Minggu, 22 Desember 2013

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

11.02 5 Comments


http://emak2blogger.web.id

Selamat  Hari Ibu….

Kenapa sih Hari Ibu dirayakan tanggal 22 Desember?

Sambil ngintip-ngintip buku sejarah, rupanya pada tanggal 22-25 Desember 1928 pernah dilaksanakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta, tapi ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu baru diputuskan pada Kongres Perempuan III tahun 1938 dan ditetapkan juga melalui Dekrit Presiden No. 136 Tahun 1959.

Sebenarnya misi awal ditetapkannya  Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Kini Hari Ibu diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih terhadap jasa besar Ibu.

Bagi saya sendiri tak ada perayaan istimewa untuk Hari Ibu, juga tidak pernah ada kado khusus untuk Ibu. Memang dari dulu kami tidak pernah ada acara khusus untuk memperingati Hari Ibu tapi kami sering mengucapkan Hari Ibu kepada Ibu.

“Selamat Hari Ibu ya, Bu.” Ucapku dan Bapak serentak.

“Mumpung Hari Ibu, Ibu libur dulu ya ngerjain kerjaan rumah.” Begitu jawab Ibu, walaupun tidak sungguh-sungguh tapi hal tersebut  membuat kami takut. Bagaimana kalau Ibu beneran libur di Hari Ibu, siapa yang mau mengerjakan pekerjaan Ibu? 

Ibu memang bawel, tapi percayalah kebawelannya itu karena beliau teramat sayang kepada anaknya. Karena ketika anak mulai bertumbuh dan sedang masa penyaringan baik buruknya perilaku, kebawelan Ibu cukup berperan. Kalau dulu Ibu tidak bawel menyuruh saya berhenti minum es mungkin saya tidak tahu kalau es yang di pasaran itu ada pemanis buatan yang mengakibatkan batuk. Kalau Ibu dulu tidak bawel mungkin saya tidak tahu kalau bicara sekenanya itu bisa menyakiti hati orang. Yah, terkadang kita anak-anaknya tidak suka dengan kebawelannya begitupun anak kita nanti, tapi kebawelan itulah yang menuntun kita menemukan jalan yang benar.

Satu hal lagi yang menyadarkan saya bahwa anak walaupun sudah berumur berapapun tetaplah anak kecil di mata Ibu dan Bapaknya. Kesalahan apapun yang diperbuat anaknya orang tua pasti memaafkan walaupun kata maaf dari anaknya tak pernah terucap. Kalaupun terucap, kata maaf itu akan menjadi sesuatu yang mengharukan bagi orang tua. 

Perjuangan Ibu tidaklah mudah, dari mulai mengandung, melahirkan, menyusui hingga mendidik anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama. Ibu tidak pernah mengeluh, Ibu bahagia melihat anaknya tumbuh besar, menjadi orang pintar dan kemudian menjadi orang yang sukses. Ketika anaknya sukses Ibu tidak pernah meminta imbalan malah kadang kita lupa bahwa ada jasa Ibu di belakang kita. Waktu anaknya kesusahan, Ibulah yang akan menjadi penolong pertama. Bahkan seorang Ibu rela mengorbankan jiwanya demi anak-anaknya.
Tahun ini adalah kali pertama, kami para pegawai Badan Pusat Statistik merayakan Hari Ibu dengan upacara yang diselenggarakan pada hari Rabu (maaf tidak ada fotonya). Rasanya terharu sekali walaupun saya tidak dapat ikut karena melaksanakan tugas sebagai Ibu (menjaga anak).

Mudah-mudahan catatan kecil ini ada manfaatnya.

