Senin, 11 Februari 2013

# lomba # Obrolan

Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup



Ini adalah sebuah ringkasan perjalanan perantauan saya. Dimulai ketika saya lulus SMP dan harus merantau ke ibukota kabupaten dikarenakan transportasi yang cukup rumit, kemudian selepas SMA saya mencoba sebentar hidup di ibukota provinsi yaitu semarang. Perjalanan nasib membawa saya hingga ke Jakarta, dari Jakarta inilah akhirnya pertama kali saya merasakan naik pesawat hingga ke pulau Kalimantan. Hanya dua tahun bertahan di pulau ini saya kemudian diboyong suami ke Pulau Sumatera. Semua pengalaman ini sangat berkesan dan menjadi sejarah tak terlupakan dalam hidup saya.

Klaten Bersinar
Pada tahun 2001 ketika saya mulai masuk sekolah menengah atas saya terpaksa berpisah dengan orang tua saya. Jarak tempuh ke sekolah yang cukup jauh dan tidak memungkinkan untuk antar jemput akhirnya saya dikoskan. Dari sinilah saya belajar untuk mandiri, pulang seminggu sekali tiap hari Sabtu dan kembali lagi di hari Seninnya.
 
Penyesuaian di Kota ini tidak terlalu susah, maklumlah masih satu kabupaten. Masalah rasa masih standar, masalah adat budaya juga masih sama. Yang membedakan adalah saya harus pergi cari makan pagi, siang dan malam jika pengen kenyang, kalo males ya terpaksa tidur sambil kelaperan. Hasilnya kelas 3 SMA sayapun jadi kurus turun berat badan saya hingga 7 kilo hihihi. Yess! Yesss!

Kota Semarang, Tinggal di Kolong Jembatan Tol
Alhamdulillah tahun 2004 saya lulus SMA. Ikutan jalur PMDK ke IPB nggak lolos. Akhirnya saya ikut USM STAN, STIS dan ikutan SPMB. STAN saya tidak lolos, STIS saya lolos tes tahap pertama, waktu menunggu pengumuman tes tahap kedua SPMB sudah lebih dahulu diumumkan dan saya lolos untuk pilihan kedua saya di UNDIP

Singkat cerita akhirnya saya ngekos lagi, kali ini di Semarang. Sempat dapat ledekan kalau saya ngekos di kolong jembatan tol hehehe, maklum lah di persimpangan jalan masuk ke kos saya memang terdapat jembatan tol disitu. Posisi jembatan itu di atas persimpangan jalan tadi jadilah saya bahan bulan-bulanan saudara saya.

Tapi tak lama saya di hanya beberapa minggu hingga kemudian saya mendapat telepon dari BPS Provinsi Jawa Tengah bahwa saya dinyatakan lolos tes Tahap II STIS dan diperbolehkan mengikuti  tes tahap III yaitu Tes Kesehatan (Saya masuk cadangan).

Go To Jakarta
Alhamdulillah di tes tahap III ini saya lulus walaupun sempat ada tragedi HP nyemplung bak mandi. Akhirnya hari itu saya, Ibu dan Bapak ke Jakarta naik kereta. Saya termasuk beruntung ibu saya memilki saudara di Semarang dan Jakarta, jadi sebelum mendapat tempat yang pasti kami bisa numpang di rumah saudara. Apalagi di Jakarta yang begitu rumit bisa-bisa tersesat kami kalau tidak ada petunjuk jalan.

waktu wisuda
Empat tahun di Jakarta saya merasakan hal yang cukup menyenangkan. Mulai dari melihat Monas secara langsung, pergi ke Masjid Istiqlal, ke Ragunan, ke Bioskop dan lain-lain belum lagi menjelajah di wilayah sekitar Jakarta seperti ke Puncak, ke Kebun Raya Bogor dan Gunung Salak. Sayangnya walaupun sampai Jakarta saya belum sempat ketemu Presiden secara langsung, baru ketemu wakil Presiden Pak Jusuf Kalla sewaktu meresmikan acara pembukaan Islamic Bookfair di Senayan.

Terbang Perdana Menuju Borneo
Oktober 2008 saya di wisuda. Setelah itu beberapa bulan lamanya kami seangkatan diwajibkan magang di instansi yang menaungi sekolah kami dan akhirnya terbitlah SK CPNS yang mengharuskan saya hengkang dari Jakarta.

Inilah pengalaman perdana saya naik pesawat. Jujur takuuuuttt banget tapi ketakutan itu sedikit menghilang karena kami berangkat serombongan. Dan kali ini tidak ada tempat tujuan kami karena bapak maupun ibu saya tidak punya saudara disini hanya teman ibu semasa kecil. Tapi Alhamdulillah dibantu oleh salah seorang kepala sub bagian di kantor baru saya tersebut akhirnya saya mendapatkan tempat kos yang nantinya saya huni lebih dari dua tahun. Dengan berbagai macam suka dukanya, dengan berbagai karakter penghuninya yang silih berganti.

