Kamis, 31 Mei 2012

Selimut Rajut, Hadiah untuk Kelahiran sang Buah Hati

11.27 10 Comments

Kehamilan pertama saya ini merupakan suatu anugerah yang tak terkira. Bagaimana tidak baru dua bulan kami menikah saya telah dinyatakan hamil empat minggu. Walaupun ada beberapa cobaan seperti dokter kandungan yangmenvonis janin saya tidak berkembang, jauh dari keluarga dan suami serta berkantor di lantai tiga tanpa lift semua saya maknai dengan kebahagian. Semuanya akan happy ending, begitu pikir saya.
Kehamilan saya yang pertama ini bisa dibilang cukup mudah. Saya tidak ngidam. Mual-mualpun jarang. Naik motor sendiri kemana-mana juga tidak masalah, sepertinya janin saya cukup ‘nrimo’. Belum lagi saya harus naik turun dari lantai satu ke lantai tiga minimal tiga kali sehari. Tapi janin saya tidak pernah bermasalah. Di USG di dokter perkembangannya makin bagus. Untuk itulah saya pikir calon jabang bayi saya berhak mendapatkan hadiah.
Tadinya saya ingin menghadiahi si calon jabang bayi ini dengan perlengkapan bayinya. Tapi pamali kata orang tua belanja buat bayi yang umurnya di dalam Rahim belum 7 bulan. Hmmm…jadi bingung mau kasih apa buat kecilku yang tangguh ini. Hingga akhirnya suatu hari di hari minggu terjadi pemadaman listrik. Daripada nganggur atau hanya tidur-tidur saya beres-beres kamar, rupanya saya menemukan bergelondong benang dengan beberapa proyek rajutan yang belum selesai. Aha…kenapa calon jabang bayi ini tidak saya buatkan benda-benda rajut? Pasti dia akan bangga mendapat hadiah hasil kerja tangan ibunya sendiri.
Akhirnya hari itu saya habiskan untuk membuat topi bayi, polanya saya ambil dari buku yang berjudul “Merajut Untuk Pemula” karya Thata Pang. Dan setelah lima jam berkutat dengan benang dan hakken jadilah hasil akhirnya seperti ini.

Senang sekali rasanya menyelesaikan proyek ini setelah sebelumnya ada tiga proyek saya yang terbengkalai. Namun sangat disayangkan ketika saya pindahan topi bayi ini nyelip entah kemana. Akhirnya saya putar otak lagi untuk membuat hadiah bagi kelahiran si buah hati. Banyak sekali saya searching di internet, apa iya mau bikin topi lagi? meskipun memang iya saya buat lagi dua buah topi bayi. Namun hasilnya tidak memuaskan hingga suatu hari saya menemukan pola selimut bayi yang simpel.

Rasanya semangat lagi untuk merajut. Saya belanja benang-benang baru untuk membuat selimut ini. Waktu itu kehamilan saya sudah masuk 32 minggu. Lumayan agak ngebut juga membuatnya. Dua gulung benang saya habiskan. Pola renda saya modifikasi. Akhirnya setelah hampir sebulan saya mengerjakan proyek ini jadilah selimut bayi ini sebelum calon bayinya lahir.

selimut bayi











Selimut rajut karya pertama saya ini sangatlah berkesan, kenapa? Satu akhirnya saya berhasil menyelesaikan proyek ini walaupun lama, tidak biasanya saya betah mengerjakan satu proyek berminggu-minggu. Kedua setelah anak saya lahir dia nyaman sekali mengenakan selimut ini, lihatlah di foto betapa nyenyak tidurnya berselimutkan hasil selimut rajut ibunya.
Si kecil nyenyak dengan selimutnya

Tulisan ini saya sertakan pada lomba menulis "Rajutan Paling Berkesan". 

Rabu, 30 Mei 2012

Gara-gara Sandal Jepit

10.35 8 Comments
Pengalaman ini sebenarnya cukup memalukan andai saja saat itu aku sudah menginjak remaja, tapi berhubung kejadian ini terjadi pada masa kanak-kanak aku hanya berharap mereka sudah lupa pada kejadian ini.

Lho disuruh lupa ko malah mau diceritain?

Eh iya ya...hehehe. Gimana ya...kejadian ini walaupun memalukan tapi kadang buat aku tertawa-tawa sendiri jadi siapa tahu ada yang senyum-senyum sendiri waktu baca cerita ini.

Langsung ke TKP ya....

Begini ceritanya, waktu aku masih belajar di Taman Kanak-Kanak atau yang lebih sering disebut TK aku termasuk anak yang berangkatnya siang. Siang disini maksudnya berangkat standar, bukan berangkat pagi-pagi yang belum ada bu gurunya. Maklumlah guruku di TK kan tanteku sendiri, jadi tiap pagi bapak mengantarku ke rumah tanteku itu barulah aku dibawa tanteku ke TK. Berhubung tanteku guru disitu jadi beliau berangkatnya ya pas murid-murid sudah pada datang. Zaman dulu gitu loh anak-anak sudah berani kemana-mana sendiri hihihi.