Sekali lagi Selamat Hari Ibu


Jumat, 22 November 2013

Menulis Novel vs Merajut Selimut

12.21 3 Comments
Saya mempunyai hobi menulis dan merajut. Emmm soal tulisan sih, tulisan saya biasa saja makanya saya juga belum punya buku yang terbit hehehe. Biasanya saya menulis tentang saya sendiri atau menulis resensi baik itu novel, film, maupun buku-buku non fiksi. Saya juga suka menulis tentang masa kecil saya yang menurut saya sangat mengasyikkan.

Sedangkan merajut saya juga mulai menyukainya di usia dini, kelas 6 SD. Saya secara tak sengaja menemukan jarum hakpen entah punya embah entah punya ibu yang jelas Mas saya bilang itu gunanya untuk merajut, membuat topi atau sweater. Sedangkan menurut saya waktu itu itu adalah jarum goni yang tumpul dan tidak ada lubang untuk memasukkan tali/benang.

Dan akhirnya merajut dan menulis menjadi bagian dari hidup saya. Dimulai dari ingin menjadi penulis setiap ada kesempatan lomba menulis saya sering ikut. Pertama kali saya bersama dua orang teman saya bisa menyelasaikan lomba karya tulis ilmiah dan masuk menjadi finalis walaupun tidak menang. Kemudian pernah beberapa kali dapat hadiah dari lomba menulis. Dan kali ini seperti setahun yang lalu saya ikutan tantangan NaNoWriMo untuk menulis sebanyak 50000 kata dalam bulan November ini.

Tahun lalu saya ikutan tapi dengan format novel yang kejar tayang tidak di format dulu. Hasilnya? Kurang dari 4000 kata saya hasilkan. Malu banget kaaannnn, soalnya pas bulan itu saya juga ikutan kursus *ngeles* jadi otaknya terbagi-bagi deh antara mengerjakan PR-PR kursus (kebetulan kursus jangka pendek) dan menulis yang harus menunggu pangsit datang...

Tahun ini sudah saya niatkan harus bisa tembus 50000 kata dalam sebulan. Cerita per bab sudah saya buat sejak beberapa bulan lalu. Dan hasilnya? Di hari yang tinggal -8 ini saya baru mampu menyelasaikan sekitar 10000an kata, masih 40000an kata lagi?

Menyelesaikan sisa-sisa 40000an kata lagi ini tiba-tiba mengingatkan saya pada merajut. Saat ini selain menulis saya juga sedang merajut yang deadline tanggal 24 sih tapi bukan selimut. Entah kenapa perasaan saya sama seperti ketika saya merajut selimut yang sudah mencapai seperlimanya. Rasanya pengen cepet selesai atau ganti rajutan yang lain karena bosan, tapinya juga saya pengen punya selimut rajut yang sangat hangat ketika dipakai.

Tapi kalau saya mau punya selimut rajut yang besar dan nyaman saya kan nggak boleh berhenti merajut atau ganti merajut yang lain ya. Tapiiii saya merasa kebosanan dan pengen berhenti.

Sama seperti menulis di tahun ini. Sudah 10 ribu kata itu amazing sekali buat saya. Soalnya saya kalau nulis bisanya yang pendek-pendek saja belum pernah bisa menulis yang panjang lebar. Dan kalau saya berhenti atau malah mengerjakan cerpen maka tulisan saya ini tentu tidak akan selesai bukan?

Tiba-tiba terpikir untuk event seperti ini di tahun depan dengan membuat kumcer saja, satu hari satu cerpen rasanya cukup untuk menembus 50ribu kata ini. Begitu pula dengan merajut, mungkin lebih baik saya menggunakan pola Granny atau Patchwork jadi merajut kecil-kecil baru disatukan supaya tidak bosan.

Jadi?

Jadi ya, yang ada harus diselesaikan dulu bukan? Yang tadi diplanning untuk tahun depan. semoga saja tidak keteteran.



