Minggu, 18 November 2012

Curhat: Rindu Ingin Menulis

06.56 3 Comments
Dua malam ini begadang, nyelesein kerjaan yang numpuk minta diselesaikan di pertengahan bulan. Rasanya capeeekkkk bukan kepalang, tapi rasa itu hilang kala melihat buah hatiku tertawa riang.

Di hari libur yang kata orang-orang long weekend ini aku harus cukup puas dengan hanya bermain di rumah dan sekitarnya bersama si kecilku, lalu malamnya saat dia bobok aku harus menyelesaikan segala beban pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku. Mulai dari membersihkan dokumen yang kucacah, memeriksa dokumen untuk survei dadakan, membuat publikasi yang harus segera terbit dan mengejar target bisnisku yang udah berbulan-bulan vakum.

Begitulah hingga akhirnya beberapa rencana tulisanku belum juga terealisasi, seperti Nanowrimo yang cuma dapet sekitar 3000an kata dari 50.000 kata. Terus lomba menulis cerpen dari fabel castel gak kepegang juga, nulis untuk ikutan lomba cerpen feminapun belum. Pe-Er dari pelatihanpun belum kukerjakan. Bahkan kompetisi merajutpun terpaksa kurelakan tidak final karena kerjaan kantor yang bejibun.

Kadang iri lihat kawan yang kerjanya santai, pengen deh kayak mereka. Toh gaji yang kami terima sama.Aku harus berpayah ke lapangan, memeriksa dokumen, sedangkan beberapa rekanku terlihat duduk santai mengobrol dan bisa pulang tepat waktu. Namun aku kembali harus bersyukur dan tidak boleh mengeluh karena mengeluh adalah pekerjaan sapi yang melelahkan dan menguras energi. Daripada energiku habis untuk hal itu lebih baik untuk kerjaan? Betul kan? Lagipula kalau tidak ada kerjaan aku malah banyak membuang waktu sia-sia. Di kantor cuma duduk ngobrol atau bahkan main game. Sangat tidak bermanfaat bukan?

Kadang kesel juga sama kantor pusat. Kok baru sekarang ngasih kerjaan? Di penghujung tahun, yang kadang semua deadline ada pada timing ini. Sigghhh padahal pekerjaan di kabupaten itu amat sangat banyak seandainya mereka tahu. Apalagi pekerjaan lapangan kadang tidak segera selesai bukannya pencacah yang males tapi faktor respondennya juga yang kadang agak sulit ditemui.Tapi ujung-ujungnya pasrah juga. Tetap dikerjain karena ini amanah.

Dari amanah yang segambreng itulah akhirnya beberapa hobi dan bakat ku tidak tersalurkan. Seperti menulis. Sebenarnya blogku tidak hanya ini ada beberapa blog lain yang sudah memiliki nice sendiri-sendiri. Targetnya sih satu hari nulis di satu blog tapi gak kesampean. Blog gado-gado ini aja yang sering kutulisin karena memang blog inilah yang mewakili jati diriku. Tapinya lagi akhir-akhir ini isinya cuma yang ikut lombaaaa mulu. Karena ya itu tadi banyak beban kerjaan yang tertanggung. Padahal ni ya saya sudah punya ide untuk nulis beberapa topik mulai dari kuas make up sampai tutorial flanel, tapi kesemuanya belum terlaksana. Kalau ikut lomba menulis aku memang jarang menang, tapi biasanya setelah tulisanku jadi walaupun acakadul tiba-tiba saja spiritku jadi full. Makanya aku kadang ikut lomba menulis untuk mengcharge spirit.

Tak hanya menulis, rencana proyek rajutankupun akhirnya gak kelar-kelar. Pashmina yang udah setahun dikerjain dan mengalami bongkar pasang kini menggantung padahal bisa dibilang udah 75% jadi loh. Mudahan akhir tahun ini bisa dipamerin. Terus lagi proyek taplak yang mau diikutkan lomba juga ikut mangkrak.

Panjang lebar curhatku, kalau ditulis di dairy jadi berapa lembar ya?



Rabu, 31 Oktober 2012

Perawatan Kulit di Malam Hari Ternyata Perlu Lho

16.16 0 Comments
Sudah tahu kan citra mengeluarkan produk baru?


Yup bener banget Citra Night Whitening. Lotion khusus yang digunakan untuk merawat kulit di malam hari dan terbuat dari minyak biji anggur dan ekstrak mulberry. Produk ini sepengetahuan saya merupakan produk pertama dan satu-satunya yang digunakan untuk merawat kulit pada malam hari (setahu saya sih kalau produk perawatan kulit muka malam hari sudah banyak.)