Hingga tiba suatu hari. Hari bersejarah dalam hidup saya. Hari peralihan tanggung jawab dari orang tua kepada seorang lelaki asing yang menjadi suami saya. Akhirnya pada tanggal 3 Maret 2011 saya resmi menyandang status sebagai seorang istri. Pada tahun yang sama di bulan Oktober resmi pulalah saya meninggalkan Provinsi Kalimantan Timur yang saya cintai.

Hari Baru Lembaran Baru
Pada awal-awal saya tinggal di Bangkinang, Kabupaten Kampar Provinsi Riau saya belum sanggup untuk beradaptasi dengan makanannya. Rasa pedas tanpa gula adalah rasa yang tidak begitu saya sukai. Berbeda dengan di Samarinda dulu semua makanan serasa pas di mulut saya bahkan untuk sayur asam khas banjar yang mencampurkan ketela pohon dalam sayurnya. Tapi di Bangkinang? Sarapan nasi kuning atau nasi uduk kesukaan saya tidak ada, bubur ayam tidak ada, yang ada lontong sayur super pedas, bubur kacang ijo daaaannn sate bumbu tepung. Membutuhkan waktu setahun untuk bisa menyesuaikan rasa tersebut di lidah.
Dan akhirnya saya tidak tahu apakah saya masih disebut perantau saat ini. Secara ya KTP saya udah KTP Riau dan Alhamdulillah akhir 2011 kemarin kami membeli sebuah rumah mungil di kawasan perumahan dekat Jalan Lingkar Bangkinang. 

Inilah kisah perantauan saya semoga bisa dibaca oleh anak cucu, dan Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Gendu-Gendu Rasa Perantau

16 komentar:

  1. widaaa, asik ya, udah dapet 3 pulau... Jawa-Kalimantan-Sumatera...

    he'em, wid, aku yang lahir di Sumatera aja masih nggak bisa nerima masakan sini, apalagi Wida yang asli Jawa ya... Pedesssss :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi iya nih mbak udah tiga pulau terlampaui ya....tapi gak sekali dayung lho ini....:)

      btw di lampung pedes juga toh mbak masakanya?

      Hapus
    2. di lampung kan aku nggak ngekos, jadi nggak/jarang maem-maeman warung. tapi secara umum di lampung beti sih sama jawa-jakarta, soale banyak orang jawanya, walaupun nggak terlalu manis kayak di jawa, nggak kayak disini, hampir semua yang buka warung makan orang minang :(

      Hapus
    3. ternyata aku ada kawannya ya... dulu bingung banget kalo pengen maem di luar apalagi mall juga jauh dari sini hihihi tapi sekarang udah lumayan menjelajah, bakso malang udah dapat, pecel jawa juga udah nemu tinggal naskun yang belum ada

      Hapus
  2. Jebulnya Mbak Ayum nggak cocok masakan Sumatra toh. Bakalan tersiksa kalo ke Aceh, makanannya pedes tur bersantan.

    Kok aku nggak ketemu kamu di UNDIP ya. Kalo ketemu dari dulu kan bisa menggila bareng lebih awal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha kamu doyan nggak mil masakan aceh? oya dulu mie rebus or mie goreng disini aku gak suka juga lho tapi sekarang malah ketagihan ma mie rebusnya.

      di UNDIP jelas nggak ketemu lah mil jurusanmu kan jurusan bonafid :'(

      Hapus
    2. Emangnya Milo sempet di Undip jurusan bonafit apaan sih? kedokteran? *penasaran,, :)

      Hapus
    3. sempet rin kalo gak salah dia di tekkim, di UNDIP udah akreditasi A passing gradenya juga lumayan tinggi

      Hapus
    4. Aku nggak sebagian besar makanan sini. Palingan doyan cuma mi2an aja sama kue2nya.

      Hapus
    5. aku dulu seneng makan bakmi jowo waktu itu tiba-tiba kangen pengen bakmi jowo (bakmi rebus) dan pesanlah itu mi rebus dan eng ing eng.... beda banget sama yang dijawa akhirnya telurnya aja tak makan, tapi alhamdulillah sekarang dah doyan hihihi

      Hapus
  3. wah uda loncat di beberapa kota...hebat :)

    sukses mbk GA-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena tuntutan pekerjaan ni mbak

      terima kasih

      Hapus
  4. foto rumahnya mana? klo ke jkt bawa sate yang di pasar itu ya. Penasaran aku rasanya.

    BalasHapus
  5. Selamat Mbak, anda termasuk pemenang dalam GA ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih udah dikasi tau, kemarin langsung ke TKP terus nodong si empunya GA hehehe

      Hapus