Kamis, 10 Oktober 2013

Tutorial: Membuat Toping Astor

11.26 0 Comments
Udah lama banget nggak posting tentang tutorial kerajinan tangan. Sebenarnya udah ada beberapa saya buat tapi belum sempat mindahin foto ke laptop belum di edit dan lain sebagainya. Belum lagi saya baru sibuk-sibuknya pindah hehehehe

Untuk pemanasan tak ada salahnya kan saya bagikan tutorial yang gampang dulu yaitu membuat topping astor.

Alat dan Bahan:
Gunting
Penggarins
Lem
Kain Flanel warna putih dan coklat tua

Langkah Pengerjaan:
  1. Gunting kain flanel warna putih dengan ukuran 8 cm x 4 cm
  2. Gunting kain flanel warna coklat tua dengan ukuran 0.5 cm x 10 cm
  3. Gulung kain flanel warna putih 
  4. Beri lem di ujungnya (bagian akhir)
  5. Beri lem di sepanjang kain flanel warna coklat
  6. Balutkan pada kain flanel warna putih yang telah digulung tadi dengan arah spiral
Topping astor kita sudah jadi teman. Tinggal dikreasikan untuk topping apa. Kalau ingin buat yang lebih panjang ukuran bisa disesuaikan ya...

 Salam crafting
-widaaya-

Minggu, 29 September 2013

Rainbow, Ujian Kesetiaan Seorang Istri

22.27 2 Comments
Credit


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Judul Buku: Rainbow- Selalu Ada Kesempatan Kedua
Penulis : Eni Martini
Penerbit: Elex Media Komputindo
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Sinopsis sampul belakangnya begitu menggoda hati. Sosok laki-laki sempurna yang tiba-tiba menjadi cacat dan kehilangan kepercayaan diri. Membuat saya begitu penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana laki-laki tersebut menjalani hari-harinya sebagai seorang penyandang cacat, dan juga bagaimana sang istri, yang hidupnya sudah tidak semanja dulu lagi, menghadapi hal tersebut.

Buku Rainbow karya Eni Martini membuat saya hujan air mata. Bagaimana seorang istri yang bernama Keisha bertahan ketika suami, Akna mengalami kecelakaan fatal dan membuatnya kehilangan berbagai hal, mulai dari kaki, pekerjaan hingga kepercayaan diri. Keisha dengan setia menemani, tak terpikirkan untuk meninggalkan lelaki yang sudah tidak sesempurna dulu lagi. Keisha juga dengan ikhlas mengambil alih tugas suaminya untuk mencari nafkah. Namun hidup memang tidak mudah. Cobaan yang dilalui membutuhkan kesabaran dan ketabahan. Sikap Akna yang terus terpuruk membuatnya menjelma menjadi manusia yang memiliki kepribadian mengerikan hingga istrinya ketakutan. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Mampukah Keisha terus bertahan? Dan bagaimana Akna kembali menjadi pribadinya yang dulu dan bisa menerima takdir hidupnya?

Buku ini tak melulu membahas soal problema rumah tangga, beberapa masakan  khas Medan disebut dan dijelaskan dengan detail seperti naniura. Selain itu dalam novel ini juga ada juga resep Ratatouille au Micro-Ondes yang konon dalam novel ini disebut sebagai masakan tradisional Perancis, kapan-kapan boleh dicoba ya resepnya.

Satu hal lagi yang saya sukai dari novel ini adalah ketika terjadi dialog antara orangtua kandung dengan anaknya, misalnya si istri, Keisha dengan orangtuanya selalu menggunakan Bahasa Sunda, begitupun ketika sang suami, Akna berbicara kepada orangtuanya selalu menggunakan Bahasa Batak, menambah pengetahuan kita tentang budaya Bangsa Indonesia. Hal tersebut juga mengingatkan saya kepada orangtua saya, kalau saya berbicara dengan mereka selalu menggunakan bahasa daerah.