Memangnya sepenting apa sih merawat tubuh di malam hari? Terus kenapa mesti minyak biji anggur dan ekstrak mulberry yang digunakan? 

Kamis, 20 September 2012

Balasan Surat Untuk Takita: Mari Terus Bercerita

15.58 4 Comments
Dear Takita sayang...

Membaca surat Takita tentang mimpi Takita supaya setiap keluarga bercerita membuat kakak seakan kembali ke masa lalu. Mengenang masa-masa kecil kakak, dimana setiap malam ibu kakak selalu mendongeng untuk kakak.

Cerita ibu bermacam-macam kadang cerita rakyat seperti timun mas, si kancil dan buaya, dewi sri dan lain-lain. Kakak yang kini tinggal jauh dari ibu kadang mengenang masa-masa itu bersama ibu lewat telepon atau waktu kakak mudik. Ibu selalu tertawa setiap mengingat moment itu. Kata ibu jika kami belum tertidur padahal Ibu sudah ngantuk kami akan menodong. Namun karena ibu sudah mengantuk kadang ceritanya nggak nyambung. Itu cerita ibu sih, soalnya kakak juga nggak tahu kalau ternyata cerita ibu nggak nyambung hehehe.

Waktu adik kakak sudah berumur lima tahun kakak melihat ibu makin sering membaca cerita anak-anak. Entah dari majalah anak-anak atau buku cerita anak-anak. "Hmmm...mungkin dulu waktu aku kecil ibu begini juga ya, tiap aku tidur siang ibu mencari bahan untuk mendongeng malam hari", kata kakak dalam hati. Sedangkan kakak yang berjarak enam tahun dari adik kakak mulai diberikan bahan bacaan oleh ibu, kadang kakak dan ibu membaca bersama atau gantian buku dan majalah.

Kini kakak sudah memiliki seorang putra. Impian kakak hampir mirip dengan mimpi Takita, yaitu bercerita untuk anak kakak. Kakak ingin anak kakak seperti kakak dulu tiap malam mendapatkan cerita dari Ibunya. Makanya waktu usianya baru dua bulan kakak membeli buku cerita anak baik berupa cerita fantasi maupun religi. 

Alhamdulillah rupanya si kecil suka apalagi bukunya bergambar. Namun kini putra kakak yang berusia tujuh bulan sudah mulai menyobek dan memakan kertas jadi terpaksa kakak mendongen tanpa buku. Memang sih sekarang sudah banyak dijual buku-buku untuk bayi, namun mencari buku itu di tempat kakak masih agak sulit. Walaupun begitu kakak masih ingin sekali membelikan buku dari kain atau yang berbahan kertas tebal untuk putra kakak agar kakak dapat bercerita sambil memperlihatkan gambar kepadanya.

Takita kakak juga berharap bahwa setiap keluarga dapat bercerita untuk buah hatinya. Karena kakak juga menyaksikan sendiri ada beberapa orang tua yang tidak peduli untuk bercerita kepada anaknya. Padahal manfaat membaca sangat banyak, beberapa yang kakak kutip dari sini diantaranya adalah mengembangkan daya imajinasi anak, meningkatkan ketrampilan berbahasa, meningkatkan minat baca anak, membangun kecerdasan emosional anak dan membentuk rasa empati anak.

Wuih berat banget ya bahasa kakak. Mudah-mudahan Takita mengerti ya bahwa sebenarnya kita memiliki mimpi yang sama lho. Kayaknya segini aja ya surat balasan kakak, mudah-mudahan mimpi kita dapat terwujud.

Salam sayang untuk Takita


Kamis, 13 September 2012

Bagasi yang Tertinggal

12.12 1 Comments
Mudik lebaran tahun ini terasa sangat berbeda bagiku. Bagaimana tidak, di tahun-tahun sebelumnya aku mudik lebaran sendirian sedangkan kali ini aku mudik bersama suami dan anak tercintaku plus kakak beserta keluarga kecilnya dan adik iparku. Selain itu kali ini merupakan kali pertama kami menginjak bandara yang baru saja dibangun di Riau yaitu Bandara Sultan Syarif Kasim II.


Perjalanan mudik relatif lancar dan aman, karena kami 'pulang kampung' sebelum puncak arus mudik. Yang apes adalah perjalanan balik. Bukan karena macet, bukan karena mobil mogok, bukan pula karena pesawat delay apalagi tertukar kereta seperti yang dialami millati. Tetapi bagasi kami yang berjumlah 14 item (banyak banget yach...) tertinggal di Bandara Soekarno-Hatta. Lha kok bisa?

