Rabu, 13 Juli 2011

Hawa Kematian (3)

10.54 2 Comments
May masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa rumah Satria ramai dengan orang-orang yang tak ia kenal. Akhirnya karena penasaran May turun ke bawah.
May hampir sampai pintu depan ketika telepon tiba-tiba berbunyi.
" Halo"
" May ini Taufik" kata suara dari seberang yang ternyata adalah Taufik, sahabat May.
" Ya Fik ada apa?"
" May Satria...Satria May..."
May makin penasaran dengan hal yang terjadi pada Satria, May mendadak khawatir dan tiba-tiba teringat dengan mimpi-mimpinya selama ini.
" May Satria meninggal semalam kecelakaan"
Bagai disambar petir May diam mematung sementara air matanya meleleh.
" May, kamu kenapa nak?" Mama May yang baru saja pulang terkejut mendapati putri semata wayangnya mematung dengan lelehan air mata.
May tidak memikirkan hal lain selain menyesali tindakannya, andai kemarin dia tidak membiarkan Satria pergi mungkin hal ini tidak akan terjadi

Selasa, 12 Juli 2011

Hawa Kematain (2)

10.34 1 Comments
May malu-malu mengintip dari jendela ruang tamunya. Satria tetangga baru itu begiu menggoda hatinya, mulai dari sikap hingga wajah mendapat nilai sembilan di mata May.
“ Bersihin mobil Kak?” sapa May memberanikan diri keluar rumah.
“ Eh May, iya nih buat malming.”
“ Oh…” Cuma itu kata yang keluar dari May, sedikit kecewa akhirnya May memutuskan untuk kembali masuk ke rumah, tapi baru selangkah… “ May tunggu…” seru Satria.
Satria masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian ia keluar lagi.
“Ini…buat kamu.” Agak ragu May menerimanya, CD artis favoritnya yang belum sempat terbeli olehnya, kini sudah ditangannya dan itu dari Satria.
“ Kamu bilang kamu lagi nyari CD ini kan?” kata Satria.
“ Tapi Kak..”
“ Udah gak usah sungkan….Ya sudah kakak mandi dulu ya…”
“Eh iya… makasih banyak Kak.”
*** 
May senyum-senyum sendiri menerima hadiah kecil dari Satria. Ia putar CD itu berulang-ulang dari siang tadi hingga sore. Klakson berbunyi megagetkan May. May berlari ke balkon, dari sana ia melihat Satri melambai padanya.
“ Mau malming!” teriak Satria.
May hanya membalas dengan dua jempol.
Malam ini May sendiri saja di rumah, orangtuanya pergi ke rumah Nenek yang sedang punya hajatan. Sampai jam dua belas malam May tak bisa tidur. Bukan, bukan mimpi buruk yang ia takutkan. Tapi bayangan-bayangan buruk dalam mimpinya kini tampak tersamar di pelupuk matanya. May gelisah. Jam setengah satu malam May tak bergerak meski matanya tak terpejam. Badannya kaku selama semenit tanpa diketahui sebab yang jelas. Setelah itu May tertidur.
*** 
“ Berisik” gumam May yang masih belum sepenuhnya terbangun. Tidurnya malam ini begitu nyenyak tak seperti malam-maam sebelumnya. Tapi tidurnya sedikit terganggu karena suara berisik di seberang rumah. May setengah mengantuk berjalan ke arah balkon, ingin mengintip keributan yang terjadi dan juga mengintip Satria. Tapi alangkah terkejutnya May ternyata suara orang-orang itu berasal dari rumah Satria. Rumah Satria dipenuhi orang. Apa gerangan yang terjadi? Batin May (bersambung)

Hawa Kematian (1)

10.29 0 Comments
May melihatnya. Melihat bagaimana nyawa manusia itu diambil secara paksa, tapi May hanya bisa melihat tanpa bisa melakukan apapun. May berteriak histeris tapi teriakannya hanya menjadi teriakan kosong.
***
May terbangun dari mimpinya. Mimpi yang sama selama tiga hari berturut-turut. Bukan hanya itu tiga hari ini May terlihat murung dan terkadang meneteskan air mata tanpa suatu sebab yang jelas.
May jadi gelisah, karena ini ketiga kalinya ia mengalami mimpi buruk. May tahu itulah tandanya. Tanda-tanda hawa kematian, orang dekat atau orang sekitarnya sebentar lagi akan ada yang mati. Tapi nyawa siapa kali ini?