Namun tiada gading yang tak retak ada beberapa hal yang mengganggu saya ketika membaca novel ini. Pertama ada dua halaman yang typo pertama halaman 84 paragraf 2, dimana Keisha bertemu dengan Romi di Kedai Roti Hijau, tapi tiba-tiba tertulis Akna yang berbicara disitu. Hal yang sama juga terjadi di halaman 109 paragraf kedua. Jelas harusnya kalimat tersebut Keisha ingin menangis bila mengingat semua itu namun kata bila tertulis bila.

Kedua,  hal yang membuat saya sangat penasaran hingga saat ini, yaitu detail kecelakaan yang menimpa Akna. Bagaimana kronologis tabrakan yang mengakibatkan kaki Akna harus diamputasi tidak dituturkan dalam novel ini. Kenapa vonis dokter hingga jalan terbaik adalah amputasi juga tidak dijelaskan dalam novel ini padahal tahapan untuk mendapatkan kaki palsunya dijabarkan dengan detail.

membaca novel Rainbow
Ketiga, dalam novel ini dibagian akhir Akna mengenakan sepatu yang akan diberikan pada Keisha ketika ulang tahun pertama pernikahan rasanya agak mubazir disebut karena ketika bertemu dengan Keisha tidak ada rasa terkejut suaminya mengenakan sepatu yang belum diberikannya. Kalau menurut saya sih jadi lebih klop kalau “Keisha mellihat suaminya tegap lagi dengan dua kaki dan mengenakan sepatu Bally, kado ulang tahun pernikahan, yang tidak jadi diberikannya.” Itu sih menurut saya, tapi ending kan hak perogratif penulis ya hehehe.

Secara keseluruhan saya sangat suka dengan novel ini, ceritanya ringan dan tidak menambah kerutan di dahi saya. Saya juga sangat menyukai karakter Keisha. Dia setia dan juga pejuang tangguh. Ketangguhannya ini yang bikin novel ini mengaduk-aduk hati pembacanya. Kesetiannya dalam menghadapi suaminya yang berubah perangai juga menjadi hal yang mengharu-biru. Pokoknya siapin tisu aja deh kalau baca novel ini.

 

Kamis, 12 September 2013

Update Blog

13.03 0 Comments
Hehehe judulnya nggak banget ya... Tapi saya memang lagi pengen nulis di blog. Tadinya mau nulis tentang mudik kemarin sih tapi rasa-rasanya kok udah basi ya. Trus pengen ikutan menulis prompt dari Monday Flash Fiction juga gak kesampaian. Apalagi rencana membuat tutorial duh belum kesampaian juga.

Apa masalahnya?
 
Mungkin jawabannya cuma satu yaitu MALAS.

Eh tapi kalau ditanya alasannya mungkin bisa dijabarkan dalam seratus kata kali ya :)

Jadi awalnya pas habis  pulang kampung seperti biasa saya mengalami syndrome, syndrome kecapekan hehehe eh ini bukan syndrome ya…Foto-foto udah dikumpulin walaupun belum dimasukkan ke laptop tinggal menyusun kata-kata tapi takdir (cieee…) berkata lain. Setelah kembali dari Jawa di Riau malah sering mati lampu, padahal batre laptop dah soak. Gimana hayo saya bisa menyusun kata-kata.

Ketika semangat sudah datang saya suda bersiap menulis eh datang lagi kabar yang bikin saya agak syock, kabar mengenai kepindahan saya yang sangat mendadak, tapi Alhamdulillah diberi pimpinan yang pengertian. Jadi ketika menulis tulisan ini saya belum beranjak dari kantor lama karena memang belum menerima Surat Keputusan Pindah walaupun sudah dilantik.

Tuh kan udah nulis alasan seratus kata. Yah gitu deh akhirnya dengan kekuatan bulan (ups…) saya bisa menulis lagi. Meskipun ini agak dipaksakan. Pengen lanjut dulu nulis cerpen mumpung ada lomba yang deadlinenya akhir bulan ini.

See you friends






Kamis, 04 Juli 2013

Prompt #19: Ibu Dimana?