Perjalanan udara dari Jogjakarta ke Pekanbaru melewati tiga bandara yaitu Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta; Bandara Soekarno Hatta, Jakarta dan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Saat itu transit di Jakarta berlangsung begitu cepat. Kami baru masuk ruang tunggu rupanya lansung disuruh antri naik pesawat. Alhamdulillah pesawat mendarat di Bumi Lancang Kuning dengan selamat walaupun pilot menggunakan istilah yang tidak lazim "Bandara antar bangsa" (sumpah loh kirain nama bandara ganti, ternyata itu artinya bandara internasional hehe).

Antrilah suami dan kakak iparku menunggu bagasi. Sedangkan aku bersama istri kakak iparku dan anak-anak lansung meluncur keluar untuk cipika cipiki dengan ibu. Setelah lama menunggu, hingga akhirnya penumpang yang mengambil bagasi habis suami dan kakak iparku tidak muncul juga. Tiba-tiba perasaan saya tidak enak terlebih melihat mereka keluar tanpa membawa barang.

"Lho mana barangnya?" tanyaku.

"Nggak ada tinggal semua." kata suamiku lemas. Katanya barang kami akan dibawa dengan pesawat berikutnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, sedangkan pesawat berikutnya akan tiba pukul 17.26 WIB. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu karena di dalam bawaan kami ada beberapa barang yang busuk kalau menunggu besok untuk diambil.

Menit-menit terasa lama, hingga akhirnya pukul lima disaat penantian kami sudah dekat diumumkanlah kalau pesawat yang kami tunggu mengalami delay dan akan mendarat pada pukul 18.10 WIB. Kesel banget rasanya, dan sempat kepikiran masih bagus ya kalau kami kena delay pesawat daripada ketinggalan bagasi kayak gini. Kalau delay setidaknya kami masih mendapatkan dispensasi, tapi kalau ketinggalan bagasi? Yang dapat cuma nunggu.

Waktu memang terus berjalan hingga akhirnya pesawat yang kami tunggu tiba. Tapi lagi-lagi ada masalah. Jumlah bagasi kami yang seharusnya 14 item cuma ketemu 13 item. Duh bikin cemas aja tuh. Sampai akhirnya bagasi habis satu barang itu tidak ditemukan juga. Laporlah suami saya sama petugas bandara, eh rupanya sudah disimpanin sama dia. Syukurlah ketemu semua yah walaupun perjuangannya cukup panjang.

Lega akhirnya kami bisa pulang, eits tidak semudah itu....

Barang kami yang super banyak dan orang yang banyak pula tidak memungkinkan untuk dimasukkan mobil semua. Akhirnya ya sebagian berang ditaruh diatas mobil jadi penumpangnya muat masuk ke mobil. Dan dren dren.... kamipun pulang. Perkiraan sebelum maghrib sampai rumah ini malah sampai jam 22.00 WIB baru sampai rumah.

Benar-benar terkesan saya. Tidak pernah mudik dengan rombongan 8 orang dan bagasi sebanyak itu (saya biasa mudik sendiri dan seringnya tanpa bagasi), ditambah pula bagasi yang tertinggal. Semoga gak ada kawan pembaca yang bernasib sama seperti saya, karena menunggu itu melelahkan.

Rabu, 01 Agustus 2012

Obat Nyamuk, Bukti Kasih Sayang Bapakku

11.31 3 Comments
Sore itu aku marah. Entah kenapa pokokknya lagi sensi banget sama si masku, kakakku yang nomor dua. Karena anak laki-laki satu-satunya masku itu rasanya paling disayang, paling dimanja dan kami anak perempuan selalu dinomorduakan. Seperti hari ini, ibu bikin mie rebus tapi yang disuruh ambil duluan si mas padahal aku kan juga lapar.

Akhirnya aku marah, ngambek sampe mogok makan.

Aku lari masuk kamar, NANGIS!. Ya nangis sejadi-jadinya. Melupakan semua rasa lapar yang mendera karena kecewa. Aku marah benci di nomorduakan padahal kan aku anak bungsu (kejadian ini terjadi di usiaku yang menginjak 6 tahun sebelum adikku lahir). Setahuku dimana-mana anak bungsu itu paling disayang dan dimanja. Tapi aku tidak.

Aku kembali menangis. Tak berapa lama suara ibu terdengar memanggil, menyuruhku makan.

Aku diam dalam pelukan guling. Eh salah aku diam sambil memeluk guling memunggungi ibuku yang mencoba merayuku. Percuma bu, kataku dalam hati, aku tidak akan luluh.

Aku diam tidak merespon rayuan ibuku. Beliau bilang beliau mau suapin aku, mau ambilkan makanku. Tapi aku tetap diam tak bergerak hingga akhirnya kesabaran ibuku habis. Beliau marah padaku. Akupun marah padamu bu, kataku dalam hati. Saat itu betapa puasnya aku bisa membikin ibuku marah dengan berlaku seperti itu. (nakal banget yak). Biar saja biar ibu tahu bahwa aku benar-benar marah.

