Kamis, 20 September 2012

Balasan Surat Untuk Takita: Mari Terus Bercerita

15.58 4 Comments
Dear Takita sayang...

Membaca surat Takita tentang mimpi Takita supaya setiap keluarga bercerita membuat kakak seakan kembali ke masa lalu. Mengenang masa-masa kecil kakak, dimana setiap malam ibu kakak selalu mendongeng untuk kakak.

Cerita ibu bermacam-macam kadang cerita rakyat seperti timun mas, si kancil dan buaya, dewi sri dan lain-lain. Kakak yang kini tinggal jauh dari ibu kadang mengenang masa-masa itu bersama ibu lewat telepon atau waktu kakak mudik. Ibu selalu tertawa setiap mengingat moment itu. Kata ibu jika kami belum tertidur padahal Ibu sudah ngantuk kami akan menodong. Namun karena ibu sudah mengantuk kadang ceritanya nggak nyambung. Itu cerita ibu sih, soalnya kakak juga nggak tahu kalau ternyata cerita ibu nggak nyambung hehehe.

Waktu adik kakak sudah berumur lima tahun kakak melihat ibu makin sering membaca cerita anak-anak. Entah dari majalah anak-anak atau buku cerita anak-anak. "Hmmm...mungkin dulu waktu aku kecil ibu begini juga ya, tiap aku tidur siang ibu mencari bahan untuk mendongeng malam hari", kata kakak dalam hati. Sedangkan kakak yang berjarak enam tahun dari adik kakak mulai diberikan bahan bacaan oleh ibu, kadang kakak dan ibu membaca bersama atau gantian buku dan majalah.

Kini kakak sudah memiliki seorang putra. Impian kakak hampir mirip dengan mimpi Takita, yaitu bercerita untuk anak kakak. Kakak ingin anak kakak seperti kakak dulu tiap malam mendapatkan cerita dari Ibunya. Makanya waktu usianya baru dua bulan kakak membeli buku cerita anak baik berupa cerita fantasi maupun religi. 

Alhamdulillah rupanya si kecil suka apalagi bukunya bergambar. Namun kini putra kakak yang berusia tujuh bulan sudah mulai menyobek dan memakan kertas jadi terpaksa kakak mendongen tanpa buku. Memang sih sekarang sudah banyak dijual buku-buku untuk bayi, namun mencari buku itu di tempat kakak masih agak sulit. Walaupun begitu kakak masih ingin sekali membelikan buku dari kain atau yang berbahan kertas tebal untuk putra kakak agar kakak dapat bercerita sambil memperlihatkan gambar kepadanya.

Takita kakak juga berharap bahwa setiap keluarga dapat bercerita untuk buah hatinya. Karena kakak juga menyaksikan sendiri ada beberapa orang tua yang tidak peduli untuk bercerita kepada anaknya. Padahal manfaat membaca sangat banyak, beberapa yang kakak kutip dari sini diantaranya adalah mengembangkan daya imajinasi anak, meningkatkan ketrampilan berbahasa, meningkatkan minat baca anak, membangun kecerdasan emosional anak dan membentuk rasa empati anak.

Wuih berat banget ya bahasa kakak. Mudah-mudahan Takita mengerti ya bahwa sebenarnya kita memiliki mimpi yang sama lho. Kayaknya segini aja ya surat balasan kakak, mudah-mudahan mimpi kita dapat terwujud.

Salam sayang untuk Takita


Kamis, 13 September 2012

Bagasi yang Tertinggal

12.12 1 Comments
Mudik lebaran tahun ini terasa sangat berbeda bagiku. Bagaimana tidak, di tahun-tahun sebelumnya aku mudik lebaran sendirian sedangkan kali ini aku mudik bersama suami dan anak tercintaku plus kakak beserta keluarga kecilnya dan adik iparku. Selain itu kali ini merupakan kali pertama kami menginjak bandara yang baru saja dibangun di Riau yaitu Bandara Sultan Syarif Kasim II.


Perjalanan mudik relatif lancar dan aman, karena kami 'pulang kampung' sebelum puncak arus mudik. Yang apes adalah perjalanan balik. Bukan karena macet, bukan karena mobil mogok, bukan pula karena pesawat delay apalagi tertukar kereta seperti yang dialami millati. Tetapi bagasi kami yang berjumlah 14 item (banyak banget yach...) tertinggal di Bandara Soekarno-Hatta. Lha kok bisa?

Perjalanan udara dari Jogjakarta ke Pekanbaru melewati tiga bandara yaitu Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta; Bandara Soekarno Hatta, Jakarta dan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Saat itu transit di Jakarta berlangsung begitu cepat. Kami baru masuk ruang tunggu rupanya lansung disuruh antri naik pesawat. Alhamdulillah pesawat mendarat di Bumi Lancang Kuning dengan selamat walaupun pilot menggunakan istilah yang tidak lazim "Bandara antar bangsa" (sumpah loh kirain nama bandara ganti, ternyata itu artinya bandara internasional hehe).

Antrilah suami dan kakak iparku menunggu bagasi. Sedangkan aku bersama istri kakak iparku dan anak-anak lansung meluncur keluar untuk cipika cipiki dengan ibu. Setelah lama menunggu, hingga akhirnya penumpang yang mengambil bagasi habis suami dan kakak iparku tidak muncul juga. Tiba-tiba perasaan saya tidak enak terlebih melihat mereka keluar tanpa membawa barang.

"Lho mana barangnya?" tanyaku.

"Nggak ada tinggal semua." kata suamiku lemas. Katanya barang kami akan dibawa dengan pesawat berikutnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, sedangkan pesawat berikutnya akan tiba pukul 17.26 WIB. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu karena di dalam bawaan kami ada beberapa barang yang busuk kalau menunggu besok untuk diambil.

Menit-menit terasa lama, hingga akhirnya pukul lima disaat penantian kami sudah dekat diumumkanlah kalau pesawat yang kami tunggu mengalami delay dan akan mendarat pada pukul 18.10 WIB. Kesel banget rasanya, dan sempat kepikiran masih bagus ya kalau kami kena delay pesawat daripada ketinggalan bagasi kayak gini. Kalau delay setidaknya kami masih mendapatkan dispensasi, tapi kalau ketinggalan bagasi? Yang dapat cuma nunggu.

Waktu memang terus berjalan hingga akhirnya pesawat yang kami tunggu tiba. Tapi lagi-lagi ada masalah. Jumlah bagasi kami yang seharusnya 14 item cuma ketemu 13 item. Duh bikin cemas aja tuh. Sampai akhirnya bagasi habis satu barang itu tidak ditemukan juga. Laporlah suami saya sama petugas bandara, eh rupanya sudah disimpanin sama dia. Syukurlah ketemu semua yah walaupun perjuangannya cukup panjang.

Lega akhirnya kami bisa pulang, eits tidak semudah itu....

Barang kami yang super banyak dan orang yang banyak pula tidak memungkinkan untuk dimasukkan mobil semua. Akhirnya ya sebagian berang ditaruh diatas mobil jadi penumpangnya muat masuk ke mobil. Dan dren dren.... kamipun pulang. Perkiraan sebelum maghrib sampai rumah ini malah sampai jam 22.00 WIB baru sampai rumah.

Benar-benar terkesan saya. Tidak pernah mudik dengan rombongan 8 orang dan bagasi sebanyak itu (saya biasa mudik sendiri dan seringnya tanpa bagasi), ditambah pula bagasi yang tertinggal. Semoga gak ada kawan pembaca yang bernasib sama seperti saya, karena menunggu itu melelahkan.