10.09 20 Comments

Gilang menangis di depan kelas. Hari ini dia dipanggil ke depan kelas dan mendapatkan ucapan dari Guru Wali Kelasnya karena mendapatkan rangking satu. Sayang Ibunya yang seharusnya hadir saat itu tidak ada. Padahal kemarin Ibu sudah berjanji akan hadir. Hatinya makin sedih tatkala melihat temannya yang rangking dua dan tiga mendapat pelukan hangat dari Ibu mereka.

Sampai pembagian rapor selesai Ibunya tak kunjung datang. Gilang menunggu di depan kelas namun bukan Ibunya yang datang melainkan Nenek.

Setelah mengambil rapor Gilang dan sedikit berbasa-basi dengan Guru Wali Kelas Nenek kemudian menghampiri Gilang. Nenek tahu apa yang dirasakan cucu satu-satunya itu.

“Jangan sedih, walaupun Ibumu tak datang. Nenek bangga Gilang juara, sebagai hadiah Nenek akan mengajakmu membeli mainan.”
Credit

Senyum Gilang mengembang. Bocah tujuh tahun itu berjalan dengan semangat, seolah-olah lupa dia baru saja bersedih. Hari itu Nenek memang sangat memanjakannya. Mereka membeli banyak sekali mainan hingga hari menjelang sore Nenek baru ingat sesuatu.

Nenek membawa Gilang ke sebuah tempat. Terdapat jembatan yang harus dilalui disitu. Tiba-tiba Gilang menangis lagi, dia teringat akan ibunya lagi.

“Sewaktu kenaikan kelas kemarin Ibu mengajakku melewati jembatan ini. Tapi kali ini tidak.  Ibu dimana Nek?” Tangis Gilang pecah.
“Ayo Gilang, jangan menangis lagi tapi kamu ingin segera bertemu dengan Ibumu?”

Gilang hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin yang menuntunnya adalah Ibunya, walaupun Nenek juga sangat menyayanginya tapi lain rasanya jika Ibu bersamanya.

“Ibumu berpesan supaya kamu berdoa dulu di makam Kakek, makanya Nenek membawamu kesini, Nenek juga ingin mendoakan Kakek.” Nenek menjelaskan.

Gilang menurut, dia berdoa seperti yang pernah diajarkan Ibunya. Setelah selesai mereka kembali melewati jembatan yang membuat Gilang bertanya-tanya tentang keberadaan Ibunya. Apakah ibunya baik-baik saja? Ataukah Ibu sedang marah padanya? Namun Gilang tak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang dibuatnya sendiri.

Sepulang dari makam Kakek, Nenek tidak langsung membawa Gilang pulang. Nenek membawanya ke sebuah rumah. Rumah tempat merawat orang sakit, ya rumah sakit. Ada apa dengan Ibu? Tiba-tiba jantung Gilang berdetak kencang.

“Ibuuuu….” Gilang menangis di dekat Ibunya. Dia berada di sebuah kamar. Mata Ibu terpejam dan dia tidak bergerak.

“Gilang…selamat ya…maaf Ibu tidak bisa datang.” bisik Ibu.

“Jadi…Ibu tidak mati?” Ibu hanya tertawa mendengar pertanyaan Gilang.

“Selamat ya Gilang sudah jadi juara, dan selamat juga Gilang sudah jadi seorang Kakak.” Kata Ibu ketika perawat membawa masuk bayi mungil.


Gilang terkejut, ah ya perut Ibunya sudah tidak besar lagi dan adik yang diceritakan Ibu kini sudah ada di hadapannya. Gilang memeluk ibunya lagi, menciumnya kemudian mencium Adiknya. Nenek tersenyum, begitu juga Ayah yang baru pulang membeli makanan untuk mereka.