Mungkin karena capek merenung dan menangis akupun tertidur. Rasa lapar yang mendera terlupakan sudah. Akupun tidak tahu jam berapa aku tertidur. Tapi yang jelas malam saat orang-orang masih terjaga (Bapak, Ibu, Mbakku yang nomor satu dan Masku) aku terbangun karena mengendus bau obat nyamuk bakar.

Pasti ni kerjaan Bapak, kataku dalam hati. Bapak memang rajin kalau menyalakan obat nyamuk, semua kamar diberi obat nyamuk, padahal aku paling anti yang namanya obat nyamuk apalagi obat nyamuk bakar. Baunya nggak tahan.

Kemudian aku turun dari tempat tidue dan mematikannya. Setelah itu aku tidur lagi.

Entah berapa lama aku tertidur. Kali ini si Mbak dan Masku sudah tidur, aku kembali mengendus asap obat nyamuk. Duh bapak ko dinyalain lagi sih, kataku dalam hati. Maka kembali aku turun dari ranjang dan mematikan obat nyamuk tersebut. Setelah itu aku kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurku. Tapi belum terlelap Bapak masuk kamar. Beliau mengecek obat nyamuk yang kumatikan tadi. Rupanya obat nyamuk tersebut beliau nyalakan lagi, kemudian beliau keluar kamar dan menonton TV. Dan kali ini obat nyamuk tersebut tidak kumatikan karena itu adalah bukti kasih sayang Bapakku yang tidak rela nyamuk menggigit anaknya.

Kini setelah menjadi seorang Ibu aku baru tahu betapa risaunya aku kala melihat bagian tubuh anakku bentol-bentol digigit nyamuk. Rasanya tidak rela melihat anakku sampai terjamah olah nyamuk. Berarti orang tuaku dulu juga kayak aku sekarang ya, makanya biar obat nyamuk sudah kumatikan dua kali tetap dinyalakan Bapak lagi karena beliau tidak rela tubuh anaknya bentol-bentol digigit nyamuk.

Terima kasih Pak, terima kasih Bu.


Jumat, 20 Juli 2012

Tutorial: ketupat Flanel versi 1

09.51 3 Comments
Ramadhan sudah tiba. Saya tiba-tiba jadi ingat makanan khas lebaran yaitu ketupat. Iseng-iseng nih bikin ketupat, tapi tidak bisa dimakan hanya dipakai sebagai hiasan saja karena ini adalah ketupat flanel. Setelah coba-coba ada 3 cara yang saya temukan untuk membuat ketupat ini. Tapi cara ketiga belum saya praktekkan.

Nah kali ini saya akan berikan tutorial untuk cara yang pertamanya.

Alat dan Bahan:
1. Gunting
2. lem UHU
3. Gantungan untuk kunci atau gantungan untuk HP atau magnet bulat kecil
4. Kain Flanel warna hijau tua dan hijau muda
5. Benang dan jarum

Langkah-langkah:
1. Gunting kain flanel warna hijau muda sebesar 6x6 cm sebanyak 2 buah, warna hijau tua sebesar 2x2 cm sebanyak 10 buah untuk membuat gantungan kunci dan gantungan HP, 5 buah untuk membuat magnet hiasan kulkas, warna hijau muda 3x2 sebanyak 2 buah gunting ujungnya seperti pita.
2. Tempelkan flanel hijau muda yang seperti pita di ujung kain flanel hijau muda ukuran 6x6 cm. Ini untuk membuat sisa janur di bagian bawah ketupat. Jahit tepi flanel warna hijau muda dengan tusuk feston. Sisakan sedikit untuk memasukkan dacron. Untuk membuat gantungan kunci atau gantungan HP pasang dulu ya tali kurnya di tempat yang diinginkan di flanel ukuran 6x6 cm
.
3. Jahit sisa flanel yang belum terjahit tadi. sehingga berbentuk seperti gambar di bawah ini
4. Tempelkan flanel warna hijau tua berselang seling diatas flanel hijau muda. Kalau digunakan untuk membuat magnet hiasan kulkas cukup depannya aja yang ditempel flanel hijau tuanya sedangkan sisi belakang ditempeli magnet bulat kecilnya.
Selamat berkarya!!!! ^_^

Kamis, 12 Juli 2012

Kalimat Terlarang

10.52 3 Comments
Suatu ketika ada jargon sebuah iklan obat sakit kepala berupa kalimat "Udah lupa tuh". Dan itu merupakan iklan yang cukup sering ditayangkan di televisi.

