitu, terakhirnya agak kecewa dapet hadiah kok bayar, tapi entah kenapa ya waktu itu aku mau aja bayar lima puluh ribu rupiah itu yang di saat itu adalah uang yang sangat besar bagiku (tahun 2002). Lima puluh ribu adalah sebagian uang saku bulananku dan tiba-tiba menjadi sebuah parfum dan compact powder.

Begitu si mas mas ini pergi tiba-tiba aku baru sadar. Buat apa coba hadiahnya tadi kutebus toh kalo nggak ditebus juga gak bakalan kenapa-kenapa. Lagian pertanyaan kuis yang nggak banget masak ya kujawab juga sih. Duh bodoh amat aku ni ya. Lagi merenungi nasib sialku Bapak tiba-tiba mengejutkanku.

"Udah lama nduk."

"Iya udah dari tadi, lagian pada pergi nggak ninggalin kunci sih." jawabku jutek.

"Owh kirain pulang sore." jawab Bapak enteng.

Tak lama kemudian ibu pulang.

"Kenapa cemeberut gitu?" tanyanya.

"Abis kena tipu." jawabku ngasal. Bapak dan Ibuku sontak kaget mendengar jawabanku.

"Kena tipu apa?" tanya Ibu terheran-heran.

Kemudian aku ceritakan kronologinya seperti apa, sebenarnya aku takut kena marah tapi karena rasa sebel dan marahku lebih besar maka rasa takut dimarahipun luntur. Namun di luar dugaanku Bapak dan Ibuku tertawa.

"Ya udah anggap aja itu pengalaman. Pengalaman mahal harganya lho." kata Ibuku.

Iya sih pengalaman nggak akan ternilai dengan uang lima puluh ribu rupiah. Dan akhirnya Ibu mengganti uang lima puluh ribu rupiahku itu, compact powdernya beliau yang make sementara parfum dipakai oleh Bapak. Tapi kejadian itu sungguh membuatku penasaran dengan harga kedua barang tersebut, walhasil tiap ke mall pasti kucari harga compact powder dan parfum itu. Harga compact powdernya gak ketemu sih cuma harga parfumnay waktu itu kisaran 50-60 ribuan.

Tiba-tiba tadi malam ingat aja gitu kejadian ini dan kesimpulannya adalah : " maklumlah gue ketipu waktu itu kan gue belum lulus SMA, kalo dia kan udah lulus SMA."

2 komentar:

  1. kalo udah lulus SMA jadi bisa nipu yang belum lulus SMA? gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu hanya menghibur diri sendiri aja mil, jadi maksudku maklumlah aku yang belum lulus sma kena tipu yang nipu udah lulus sma gitu hehehe, sebenernya ni modus penipuan bukan sih?

      Hapus