Tulisan ini untuk Prompt #19 Monday Flash Fiction

Rabu, 03 Juli 2013

Bodrex Selamatkan Ujianku

16.38 5 Comments
Sebelum saya kuliah setiap sakit saya selalu dibawa ke dokter. Walaupun kadang saya merasa hanya sakit ringan tapi tetap saja dibawa ke dokter. Hingga akhirnya suatu hari saya harus merantau, karena harus kuliah dan tidak tanggung-tanggung saya yang dari kampung pergi ke Ibu Kota Jakarta.

Di Jakarta tentu saya harus mengurus keperluan saya sendiri, meskipun ada famili disana tapi saya tidak mau merepotkan dan sudah memutuskan untuk menghuni tempat kos. Disinilah dilema saya mulai muncul tatkala sakit menyerang. Sebelum kos masih ada Budhe yang merawat saya ketika sakit dan mengantar ke dokter. Di kos tentu semua sibuk dengan urusan masing-masing dan pergi ke dokter? Jujur saya sangat malas. Kalau beli obat yang dijual bebas? Jujur saya bingung mau beli obat merek apa, karena selama ini saya tidak pernah minum obat yang dijual bebas, semua obat dari dokter.

Senin, 01 Juli 2013

Lamaran

13.57 35 Comments
Hampir saja aku tak mengenalinya. Muka gantengnya kini penuh keriput. Rambut hitamnya kini juga dipenuhi uban. Mas Baskara, desisku.

“Manda…!” Sapanya mengagetkanku. Tak kusangka dia masih ingat padaku. Padahal mukaku telah dipenuhi keriput dan kulitkupun juga telah lisut

“Sebelum hilang kesempatan, menikahlah denganku.” Pernyataan yang dulu kutunggu, kini baru diucapkannya. Tapi sebelum kubalas badanku telah rubuh, dadaku sakit, sepertinya aku terkena serangan jantung.

Kontes Unggulan Enam Puluh Tiga

Jumat, 28 Juni 2013

Dag Dig Dug Razia

12.00 8 Comments
Haduh razia lagi… Bapak selalu mewanti-wantiku tentang hal ini kalau pergi ke kota. Maklumlah di kampung tak pernah ada razia. Di kampung juga tak perlu pakai helm. Dan di kampung tidak ada lampu lalu lintas.

Bapak memang sering menyuruhku untuk membuat SIM, supaya beliau tidak was-was lagi jika aku ke kota. Namun aku malas, kebanyakan orang membuat SIM dengan cara membayar. Sayang uang dibuang hanya demi sebuah SIM. Akhirnya memang hari itu tiba, hari dimana polisi melakukan razia dan aku sedang pergi ke kota.

Dulu temanku pernah mengajariku tak tik agar tidak tertangkap saat razia, yaitu memberikan STNK dan KTP sebagai pengganti SIM serta uang dua puluh ribu rupiah yang diselipkan diantara keduanya. Yah cara ini nampaknya masuk akal untuk mengelabui Pak Polisi. Temanku juga berpesan aku harus percaya diri dan tidak boleh nampak gugup saat menyerahkan surat-surat yang diminta polisi. Cara ini sudah sering dilakukan oleh temanku dan biasanya dia berhasil.

Hatiku makin dag-dig-dug manakala motorku makin dekat dengan tempat razia polisi. Semakin dekat aku semakin melambatkan motorku. Polisi di depanku mengisyaratkan agar aku berhenti.

Aku berhenti di depannya, seperti biasa polisi memberikan hormat dan meminta STNK dan SIM. Agak deg-degan tapi aku mencoba tampil percaya diri dan kuserahkan semua yang diminta Pak Polisi. Tak lama polisi itupun menyuruhku pergi.


Yeay…..!!!! Aku memacu motorku sambil tertawa senang karena cara ini berhasil. Polisi itu bahkan tak menyadari bahwa foto di SIM dan mukaku sebenarnya berbeda. Ya tadi pagi aku meminjam SIM kakakku.