Aku yang saat itu masih ABG dan ingin menjadi trend center menirukan jargon tadi. Ajaib semua orang rumah suka dan aku telah dianggap membuat lelucon yang menarik. Tentu saja aku senang apalagi orang-orang sering menyuruhku mengucapkan kalimat itu persis seperti model iklannya. Semua memujiku mirip, persi kata mereka.

Hingga suatu hari, kalimat lelucon itu kugunakan disaat yang tidak tepat sehingga aku tidak dapat lagi mengucapkan kalimat tersebut.

Semua berawal dari bapakku. Orang yang pertama kali tertawa mendengarkan aku mengatakan "Sudah lupa tuh" persis seperti model iklannya. Pulang dari kantor rupanya bapakku sedang mencari sesuatu. Kemudian beliau bertanya padaku dimana barang yang beliau cari. Dengan maksud bercanda dan daripada berkata "Nggak tahu" , yang kata ibu adalah jawaban yang membosankan, maka kujawab "Sudah lupa tuh".

Memang  sih rada aneh dan nggak nyambung jawabanku itu. Tapi itulah terakhir kali aku mengucapkan kalimat tersebut. Karena bapak sedang serius mencari barangnya, marah besarlah beliau padaku.

" Ditanya orang tua malah dijawab kayak gitu. Mulai sekarang jangan gunakan lagi kalimat itu! Gak sopan!"

Aku hanya diam membisu. Mundur teratur menjauhi bapakku dan tidak lagi menggunakan kalimat terlarang itu baik di rumah dan dimanapun juga.

Rabu, 27 Juni 2012

Galeri: Seserahan Penganten

16.11 3 Comments
Nemu foto-foto lama, seserahan yang kususun sendiri berhubung waktunya mepet jadinya ya kayak gini. Tapi kalo ada yang terinspirasi duuuh seneng banget deh.

Ini sebenarnya mahar nih bukan seserahan, mukena sama sajadah wangi hihihi

kakak perempuan pertamaku yang nyusunin nih peralatan mandinya kayak parcel lebaran yach

entah sesuai dengan etika dan estetika atau gak nih sendal ditaro model begini

Kalo yang ini aku sendiri yang nyusun, padahal sebenarnya gak ada di list seserahan masalah buku, cuma emang dasarnya hantu buku akhirnya aku minta seserahan berupa buku Tafsir

Finalisasi sama si abangku yang no dua jadi kayak hiu terdampar di kasur nih

Ceritanya menghemat tempat jadi satu tempat untuk dua sepatu

supaya tidak terlalu nampak kalo ini isinya pakaian dalam maka bunganya disebar di mana-mana

kosmetik-kosmetik ini sampai sekarang masih lho

yang jadi bunga putih itu adalah bungkus tas ini, si mbak ada-ada saja idenya

kain buat nenek, di jawa namanya pesing

entah bebek entah burung, pokoknya yang penting handuk ini jadi milikku

kain kebaya plus bawahan plus selendangnya n plus kain untukku

Kamis, 31 Mei 2012

Selimut Rajut, Hadiah untuk Kelahiran sang Buah Hati

11.27 10 Comments

Kehamilan pertama saya ini merupakan suatu anugerah yang tak terkira. Bagaimana tidak baru dua bulan kami menikah saya telah dinyatakan hamil empat minggu. Walaupun ada beberapa cobaan seperti dokter kandungan yangmenvonis janin saya tidak berkembang, jauh dari keluarga dan suami serta berkantor di lantai tiga tanpa lift semua saya maknai dengan kebahagian. Semuanya akan happy ending, begitu pikir saya.
Kehamilan saya yang pertama ini bisa dibilang cukup mudah. Saya tidak ngidam. Mual-mualpun jarang. Naik motor sendiri kemana-mana juga tidak masalah, sepertinya janin saya cukup ‘nrimo’. Belum lagi saya harus naik turun dari lantai satu ke lantai tiga minimal tiga kali sehari. Tapi janin saya tidak pernah bermasalah. Di USG di dokter perkembangannya makin bagus. Untuk itulah saya pikir calon jabang bayi saya berhak mendapatkan hadiah.
Tadinya saya ingin menghadiahi si calon jabang bayi ini dengan perlengkapan bayinya. Tapi pamali kata orang tua belanja buat bayi yang umurnya di dalam Rahim belum 7 bulan. Hmmm…jadi bingung mau kasih apa buat kecilku yang tangguh ini. Hingga akhirnya suatu hari di hari minggu terjadi pemadaman listrik. Daripada nganggur atau hanya tidur-tidur saya beres-beres kamar, rupanya saya menemukan bergelondong benang dengan beberapa proyek rajutan yang belum selesai. Aha…kenapa calon jabang bayi ini tidak saya buatkan benda-benda rajut? Pasti dia akan bangga mendapat hadiah hasil kerja tangan ibunya sendiri.
Akhirnya hari itu saya habiskan untuk membuat topi bayi, polanya saya ambil dari buku yang berjudul “Merajut Untuk Pemula” karya Thata Pang. Dan setelah lima jam berkutat dengan benang dan hakken jadilah hasil akhirnya seperti ini.