Tapi entah kenapa pagi itu bapak tidak membawaku ke rumah tante tapi malah langsung mengantarku ke TK. Aku termasuk tipe anak yang tak banyak tanya dan tak banyak cerita sehingga di motor aku diam saja. Begitu sampai di TK aku terkejut bukan main, sepi sekali. Baru ada dua anak yang bisa dibilang juniorku. Waktu itu aku sudah TK Nol Besar, sedang mereka masik TK Nol Kecil. Pintu gerbang pun masih terkunci, sehingga dua anak itu hanya menunggu di luar pagar.

Dengan penuh percaya diri aku turun dari motor. Ikut berdiri di depan pagar bersama dua juniorku itu. Mereka menatapku dengan aneh, kupikir mereka kagum padaku. Maka untuk menghilangkan rasa ge-er ku itu aku memegang tas gendongku sambil menatap ke tanah dan......

"Astaga!" jeritku, aku belum memakai SEPATU!

Rupanya aku hanya mengenakan sandal jepit merah kecilku. Kulihat bapakku sudah sampai di tikungan ujung. Sudah tak ada jaim lagi aku mengejar bapakku yang naik motor sambil berteriak

"Paaaaakkkkkk tuuuunnnggguuuuuu!!!!!"

Orang-orang sekitar melihatku. Mungkin dipikirnya ada apa-apa tapi aku cuek saja dan terus berlari. syukurlah bapak mendengarku beliau berhenti dan putar balik.

"Kenapa?"

"Lihat aku masih pakai sandal"

Anehnya muka bapak datar saja dan segera menyuruhku naik ke motor. Aku pulang lagi, gagal lagi berangkat pagi hari ini gara-gara sandal jepit.

Ibu dirumah tertawa-tawa mendengar ceritaku. Bapakpun ikut tertawa. Hanya aku yang sebal.

"Makanya kalau mau berangkat sabar dulu, Ibu belum pasang sepatu kamu sudah pergi" kata Ibu, memang sih waktu aku berangkat ibu sedang mandi jadi tidak tahu kalau aku belum bersepatu.

Akhirnya aku kembali ke sekolah. Suasana tidak lengang lagi. Pintu gerbang sudah dibuka. Dan yang jelas kali ini aku tidak memakai sandal jepit lagi!

Rabu, 16 Mei 2012

Lidah Buaya

11.45 5 Comments
Hari masih siang ketika kami, aku, suamiku, adik iparku, seorang keponakanku dan seorang teman suamiku, mengantarkan kakak iparku ke bandara. Karena itu kami menyempatkan diri untuk pergi ke mall sebentar, yah sekedar cuci mata, maklumlah rumah kami agak jauh dari ibu kota kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat.

Tibalah kami di mall yang dituju. Walaupun pergi bersama ternyata tujuan kami berbeda. Adik Iparku pergi ke toko buku, aku dan suamiku pergi ke supermarket, sedangkan si keponakan dan teman suamiku pergi ke arena bermain anak-anak. Namun kami sudah janjian bakal ketemu di salah satu kafe di lantai 3 mall tersebut.

Hampir satu jam berkeliling akhirnya kami ke kafe yang dituju, kebetulan toko buku dan arena bermain ada di lantai yang sama, maka tidak terlalu susah untuk menemukan rombongan kami. Masing-masing memesan minuman. Suamiku kopi, aku es lidah buaya, si kecil teh kemasan, teman suamiku kopi juga sementara adik iparku masih di dalam toko buku karena sedang puasa (kasihan ya...tapi gpp moga pahalanya banyak).

Rupanya tanpa kusadari si keponakan ini melihat terus ke arahaku.

"Kenapa nak? mau?" tanyaku.

"Nggak" katanya sambil menggeleng, "Itu apa tante?" sambungnya.

"Lidah Buaya" kataku sambil menikmati es lidah buaya yang manis.

"Lidah Buaya???" tanyanya lagi.

" Iya, mau?" tanyaku sambil melihat ke arahnya, entah kenapa aku merasa ekspresi anak ini agak lain dan pertanyaanku ini hanya dijawabnya dengan gelengan.

Kemudian aku melanjutkan makan es lidah buayaku sambil melirik penasaran pada si keponakan. Rupanya dia masih melihat dengan tatapan takut. Tahu kuperhatikan si keponakan ini kembali bertanya.

"Enak tante?"

"Iya enak, mau?" tanyaku menawarkan untuk ketiga kalinya

"Nggak ah" katanya makin jelas ekspresinya dia rupanya ketakutan dan penasaran. " Lidah buayanya dipotong-potong ya tante."

"Iya" jawabku singkat dan waktu menjawab itulah aku baru sadar bahwa si keponakan ini mengira bahwa lidah buaya yang kumakan adalah lidah dari hewan buaya, bukannya lidah buaya tanaman.

Akhirnya aku dan suamiku tertawa.

" Ngeri tantemu makannya lidah buaya" kata suamiku

Oalah anak kecil takut mencicip lidah buaya karena di benaknya buaya adalah hewan buas dan jahat, mungkin dalam pikirannya dia takut kalau makan lidah buaya bisa-bisa nanti dimakan buaya balik hihihi ada aja.......