Senin, 06 Mei 2013

Balasan Surat Takita Keluargaku Pendidikanku: Menanamkan Disiplin Sejak Dini

14.47 0 Comments
lomba-blog
Hai Takita, senang sekali membaca surat darimu. Kakak juga tersenyum-senyum sendiri membaca surat Takita yang lucu, di bagian membaca cerita untuk boneka. Kakak jadi ingat dulu waktu kecil Kakak suka melihat ibu menulis, akhirnya Kakak ikutan menulis juga tapi asal-asalan kalau dilihat malah seperti sandi rumput hehehe.

Sekitar umur lima tahun sebelum Kakak masuk TK, kakak laki-laki kakak mengajari Kakak membaca. Waktu itu terasa berat, banyak sekali aturannya, pikir Kakak, tapi lama kelamaan setelah terbiasa Kakak malah jadi kecanduan membaca. Apa saja bacaan yang ada di rumah Kakak baca. Mulai dari koran, majalah anak-anak, sampai prasasti yang dibuat Ayah di lemari kayunya hihihi seru ya...

Masuk ke Sekolah Dasar Orang Tua Kakak makin mengetatkan peraturan. Kakak paling besar saat itu sudah masuk Sekolah Menengah Pertama, kakak laki-laki sudah kelas lima Sekolah Dasar, sedangkan Kakak sendiri masuk kelas satu Sekolah Dasar. Saat itu kami tidak diperkenankan menonton televisi sebelum selesai belajar.

Belajar bukan hanya belajar pelajaran sekolah saja lho Takita, tapi kami juga belajar mengaji. Kalau guru mengaji memang sengaja diundang oleh orang tua kami, seminggu tiga kali, Malam Selasa, Kamis dan Sabtu. Sedangkan belajar pelajaran sekolah biasanya Ayah atau Ibu yang menemani kami. Kakak juga masih ingat waktu itu yang mengajari Kakak pembagian bilangan adalah Ayah.

Awalnya kami merasa berat menjalankan peraturan tersebut. Kalau Takita sering menonton TV acara TV yang menarik itu justru disaat jam belajar kami itu. Sayang kami tidak bisa menonton karena diwajibkan belajar. Biasanya kami akan melapor bahwa kami telah selesai belajar dan hendak menonton TV. Nah biasanya Ayah dan Ibu akan memeriksa PR-PR kami, sudah selesai atau belum, apakah sudah mengulang pelajaran hari ini atau belum dan bertanya apa pelajaran esok. Jika semua pertanyaan telah kami jawab dengan baik maka Ayah dan Ibu memperbolehkan kami menonton TV, tapi acara menonton TV ini tidak lama lho Takita, karena sudah waktunya kami tidur supaya esok hari tidak bangun kesiangan.

Lambat laun kamipun merasa peraturan dari orang tua kami tidaklah seberat waktu di awal kami menjalaninya. Kenapa? Karena kami mulai terbiasa Takita. Coba dulu rengekan kami dipenuhi oleh Ayah dan Ibu, mungkin kebiasaan belajar tidak akan kami rasakan. Dan tahu nggak Takita, setelah Kakak dewasa dan sudah tidak bersekolah lagi Kakak masih tetap belajar setiap malam lho Takita. 
Kakak dan Orang Tua yang Kakak banggaka, saat wisuda.


Selain masalah disiplin waktu orang tua kami juga membatasi fasilitas yang beliau anggap tidak bermanfaat. Misalnya nih waktu Kakak dan Kakak Laki-Laki Kakak meminta sebuah mainan. Mainan ini memang sebenarnya tidak bermanfaat Takita, kalau dibeli hanya akan membuat kami malas belajar, makanya orang tua kami tidak membelikannya.