Senang sekali rasanya menyelesaikan proyek ini setelah sebelumnya ada tiga proyek saya yang terbengkalai. Namun sangat disayangkan ketika saya pindahan topi bayi ini nyelip entah kemana. Akhirnya saya putar otak lagi untuk membuat hadiah bagi kelahiran si buah hati. Banyak sekali saya searching di internet, apa iya mau bikin topi lagi? meskipun memang iya saya buat lagi dua buah topi bayi. Namun hasilnya tidak memuaskan hingga suatu hari saya menemukan pola selimut bayi yang simpel.

Rasanya semangat lagi untuk merajut. Saya belanja benang-benang baru untuk membuat selimut ini. Waktu itu kehamilan saya sudah masuk 32 minggu. Lumayan agak ngebut juga membuatnya. Dua gulung benang saya habiskan. Pola renda saya modifikasi. Akhirnya setelah hampir sebulan saya mengerjakan proyek ini jadilah selimut bayi ini sebelum calon bayinya lahir.

selimut bayi











Selimut rajut karya pertama saya ini sangatlah berkesan, kenapa? Satu akhirnya saya berhasil menyelesaikan proyek ini walaupun lama, tidak biasanya saya betah mengerjakan satu proyek berminggu-minggu. Kedua setelah anak saya lahir dia nyaman sekali mengenakan selimut ini, lihatlah di foto betapa nyenyak tidurnya berselimutkan hasil selimut rajut ibunya.
Si kecil nyenyak dengan selimutnya

Tulisan ini saya sertakan pada lomba menulis "Rajutan Paling Berkesan". 

Rabu, 30 Mei 2012

Gara-gara Sandal Jepit

10.35 8 Comments
Pengalaman ini sebenarnya cukup memalukan andai saja saat itu aku sudah menginjak remaja, tapi berhubung kejadian ini terjadi pada masa kanak-kanak aku hanya berharap mereka sudah lupa pada kejadian ini.

Lho disuruh lupa ko malah mau diceritain?

Eh iya ya...hehehe. Gimana ya...kejadian ini walaupun memalukan tapi kadang buat aku tertawa-tawa sendiri jadi siapa tahu ada yang senyum-senyum sendiri waktu baca cerita ini.

Langsung ke TKP ya....

Begini ceritanya, waktu aku masih belajar di Taman Kanak-Kanak atau yang lebih sering disebut TK aku termasuk anak yang berangkatnya siang. Siang disini maksudnya berangkat standar, bukan berangkat pagi-pagi yang belum ada bu gurunya. Maklumlah guruku di TK kan tanteku sendiri, jadi tiap pagi bapak mengantarku ke rumah tanteku itu barulah aku dibawa tanteku ke TK. Berhubung tanteku guru disitu jadi beliau berangkatnya ya pas murid-murid sudah pada datang. Zaman dulu gitu loh anak-anak sudah berani kemana-mana sendiri hihihi.

Tapi entah kenapa pagi itu bapak tidak membawaku ke rumah tante tapi malah langsung mengantarku ke TK. Aku termasuk tipe anak yang tak banyak tanya dan tak banyak cerita sehingga di motor aku diam saja. Begitu sampai di TK aku terkejut bukan main, sepi sekali. Baru ada dua anak yang bisa dibilang juniorku. Waktu itu aku sudah TK Nol Besar, sedang mereka masik TK Nol Kecil. Pintu gerbang pun masih terkunci, sehingga dua anak itu hanya menunggu di luar pagar.

Dengan penuh percaya diri aku turun dari motor. Ikut berdiri di depan pagar bersama dua juniorku itu. Mereka menatapku dengan aneh, kupikir mereka kagum padaku. Maka untuk menghilangkan rasa ge-er ku itu aku memegang tas gendongku sambil menatap ke tanah dan......

"Astaga!" jeritku, aku belum memakai SEPATU!

Rupanya aku hanya mengenakan sandal jepit merah kecilku. Kulihat bapakku sudah sampai di tikungan ujung. Sudah tak ada jaim lagi aku mengejar bapakku yang naik motor sambil berteriak

"Paaaaakkkkkk tuuuunnnggguuuuuu!!!!!"

Orang-orang sekitar melihatku. Mungkin dipikirnya ada apa-apa tapi aku cuek saja dan terus berlari. syukurlah bapak mendengarku beliau berhenti dan putar balik.

"Kenapa?"

"Lihat aku masih pakai sandal"

Anehnya muka bapak datar saja dan segera menyuruhku naik ke motor. Aku pulang lagi, gagal lagi berangkat pagi hari ini gara-gara sandal jepit.

Ibu dirumah tertawa-tawa mendengar ceritaku. Bapakpun ikut tertawa. Hanya aku yang sebal.

"Makanya kalau mau berangkat sabar dulu, Ibu belum pasang sepatu kamu sudah pergi" kata Ibu, memang sih waktu aku berangkat ibu sedang mandi jadi tidak tahu kalau aku belum bersepatu.

Akhirnya aku kembali ke sekolah. Suasana tidak lengang lagi. Pintu gerbang sudah dibuka. Dan yang jelas kali ini aku tidak memakai sandal jepit lagi!

Rabu, 16 Mei 2012

Lidah Buaya

11.45 5 Comments
Hari masih siang ketika kami, aku, suamiku, adik iparku, seorang keponakanku dan seorang teman suamiku, mengantarkan kakak iparku ke bandara. Karena itu kami menyempatkan diri untuk pergi ke mall sebentar, yah sekedar cuci mata, maklumlah rumah kami agak jauh dari ibu kota kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat.

Tibalah kami di mall yang dituju. Walaupun pergi bersama ternyata tujuan kami berbeda. Adik Iparku pergi ke toko buku, aku dan suamiku pergi ke supermarket, sedangkan si keponakan dan teman suamiku pergi ke arena bermain anak-anak. Namun kami sudah janjian bakal ketemu di salah satu kafe di lantai 3 mall tersebut.

Hampir satu jam berkeliling akhirnya kami ke kafe yang dituju, kebetulan toko buku dan arena bermain ada di lantai yang sama, maka tidak terlalu susah untuk menemukan rombongan kami. Masing-masing memesan minuman. Suamiku kopi, aku es lidah buaya, si kecil teh kemasan, teman suamiku kopi juga sementara adik iparku masih di dalam toko buku karena sedang puasa (kasihan ya...tapi gpp moga pahalanya banyak).

Rupanya tanpa kusadari si keponakan ini melihat terus ke arahaku.

"Kenapa nak? mau?" tanyaku.

"Nggak" katanya sambil menggeleng, "Itu apa tante?" sambungnya.

"Lidah Buaya" kataku sambil menikmati es lidah buaya yang manis.

"Lidah Buaya???" tanyanya lagi.

" Iya, mau?" tanyaku sambil melihat ke arahnya, entah kenapa aku merasa ekspresi anak ini agak lain dan pertanyaanku ini hanya dijawabnya dengan gelengan.

Kemudian aku melanjutkan makan es lidah buayaku sambil melirik penasaran pada si keponakan. Rupanya dia masih melihat dengan tatapan takut. Tahu kuperhatikan si keponakan ini kembali bertanya.

"Enak tante?"

"Iya enak, mau?" tanyaku menawarkan untuk ketiga kalinya

"Nggak ah" katanya makin jelas ekspresinya dia rupanya ketakutan dan penasaran. " Lidah buayanya dipotong-potong ya tante."

"Iya" jawabku singkat dan waktu menjawab itulah aku baru sadar bahwa si keponakan ini mengira bahwa lidah buaya yang kumakan adalah lidah dari hewan buaya, bukannya lidah buaya tanaman.

Akhirnya aku dan suamiku tertawa.

" Ngeri tantemu makannya lidah buaya" kata suamiku

Oalah anak kecil takut mencicip lidah buaya karena di benaknya buaya adalah hewan buas dan jahat, mungkin dalam pikirannya dia takut kalau makan lidah buaya bisa-bisa nanti dimakan buaya balik hihihi ada aja.......



Senin, 02 April 2012

Cuti di Iklan Mi

10.10 4 Comments
Ini hanyalah postingan iseng saya saja. Kebetulan ko pas lihat iklan sebuah produk mi di TV sepertinya ada yang janggal, maka dari itu saya tulis postingan ini.

Teman tentunya tahu kan iklan mi yang modelnya si pendendang alamat palsu alias ayu ting-ting. Masih ingat kan dialognya sebelum si Ayu keluar. Dialog antara bos (nampaknya sih PNS) dan bawahannya yang kira-kira begini

" Kamu mau cuti berapa hari " kata si Bos

"Dua" kata si bawahan

"Satu!!!" kata si Bos

"Dua" kata si bawahan

"Sa...." belum selesai si bos ngomong nongollah si Ayu Ting Ting.

OK stop adegan disitu dulu karena disitulah kejanggalan dimulai. Waktu kerja dulu (sekarang juga masih sih) kalau cuti itu minimal tiga hari. Maka supaya tidak dibilang omdo alias omong doang berikut disertakan bukti berupa PP no 24 tahun 1976.