Kemudian juga tentang TV, dulu Kakak kira Ayah dan Ibu tidak punya uang untuk membeli TV baru yang berwarna makanya TV Hitam Putih kami yang sudah agak rusak masih tetap dipakai. Rupanya Kakak salah Takita, Ayah dan Ibu tidak membeli TV baru karena hal itu dianggap akan mengganggu belajar kami di rumah. Ini baru Kakak sadari setelah Kakak dewasa Takita.

Kini Kakak telah memiliki seorang putra yang berusia 1 tahun. Walaupun usianya baru 1 tahun si Kecil Kakak latih untuk punya waktu belajar khusus sejak usia 6 bulan. Anak setahun itu kan sebenarnya belajarnya adalah bermain kan Takita? Nah kalau si Kecil ini Kakak sisihkan waktu khusus untuk melihat (karena si Kecil belum bisa membaca) dan dibacakan cerita anak-anak.

Rupanya si Kecil menjadi terbiasa Takita, sekarang setiap malam si Kecil minta didongengkan atau membaca buku ceritanya. Kadang si Kecil juga meniru gerakan yang ada di dalam buku. Lucu Takita Kakak sampai tertawa. Harapan Kakak kini kelak si Kecil meneruskan kebiasaan ini, tak hanya melihat atau dibacakan buku tapi juga belajar membaca buku dan berhitung, tapi itu tunggu nanti ya Takita jika saatnya sudah tepat.
Ini si Kecil tumpuan harapan Kakak


Tak terasa ya Kakak sudah bercerita panjang lebar. Jadi di keluarga Kakak belajar itu harus dijadikan kebiasaan. Dan kebiasaan itu dibentuk melalui kedisiplinan. Dan kini inilah inspirasi Kakak untuk mendidik si Kecil yang Kakak sayangi.

Semoga Takita dan teman Takita di seluruh Indonesia tidak bosan ya membaca surat Kakak ini.
Salam Sayang

Rabu, 10 April 2013

Prompt#9: Parfum

13.19 29 Comments
*ditulis untuk Monday Flash Fiction



Credit

Aku tersentak mencium aroma parfum yang sudah tak asing bagiku. Aroma ini bukanlah berasal dari parfum murahan atau parfum pasaran. Hanya dibuat 999 buah saja di dunia dan harganya tentu saja selangit, aku tahu karena aku yang membelinya.

Suasana diskotik yang remang-remang membuatku sulit menemukan orang yang aku cari. Tak lama kudapatkan sesosok pria yang kucari. Pria yang parfumnya telah menyentakku. Dan akulah yang memberinya parfum itu.

Aku menghampirinya, gadis yang tadinya berbicara dengannya beringsut pergi.

“Kemana saja kau Dan? Hampir dua minggu tak muncul?” sapaku sambil menyodorkan rokok untuknya.

Agak ragu dia menerimanya, “Lagi sibuk skripsi Tante.” Jawabnya agak tergetar sambil menyalakan rokoknya.

Kusodorkan segepok uang untuknya, “Temani Tante malam ini.”

“Dimana?” 

“Kau ikut saja.”

Dani mengikutiku dari belakang, kami meluncur menggunakan mobil Ferrari F12 Berlinetta.

“Mobil baru.” Kataku.

Dani hanya diam 

Beberapa menit kemudian kami tiba di rumah. Biasanya aku akan menghadiahi Dani dengan sebuah ciuman atau pelukan tapi hari ini aku menghadiahinya dengan pukulan. Ya pukulan oleh para bodyguardku.

“Ke…ke..napa Tante?” kulihat mulutnya mulai berdarah.

“Mau tahu jawabannya?” kemudian kupanggil sebuah nama “Lina..”

Gadis itu keluar, nampak perutnya yang buncit. Wajahnya diam menunduk menangis. Aku yakin Dani tahu siapa Lina karena kemarin kutemukan foto mesra mereka di buku harian Lina, bahkan beberapa pakaian Dani yang beraroma parfum itu terserak di atas tempat tidur anakku, Lina.

“Malam ini kuhabisi kau!”