Dalam PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis cuti ada 6 macam yaitu cuti tahunan, cuti besar, cuti sakit, cuti bersalin, cuti karena alasan penting, dan cuti diluar tanggungan negara. Kemudian pada pasal 4 ayat 3 disebutkan bahwa "Cuti tahunan tidak dapat dipecah-pecah hingga jangka waktu kurang dari 3 (tiga) hari kerja".

Lho tapi itu kan cuti tahunan? emang si bawahan mau cuti tahunan? Tahu darimana?

Heheh OK OK sabar sabar ini kan yang protes gue ko malah pada jadi sewot yah hahaha. OK lah misalnya si bawahan gak ambil cuti tahunan misal cuti besar, mari kita tengok lagi berapa lama cuti besar itu. Nah di pasal 9 ayat 1 disebutkan bahwa "Pegawai NegeriSipil yang telah bekerjasekurang-kurangnya 6 (enam) tahun secara terus-menerus berhak atas cuti besaryang lamanya 3 (tiga) bulan." Makin gak mungkin kan?

Beralih ke cuti sakit atau bersalin lebih gak mungkin lagi, mukanya seger buger gitu masak sakit. Bersalin? sejak kapan laki-laki bersalin? cuti alasan penting atau diluar tanggungan negara juga tidak mungkin hanya satu atau dua hari. Maka dari itulah tak ada cuti lagi selain cuti tahunan.

Rasanya ko jadi serius dan panjang lebar ya padahal cuma mau bilang hal yang sederhana, cuti itu minimal 3 hari jadi mungkin iklan mi ini bisa diganti dialognya dengan mengganti kata cuti jadi izin jadi kira-kira dialognya jadi seperti ini

"Kamu mau izin berapa hari?"

Hihihi sorry nih lagi iseng.

Kamis, 29 Maret 2012

Buku Tabungan

10.35 6 Comments
Waktu masih duduk di bangku TK tiap pulang sekolah aku selalu ke rumah nenek maklumlah ibu dan bapak masih kerja jadi sambil menunggu kedua orang tuaku pulang aku dititip di rumah nenek. Kebetulan rumah nenek tidak begitu jauh dari rumah. Bahkan tak jarang aku di rumah nenek sampai sore karena tante-tanteku pun menemaniku bermain. Dan kebetulannya lagi salah satu tanteku mengajar di TK tempat aku sekolah jadi enaklah bapak ibuku tak perlu risau menjemputku.

Di sekolah kami dilatih untuk menabung. Kami diberi sebuah buku tabungan untuk mencatat jumlah tabungan kami. Setelah searching di Google akhirnya kutemukan gambar buku tabungannya  dan kira-kira seperti ini wujudnya

Kira-kira ada yang pernah dikasih buku ini? hehe. Nah ceritanya hari itu entah apa sebab musababnya buku tabunganku itu rusak. Isinya lepas dari sampulnya. Mungkin kalau saat itu aku sudah ABG mungkin sudah kenal istilah yang namanya "BETE" kali ya... Tapi berhubung masih TK dan belum gaul maka aku cuma merengek-rengek ke nenek mengeluh bahwa buku tabunganku itu rusak. Nenek tampaknya cukup serius menanggapi rengekanku, buktinya nenek berkata padaku bahwa beliau bisa memperbaiki.

Senang! Tentu saja aku akan segera mellihat buku tabunganku kembali seperti sedia kala. Tapi ternyata tidak sesuai harapanku bukuku tidak akan kembali seperti sedia kala karena nenek akan membetulkannya dengan menjahit. Oh Tidaaaakkk!! " Aku tidak mau Nek" rengekku ketika tahu nenek akan menjahit buku tabunganku.

" Tidak apa-apa nanti buku tabunganmu akan bagus lagi" rayu nenek.

"Tidak mau nanti bukuku jadi beda sama punya teman-teman" rengekku

Akhirnya nenek mengalah, beliau mengurungkan niatnya menjahit bukuku. Lega hatiku nanti saja di rumah biar diperbaiki sama bapak atau ibu kataku dalam hati.

Beberapa tahun kemudian tepatnya kelas 3 SD aku mempunyai hobi baru. Buku tulis kepunyaan kakak-kakakku yang sudah tidak terpakai kubongkar. Kuambil isi buku yang masih kosong kemudian kujadikan sebuah buku. Tapi ternyata men-stapler buku kecil pun aku tidak bisa dan tiba-tiba ingat kejadian di atas. Maka buku buatanku itu kujahit, sayang buku itu sudah hilang hihihi jadi tidak sempat pamer disini. Tapi satu hal yang terus teringat nenek ternyata telah menginspirasiku.